Ada artikel bagus, tulisan Komang Prasada. Yuk, kita simak!

Guru, Mengajar dan Mendidik Sesuai Zaman

Zaman Bapak Saya 
Saya masih ingat cerita almarhum bapak saat menceritakan bagaimana gurunya mengajar di depan kelas. Menurutnya semua guru tidak ada yang tidak menguasai ilmu yang diajarkan kepada murid-muridnya. Sehingga tidak ada murid yang keluar kelas tanpa mengerti apa yang telah diajarkan. Saya juga terkesan dengan cerita beliau bagaimana para murid hormat dan takut kepada guru-guru karena mereka selain mengajar dan mendidik juga mencontohkan hidup yang baik dan benar. Satunya kata dan perbuatan selalu ditekankan oleh para guru dan murid mengikuti panutan mereka karena yakin dengan mengikuti itu hidup mereka akan menjadi lebih baik. Guru dihormati dengan baik, di sekolah juga di lingkungannya. Segala perbuatan guru walaupun keras, tak pernah ada yang berani memprotes karena telah dipercaya bahwa itu adalah demi kebaikan. Guru pada umumnya tidak hidup dalam kemewahan. Mereka rela hidup sederhana, penuh perjuangan dan pengabdian demi mencerdaskan anak bangsa. Saking kagum dan hormatnya bapak pada gurunya, dia lalu berniat menjadi guru untuk menyebarkan ilmu yang akan berkembang dan tak pernah akan berhenti menyebar itu. Sayang karena tak ada biaya bapak gagal melanjutkan cita-citanya dan akhirnya memutuskan jadi tentara.

Zaman Saya Sekolah 
Saya juga masih ingat bagaimana saya bersekolah. Dari mulai SD, SMP dan SMA saya masih mengalami KDSK (Kekerasan Dalam Sekolah Kita) lebay…. Di SD guru saya selalu membawa penggaris panjang saat mengajar dan dia gunakan saat bertanya kepada murid dengan memukulkan ke punggung murid. Pertanyaan dia lontarkan, saat murid tak bisa menjawab dia mulai memukul dengan pelan dan jika tidak bisa juga menjawab makin lama pukulannya makin kencang. Saat pukulan tambah kencang pak guru akan bertanya kepada murid yang lain siapa yang bisa membantu temannya ini. Jika ada yang bisa menjawab maka selamatlah anak yang dipukul karena tidak akan dipukul terus, tetapi jika tidak ada yang menjawab pak guru akan pindah kepada anak lain untuk mengulang pertanyaan dan perbuatannya. Karena penggaris itulah saya selalu belajar lebih keras dan giat agar luput dari pukulan punggung ini. Hasilnya? Saya selalu tiga besar dari mulai kelas 4 hingga lulus SD. Saat masuk SMP lebih seru lagi karena sebagian besar guru saya dari Sumatera Utara dan cara mengajarnya cukup membuat murid jantungan. Guru Fisika mengajar dengan membawa penghapus. Jika dia menerangkan pelajaran dan ada murid yang asyik ngobrol maka dia akan panggil nama murid itu. Setelah murid menoleh dia akan lemparkan penghapus tepat ke kepala. Jika tidak keburu mengelak maka sudah pasti penghapus akan mendarat dengan nyaman di kepala dan menimbulkan rasa nyut-nyut sampai bel berbunyi. Saat SMA, juga tidak luput dari KDSK. Ada guru yang bertanya sambil mendekati murid. Jika tidak bisa maka dia akan mencubit dada dengan cubitan kecil dan akan ditarik ke atas hingga murid akan mengkikuti hingga berdiri. Tidak sedikit korban yang menderita dada biru akibat cubitan ini. Namun karena itu akibat kebodohan murid, maka kami menerima dan akan menjadikan bahan ledekan bagi teman-temannya dengan sebutan cubitan cinta. Dari semua kekerasan yang terjadi, saya belum pernah mendengar ada anak yang tidak terima lalu melapor ke orang tuanya lalu orang tuanya datang ke sekolah marah-marah atau lapor ke polisi. Pada zaman itu semua dianggap wajar dan dikira termasuk dalam bagian meningkatkan kecerdasan murid sehingga orang tua malah senang jika anaknya dihukum oleh guru karena kedepannya murid akan lebih rajin dalam belajar. Pada masa saya sekolah, sebagian besar guru juga menguasai apa yang mereka ajarkan. Jarang ada guru yang mengajar sambil menunduk melihat buku atau catatan yang dia buat malam sebelumnya. Mereka bertutur dengan lancar dan semua pertanyaan murid dijawab dengan baik. Saya tidak tahu apakah mereka memiliki sertifikat mengajar atau menguasai kompetensi mengajar yang diwajibkan, tetapi mereka benar-benar menguasai ilmu yang diajarkan. Kehidupan guru pada masa saya sekolah juga masih sederhana walau ada beberapa yang membawa kendaraan itu karena istrinya bekerja di tempat lain sehingga mampu membeli kendaraan. Tidak ada guru yang berbisnis, mereka fokus dengan mengajar, mungkin paling banyak tiga sekolah.

Zaman Anak Saya 
Pada masa ini saya melihat guru bukan suatu profesi yang begitu dihormati. Baik bagi anak didik maupun bagi guru itu sendiri. Saya berfikir mungkin karena zaman sudah begitu maju dibandingkan dengan zaman saya. Anak-anak melihat guru bukan sebagai sosok kharismatik yang sarat akan ilmu karena mereka berfikir guru mereka masih kalah ilmu dengan Mbah Google. Mereka tinggal buka laptop dan klik sana klik sini dapatlah ilmu yang mereka inginkan. Guru juga bukan dilihat sebagai orang yang harus ditiru teladannnya karena di depan kelas berbicara apa tetapi tingkah lakunya berbuat apa. Tentu saja tidak semua guru seperti ini. Masih banyak guru yang terus berjuang demi mencerdaskan anak didiknya walaupun hidup seadanya. Memang tidak mudah mengajar dan mendidik pada sekarang ini karena semua ilmu tersebar begitu mudah di internet. Jika tidak hati-hati di depan kelas, bisa-bisa anak didik mentertawakan guru karena ilmu yang mereka telah dapat berbeda dengan yang diajarkan dan itu bisa membuat guru tampak tidak berdaya. Apalagi jika ditambah ketidakmampuan guru yang memang bukan dari lulusan guru atau bahkan mengajar mata pelajaran yang bukan bidangnya hanya karena terpaksa mengambil mata pelajaran itu. Saat ini guru harus benar-benar cerdas dalam menguasai ilmu dan menyampaikannya ke anak didik agar selain bisa diterima juga bisa mengesankan mereka sehingga jika guru tidak ada anak didik akan merasa kehilangan, bukan hanya karena ilmunya saja tetapi karena cara mengajar dan mendidiknya yang mengena di hati mereka. Zaman telah berubah, dari mulai zaman guru penguasa ilmu, menjadi zaman guru pembawa ilmu lalu berubah lagi menjadi guru sahabat ilmu (ini hanya bahasa saya saja). Guru yang bertahan haruslah guru yang sudah menentukan jalan takdirnya untuk terus meningkatkan kecerdasan anak didiknya agar mampu lebih bersaing dalam hidup global, sehingga nantinya guru akan selalu bangga jika melihat mantan anak didiknya menjadi orang besar, sukses dan berjalan dalam rel kebenaran. Guru yang memilih jalan nafkahnya haruslah guru yang total dalam pekerjaannya sebagai profesi yang dibanggakannya bukan profesi yang melemahkan wibawanya karena masih disambi dengan pekerjaan lain untuk memenuhi keutuhan dasar hidup sebagai manusia. Untuk itulah warga sekolah termasuk orang tua memikirkan bagaimana para guru yang mengajar putra-putri mereka hidup dengan baik tanpa harus memikirkan apakah esok cicilan motor dapat terbayar atau apakah bisa membayar kontrakan rumah karena jika dengan mengajar saja pendapatan masih tidak cukup menutupi kebutuhan hidup. Selamat Hari Guru, semoga setiap guru memampukan dirinya untuk mendidik juga memenuhi kebutuhan hidupnya dan kita semua mampu menempatkan para guru pada tempat yang baik dengan mengusahakan terbantunya kesejahteraan mereka. Karena dari merekalah para juara diciptakan.

Tulisan aslinya di:
http://www.kompasiana.com/krishna_wibawa/guru-mengajar-dan-mendidik-sesuai-zaman_5656cce4fd22bdd706e81346

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *