Kok, begitu, ya?

Hari Selasa, 29 Juni 2010, kami kedatangan tamu.
Sebelum berbicang banyak, beliau saya persilahkan mengisi buku tamu.
Setelah saya baca ternyata beliau seorang wartawan. Selain kami ketahui dari isian di buku tamu, juga dari ID Card yang tergantung di saku kirinya menunjukkan memang benar seorang insan pers. Beliau pun memberikan satu eksemplar koran dan dalam box redaksi, namanya ada, dengan demikian beliau resmi wartawan koran tersebut.
Selain silaturahmi, beliau juga ‘mengeluh’ bahwa ada seorang rekan yang beritanya di”angkat” tetapi tidak mau membayar.
Lantas saya bertanya,”Memang benar, Pak, kalau kita diberitakan kita membayar?”
“Ya!” jawabnya.
“Kalau boleh tahu, berapa Pak?” tanya saya lagi.
“Tergantung lebar kolomnya?” jawabnya pula.
“Kami pernah merilis berita ke sebuah harian lokal, tetapi kami tidak membayar, Pak. Kami hanya membeli koran jika berita kami terbit. Dan itu tidak banyak,” saya mencoba berargumen.
“Tidak, kalau berita itu berupa kasus, tidak membayar. Tapi kalau berita itu “ngangkat” sama dengan iklan. Jadi harus membayar dan itu resmi,” jawabnya sambil menunjukkan kuitansi bukti pembayaran.
“Kita kan koran nasional. Skupnya seluruh Indonesia,” tukasnya.
“OK, pak. Terima kasih penjelasannya.”
Tidak berapa lama beliau pun undur diri.
Di dalam ruangan itu tidak hanya saya. Ada kawan sekerja, juga wali murid yang sempat ikut mendengarkan percakapan kami.
Kami pun berbincang-bincang. Di antara kami ada yang berkata,”Kok, begitu, ya?”

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *