Hari Ibu

Tanggal 22 Desember dipastikan banyak orang berkomentar seputar Hari Ibu. Mungkin menulis esai, menulis di blog, atau sekedar ‘berceloteh’ tentang itu pada status di dinding facebook.
Bagiku yang tidak pandai merangkai kata menjadi jalinan kalimat yang memuji kaum ibu, hanya dapat merenung tentang apa yang telah saya perbuat untuk ibu saya.

Mamak, demikian saya memanggil beliau karena saya berbahasa Jawa ‘ngapak’, adalah sosok yang LUAR BIASA. Keluarbiasaan beliau bukan dari tingginya pendidikan yang hanya kelas 3 sekolah dasar. Juga bukan dari kekayaannya yang hanya sebagai pedagang sayur mentah di pasar pagi. Keluarbiasaan beliau pada semangatnya memberikan pendidikan untuk putra putrinya.
Jika beliau hanya ‘tamat’ kelas 3 dan mampu menyekolahkan sampai jenjang es em a (saya sendiri disekolahkan sampai jenjang diploma dua dan salah satu adik saya disekolahkan sampai jenjang sarjana), berapa tingkat lebih tinggikah itu? Mampukah kami melakukan hal yang sama?
Kami memang tidak diberi ‘materi’ layaknya anak-anak tetangga. Tetapi yang Mamak berikan lebih berharga dari harta apapun.

Mamakku, terima kasih.
Maafkan kami putra putrimu. Kami belum bisa dan pasti tak kan pernah bisa memberikan sesuatu sebagai balasan. Untuk mencium tangan dan pipimu saja tidak bisa kami lakukan setiap hari raya, atau pada hari ibu pada tahun ini. Sembah sujud kami pun hanya mampu kami lakukan dari kejauhan.

Mamakku, terima kasih.
Hanya terima kasih yang bisa kami haturkan. Semoga Tuhan selalu memberikan kasih-Nya kepadamu. Menempatkanmu dalam surga-Nya.

 

Salam kami,
anak dan cucu-cucumu

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Hari Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *