Dilema Guru PAUD: Antara STPPA, Kompetensi Dasar Kelas 1 SD, dan Tuntutan Orang Tua

 

Pada percakapan tentang keharusan anak PAUD bisa membaca dan menulis di WAG PGRI kota kami sempat terlontar pertanyaan kepada salah seorang anggota yang juga guru PAUD sebagai berikut.
” Yang pasti tidak dituntut bisa membaca dan menulis kan, bu?” tanya seorang guru SMA yang penasaran tentang pelajaran membaca dan menulis di PAUD.
Sang guru PAUD pun menyahut, ”Iya, Bu. Tapi kayaknya harus berdamai dengan Bapak/Guru kelas 1 SD.”
Anggota lain pun menanyakan apakah sudah pernah dialog dengan guru kelas 1 SD tentang hal tersebut?
Berikut jawaban Ibu Guru TK yang saya tangkap layar pada dialog tersebut:
 
 

 

Berawal dari itu, penulis tertarik untuk mengangkat dialog tersebut menjadi tulisan tentang dilema yang dihadapi Guru PAUD, antara STTPA dan Kompetensi Dasar siswa kelas 1 sekolah dasar yang “konon” menjadi bisik-bisik tetangga rekannya yang guru kelas 1 SD.
 
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini bab III pasal 5 menyebutkan bahwa STPPA (Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak) merupakan acuan untuk mengembangkan standar isi, proses, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, serta pembiayaan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. STPPA merupakan acuan yang dipergunakan dalam pengembangan kurikulum PAUD. Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak merupakan pertumbuhan dan perkembangan anak yang dapat dicapai pada rentang usia tertentu. Tulisan ini menyoroti perkembangan anak pada rentang usia 5 – 6 tahun, usia prasekolah sebelum anak memasuki dunia sekolah pertama mereka yakni Sekolah Dasar. 

 

Lingkup perkembangan sesuai tingkat usia anak meliputi aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Perkembangan nilai agama dan moral meliputi kemampuan mengenal nilai agama yang dianut, mengerjakan ibadah, berperilaku jujur, penolong, sopan, hormat, sportif, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengetahui hari besar agama, menghormati, dan toleran terhadap agama orang lain. Perkembangan fisik-motorik meliputi : a. motorik kasar, b. motorik halus, dan c. kesehatan dan perilaku. Perkembangan kognitif meliputi: a. belajar dan pemecahan masalah, b. berfikir logis, dan c. berfikir simbolik. Perkembangan bahasa terdiri atas: a. memahami bahasa reseptif, b. mengekspresikan bahasa, dan c. keaksaraan. Perkembangan sosial-emosional meliputi: a. kesadaran diri, b. rasa tanggung jawab untuk diri dan orang lain, dan c. perilaku prososial. Sedangkan perkembangan seni meliputi kemampuan mengeksplorasi dan mengekspresikan diri, berimajinasi dengan gerakan, musik, drama, dan beragam bidang seni lainnya (seni lukis, seni rupa, kerajinan), serta mampu mengapresiasi karya seni, gerak dan tari, serta drama.
Agar pembahasan tidak terlalu luas, mari kita soroti tingkat pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun pada bidang bahasa yang tercantum dalam Permendibud di atas.
 
Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (TPPA) Usia 5-6 tahun pada bidang bahasa meliputi 3 hal yaitu:
  • Memahami Bahasa;
  • Mengungkapkan Bahasa; dan
  • Keaksaraan
TPPA pada subbidang memahami bahasa meliputi:
  1. Mengerti beberapa perintah secara bersamaan
  2. Mengulang kalimat yang lebih kompleks
  3. Memahami aturan dalam suatu permainan
  4. Senang dan menghargai bacaan
Terlihat pencapaian perkembangan anak pada subbidang memahami bahasa masih seputar bahasa lisan. Senang dan menghargai bacaan belum sampai pada anak mampu membaca.

 

TPPA pada subbidang mengungkapkan bahasa meliputi:
  1. Menjawab pertanyaan yang lebih kompleks
  2. Menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama
  3. Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung
  4. Menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap (pokok kalimat-predikat-keterangan)
  5. Memiliki lebih banyak kata-kata untuk mengekpresikan ide pada orang lain
  6. Melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan
  7. Menunjukkkan pemahaman konsep-konsep dalam buku cerita

 

Tingkat pencapaian perkembangan anak pada subbidang mengungkapkan bahasa pun masih berkisar pada bahasa lisan.
 
TPPA pada subbidang keaksaraan  meliputi:
  1. Menyebutkan simbol-simbol huruf yang dikenal
  2. Mengenal suara huruf awal dari nama benda-benda yang ada di sekitarnya
  3. Menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama.
  4. Memahami hubungan antara bunyi dan bentuk huruf
  5. Membaca nama sendiri
  6. Menuliskan nama sendiri
  7. Memahami arti kata dalam cerita
Tingkat pencapaian perkembangan anak pada subbidang keaksaraan yang terkait dengan kemampuan membaca dan menulis adalah “membaca nama sendiri” dan “menuliskan nama sendiri“.
 
Bagaimanakah kompetensi dasar anak usia 5-6 tahun pada PAUD? Apakah sudah mengarah pada kemampuan membaca dan menulis layaknya dia di sekolah dasar? 
Peraturan Menteri yang mengatur tentang kompetensi dasar PAUD adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. 
Kompetensi Inti Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan gambaran pencapaian Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak pada akhir layanan PAUD usia 6 (enam) tahun.
Kompetensi Inti mencakup:
1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual.
2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial.
3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan.
4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan. 
Sedangkan Kompetensi Dasar merupakan tingkat kemampuan dalam konteks muatan pembelajaran, tema pembelajaran, dan pengalaman belajar yang mengacu pada Kompetensi Inti. 
 
Kompetensi Dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3 di antaranya sebagai berikut:
3.10. Memahami bahasa reseptif (menyimak dan membaca)
3.11. Memahami bahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara verbal dan non verbal)
3.12. Mengenal keaksaraan awal melalui bermain
 
Kompetensi Dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4 di antaranya sebagai berikut:
4.10. Menunjukkan kemampuan berbahasa reseptif (menyimak dan membaca)
4.11. Menunjukkan kemampuan berbahasa ekspresif (mengungkapkan bahasa secara verbal dan non verbal)
4.12. Menunjukkan kemampuan keaksaraan awal dalam berbagai bentuk karya
 
Tiga kompetensi dasar pengetahuan dan tiga kompetensi dasar keterampilan di atas secara eksplisit telah menuntut anak untuk memiliki kompetensi membaca dan menulis. Namun demikian, tentu, pencapaian kompetensi tersebut diupayakan sambil bermain, sehingga guru PAUD dituntut terampil menyelipkan pelajaran sambil bermain. 
 
Setelah anak menyelesaikan program pada akhir layanan PAUD usia 6 (enam) tahun ia akan melanjutkan pendidikan ke sekolah dasar. Bagaimakah kompetensi dasar kelas 1 pada awal pembelajaran? Mari kita lihat berdasarkan buku guru Tema 1 Diriku.  Tema 1 adalah pembelajaran yang dilaksanakan selama satu bulan pertama di kelas 1 sekolah dasar. 
 
Beikut penulis tampilkan KD keterampilan dengan kode 4 sebagai berikut. 
 
Subtema 1 Aku dan Teman Baru.
4.3 Melafalkan bunyi vokal dan konsonan dalam kata bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
4.9 Menggunakan kosakata dan ungkapan yang tepat untuk perkenalan diri, keluarga, dan orang-orang di tempat tinggalnya secara sederhana dalam bentuk lisan dan tulis.
 
Subtema 2 Tubuhku
4.1 Mempraktikkan kegiatan persiapan membaca permulaan (duduk wajar dan baik, jarak antara  mata dan buku, cara memegang buku, cara membalik halaman buku, gerakan mata dari kiri ke kanan, memilih tempat dengan cahaya yang terang) dengan benar. 
4.3  Melafalkan bunyi vokal dan konsonan dalam kata bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
4.4  Menyampaikan penjelasan (berupa gambar dan tulisan) tentang anggota tubuh dan panca indera serta perawatannya menggunakan kosakata bahasa Indonesia dengan bantuan bahasa daerah secara lisan dan/atau tulis.
 
Subtema 3 Aku Merawat Tubuhku
4.2 Mempraktikkan kegiatan persiapan menulis permulaan (cara duduk, cara memegang pensil, cara meletakkan buku, jarak antara mata dan buku, gerakan tangan atas-bawah, kiri-kanan, latihan pelenturan gerakan tangan dengan gerakan menulis di udara/pasir/ meja, melemaskan jari dengan mewarnai, menjiplak, menggambar, membuat garis tegak, miring, lurus, dan lengkung, menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf di tempat bercahaya terang) dengan benar
4.3 Melafalkan bunyi vokal dan konsonan dalam kata bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
4.4 Menyampaikan penjelasan (berupa gambar dan tulisan) tentang anggota tubuh dan panca indera serta perawatannya menggunakan kosakata bahasa Indonesia dengan bantuan bahasa daerah secara lisan dan/atau tulis.
4.5 Mengemukakan penjelasan tentang cara memelihara kesehatan dengan pelafalan kosakata Bahasa Indonesia yang tepat dan dibantu dengan bahasa daerah
 
Subtema 4 Aku Istimewa 
4.3 Melafalkan bunyi vokal dan konsonan dalam kata bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
4.11 Melisankan puisi anak atau syair lagu (berisi ungkapan kekaguman, kebanggaan, hormat kepada orang tua, kasih sayang, atau persahabatan) sebagai bentuk ungkapan diri
 
Pada satu bulan pertama di sekolah dasar, sesungguhnya siswa belum memulai aktivitas membaca maupun menulis. Aktivitas yang dilakukan adalah penyiapan siswa agar mereka memiliki kompetensi membaca dengan benar dan memyiapkan mereka memiliki kompetensi menulis dengan benar. 
Kompetensi ini sejalan dengan tingkat pencapaian perkembangan anak pada subbidang mengungkapkan bahasa dan keaksaraan.
 
Jadi, mestinya disadari bahwa satu bulan pertama, sekolah dasar belum menuntut siswa untuk “bisa membaca” karena kompetensi dasar yang ada masih berkisar pada menyiapkan
Dus, dengan demikian guru PAUD tidak perlu terlalu terbebani dengan tuntutan anak-anak PAUD harus bisa membaca dan menulis setelah mereka mengakhiri program belajar di PAUD-nya. 
 
Namun, bagaimanakah dengan orang tua?
Entah siapa yang memulai sehingga “trend” yang berkembang, lulusan TK/PAUD “Anu” anak-anaknya pintar membaca, lalu PAUD tersebut diserbu oleh orang tua karena diberi stempel PAUD bermutu. Belum lagi jika ada unsur pemerintah atau kelompok masyarakat yang mengapresiasi sebagai sebuah prestasi, maka guru PAUD tersbut pun lalu makin terdorong untuk “melatih” anak-anaknya membaca dan menulis. Akhirnya, hal ini berdampak pada lembaga PAUD lainnya untuk mengikuti karena jika tidak maka lembaga PAUD tempatnya bekerja dicap sebagai PAUD yang tidak bermutu. PAUD yang hanya bisa tepuk tangan dan bernyanyi. Di sinilah kebimbangan guru PAUD muncul. Mana yang menjadi acuan? STTPA dan KD Bahasa Indonesia Kelas 1 SD yang “belum mempersyaratkan anak lulusan PAUD harus sudah terampil membaca dan menulis layaknya anak-anak kelas 2, 3, dan seterusnya” ataukah tuntutan orang tua dan apresiasi sebagian masyarakat terhadap kemampuan membaca dan menulis anak-anak PAUD?
 
Solusi
Dilema yang dihadapi guru PAUD harus segera dicarikan solusi. Tidak cukup menjadi bahan perdebatan atau kajian yang berhenti pada lembar makalah maupun forum seminar. Beberapa solusi yang dapat ditempuh di antaranya:
  1. Kaji Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dan tafsirkan kompetensi dasar yang berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. batas-batas apa saja yang diperbolehkan menjadi kompetensi anak-anak PAUD usia 6 tahun.
  2. Seminar, lokakarya yang membahas tentang keamampuan baca tulis pada anak-anak PAUD harus melibatkan orang tua. Sosialisasi rekomendasi hasil seminar kepada orang tua perlu lebih gencar dilakukan.
  3. Dinas pendidikan melalui seksi PAUD perlu proaktif dan tidak keliru mengapresiasi mutu PAUD terkait kemampuan baca tulis peserta didik.
Itulah hal-hal yang, menurut penulis, perlu dilakukan. Jika pembaca blog ini mamiliki saran lain, silakan tuliskan di kolom komentar. Terima kasih. 
 
Tugumulyo, Musi Rawas, 26 Juli 2020.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Dilema Guru PAUD: Antara STPPA, Kompetensi Dasar Kelas 1 SD, dan Tuntutan Orang Tua

  • 08/11/2020 at 02:44
    Permalink

    Dua Jempol untuk Pak Santo.
    Semoga semua pihak bersatu. Padu. Untuk mengatasi cDilema ini
    Duduk bersama. Pahami aturan bersama..Dan tidak saling menyudutkan.
    Kuncinya KREATIVITAS…
    Bermain dengan huruf tidak harus duduk manis di kelas, apalagi saat Pandemi ini. Keaksaraan bisa dikenalkan di mana saja. Contoh ketika anak masak Bersama, ada plastik minyak bertuliskan ” Bimoli” orang tua bisa menunjukkan , memperkenalkan itu, atau nama camilan yg lainnya. Dan sebelum mengenalkan bentuk huruf, bisa didahului dengan pengenalan bentuk 2 benda, ukuran benda dan mengelompokkan benda. Juga sebaliknya orang tua rajin membaca kan cerita ke anak. Karena otomatis anak akan terbiasa berkenalan dengan bentuk 2 huruf. . Perlu kesabaran bersama.
    Pendidikan yang Pertama dan Utama adalah di Keluarga… Orangtua…
    Karena itu …yuuuk.. belajar bersama.. Berlatih bersama, Demi wujudkan Generasi Emas 2045

    Reply
  • 03/08/2020 at 09:16
    Permalink

    Tentu untuk kontrol Dinas Pendidikan, melalui penilik sebagai evaluasi mutu dan korwil, ormit (Himpaudi, IGTKI,) dan termasuk masyarakat. yang menjadi masalah sebenarnya (kita batasi dari diskusi WAG supaya tidak melebar), seorang guru/tutor PAUD dihadapkan pada tuntutan masyarakat, mulai dari wali bahkan sampai guru SD, yang berpandangan setelah anak mengikuti PAUD harus bisa membaca. Bahkan ada yang kebablasan dites membaca untuk masuk SD dengan alasan SD ybs adalah unggulan. Padahal sang guru sudah berupaya mengacu pada STPPA, di masyarakat memberi cap "PAUD tersebut tidak bermutu karena anak-anaknya banyak tidak membaca", sehingga galaulah sang guru. Ibarat suatu Kajian teori disandingkan dengan realita tuntutan. Yang penting saat ini menurut hemat saya pada PAUD, adalah tidak hanya mendidik siswa tetapi mari bersama mendidik masyarakat

    Reply
  • 03/08/2020 at 06:22
    Permalink

    Kalimat menarik: Yang salah adalah memaksakan anak PAUD usia 5-6 tahun harus bisa membaca.

    Siapa bisa mengontrol guru PAUD "tidak memaksakan"? 🙂

    Reply
  • 03/08/2020 at 00:08
    Permalink

    Untuk lebih mudah dipahami, secara ringkas STPPA itu adalah tingkat pencapaian perkembangan sebagai aktualisasi potensi aspek perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangannya masing-masing sebagai dasar guru, orang tua dan masyarakat untuk memberikan stimulan. Dari bahasan tersebut sebenarnya dilema yang dihadapi oleh guru/tutor PAUD bukan pada bagaimana menafsirkan atau aplikasinya STPPA disatuan, tetapi lebih pada situasional di masyarakat dalam artian bahwa masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang heterogen terhadap proses di PAUD. Guru/tutor PAUD sendiri sdh melakukan pelatihan k 13, saat ini tinggal 85 guru PAUD yg belum terlatih (menzerokan guru/tutor baru) dan memperoleh diklat berjenjang. Justru masyarakat dalam hal ini ortu termasuk rekan seprofesi guru SD terutama guru kelas 1. Pertama untuk rekan seprofesinya bahwa pada PAUD itu dikenal dengan STPPA dan di SD dan jenjang lainnya adalah SKL. calistung merupakan kompetensi minimal di SD, sebagai dasar memberikan stimulan pada jenjang berikutnya. Lantas salahkan apabila ada anak PAUD yang sudah bisa membaca ? tentu tidak salah. Yang salah adalah memaksakan anak PAUD usia 5-6 tahun harus bisa membaca, kenapa ? karena Perkembangan anak pada usia tersebut baru keaksaraan awal, inilah dasar untuk teman pendidik di SD untuk memberi stimulan supaya bisa calistung. Jika ada anak PAUD ada yang sudah bisa membaca tentu ini merupakan dasar bagi guru SD untuk memberi stimulan yang berbeda pada anak lain dengan usia dan kelas yang sama, nah yang menjadi masalah apabila di SD anak belum bisa calistung. Untuk itu melalui bidang PAUD Disdik Mura gencar melakukan kegiatan Parenting, siapa sasarannya? masyarakat tentu yang terdiri ortu, bisa guru PAUD, SD, SMP, SMA dan semua. Dan satu lagi supaya semakin tidak jauh memahami arti bermutu pada PAUD. Satuan PAUD yang bermutu adalah PAUD HI (Holistik Integratif) yang melaksanakan minimal 5 Layanan, diantaranya :1. Layanan Pendidikan. 2. Layanan Pengasuhan. 3.Perawatan dan Kesehatan. 4 Layanan Perlindungan, 5. Layanan Kesejahteraan. Dari 5 Layanan tersebut jelas PAUD yang bermutu pasti dan harus banyak mitra, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Kepolisian, Pemerintah Desa

    Reply
  • 27/07/2020 at 03:48
    Permalink

    Sebelumnya acungan jempol dulu buat Pak Santo. Dalam hitungan jam sudah tersusun sebuah karya ilmiah dalam blog. Hebat. Berdasarkan Permendikbud no 137 th 2014 dan Menyimak dari tulisan yg begitu rapi dan apik…sepintas dapat disimpulkan memang belum ada tuntutan anak PAUD hrs dpt membaca dan menulis. Di situ tuntutannya semua pada keterampilan keterampilan yg dilisankan. Kecuali menulis nama sendiri. Andaikan anak lulusan PAUD sudah bisa membaca dan menulis…itu memang Si Anak yg kreatif dg diimbangi sarana yg menunjang.Mudah2an kita semua bisa menyadaru hal ini. Sekian komentar saya…mohon maaf kalau masih jauh dr kesempurnaan. Aamiin

    Reply
  • 27/07/2020 at 03:48
    Permalink

    Sebelumnya acungan jempol dulu buat Pak Santo. Dalam hitungan jam sudah tersusun sebuah karya ilmiah dalam blog. Hebat. Berdasarkan Permendikbud no 137 th 2014 dan Menyimak dari tulisan yg begitu rapi dan apik…sepintas dapat disimpulkan memang belum ada tuntutan anak PAUD hrs dpt membaca dan menulis. Di situ tuntutannya semua pada keterampilan keterampilan yg dilisankan. Kecuali menulis nama sendiri. Andaikan anak lulusan PAUD sudah bisa membaca dan menulis…itu memang Si Anak yg kreatif dg diimbangi sarana yg menunjang.Mudah2an kita semua bisa menyadaru hal ini. Sekian komentar saya…mohon maaf kalau masih jauh dr kesempurnaan. Aamiin

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *