Mendengar Aktif

Ketika duduk di bangku D2 PGSD dulu, dosen mata pelajaran Psikologi Pendidikan, pernah mengajarkan konsep tentang mendengar aktif. Mendengar, namun bukan mendengar biasa melainkan mendengar aktif atau active listening.

Mendengar (mendengar biasa) adalah menyimak informasi yang disampaikan secara lisan. Proses mendengar berarti juga menerima impuls melalui alat indra pendengaran yaitu telinga. Berbeda halnya dengan mendengar aktif atau active listening. Kegiatan  itu menuntut benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan oleh lawan bicara ketika komunikasi terjadi. Dengan demikian, mendengar aktif adalah mendengar dengan itensitas empati, penerimaan, dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Oleh karena itu, dalam proses mendengar aktif diperlukan totalitas diri yang kita berikan kepada kawan bicara. Totalitas yang dimaksud adalah persembahan fisik, perasaan, dan perhatian kepada kawan bicara, siapa pun dia. Mungkin suami/istri, sahabat, teman, anak, atau  murid-murid kita.

Bagaimana proses mendengar aktif dan apa manfaat mendengar aktif?

Beberapa tips dan petunjuk cara mendengar aktif sebagai berikut:

Apa Manfaat Mendengar Aktif? 

Teknik mendengar aktif membuat kawan bicara merasa lebih diperhatikan. Dengan demikian informasi yang diberikan bisa makin lengkap karena tidak merasa disepelekan. Bagi pendengar, teknik mendengar aktif dapat memusatkan diri pada kata kunci pesan yang disampaikan, bertanya untuk klarifikasi dan menjelaskan pernyataan yang meningkatkan pemahaman pada pendengar dan orang yang berbicara.
Pada situasi tertentu, pendengar dapat menggali lebih dalam informasi yang diberikan. Pengalaman penulis, kawan bicara yang tadinya agak tertutup dan merasa sungkan, pada akhirnya tanpa ragu menceritakan atau menjawab pertanyaan yang tak mungkin dijawab jika kita bertanya biasa.

Teknik Mendengar Aktif

  • Tunjukkan Anda sedang mendengarkan. Usahakan untuk menatap mata lawan bicara dan mendekatkan diri.
  • Tunjukkan rasa tertarik dan bersungguh-sungguh dalam mendengarkan. Gunakan isyarat verbal dan non-verbal untuk menunjukkan perhatian pada orang yang berbicara dan apa yang disampaikan.
  • Berkonsentrasi. Jika perlu, berhentilah sejenak dari apa yang sedang Anda lakukan ketika anak (kawan bicara) mulai bicara.
  • Dengar, lihat, rasakan. Gunakan seluruh indera Anda untuk memahami, tak hanya menggunakan telinga. Selain mendengar apa yang ia ucapkan, perhatikan pula gerak-geriknya. Terkadang baunya juga memberitahu Anda, apa yang terjadi sesungguhnya.
  • Hindari selingan. Hindari melakukan dua atau lebih kegiatan dalam satu waktu. Buat orang yang berbicara merasa dirinya orang yang paling penting di dunia.
  • Sesekali ulangi bagian tertentu dari perkataannya untuk menunjukkan Anda tertarik. Lakukan dengan tulus. Misalnya ketika anak bilang, “Tadi di sekolah aku gambar pohon kelapa tinggi banget, kayaknya pohon kelapaku yang paling tinggi dibanding teman-teman,” Anda bisa katakan, “Oh ya, pohon kelapamu yang paling tinggi?”
  • Bertanya. Jangan lupa bertanya apa yang kurang jelas, atau setidaknya perlihatkan bahwa ceritanya menarik. Misalnya, “Memang gambar pohon kelapamu seperti apa?”
  • Katakan dengan bahasa Anda. Setelah ia selesai bercerita, Anda bisa mengulang ceritanya dengan lebih singkat, dengan kata-kata yang agak berbeda. Misalnya, “Sepertinya tadi kamu senang sekali menggambar pohon kelapa di sekolah. Nggak heran, pohon kelapamu paling tinggi, sih.”

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

One thought on “Mendengar Aktif

  • 10/03/2021 at 20:52
    Permalink

    Wah perlu keterampilan khusus ternyata yah, untuk melakukan pendekatan supaya anak bisa bersikap terbuka. Makasih ilmunya Pak D..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *