Pengalaman Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor

Malam ini kuliah ketiga Belajar Menulis Bersama Om Jay dan PGRI. Narasumber malam ini adalah penulis hebat, guru yang mumpuni, serta, tentu saja wanita yang cantik. Dia adalah Cikgu Tere alias Theresia Sri Rahayu, S.Pd.SD. Seorang Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar? Seorang guru SD? Kalau begitu, sama dong seperti saya. Bedanya, dia perempuan, masih muda. Saya, kebalikannya.

Gambar: Dokumen Grup WA Belajar Menulis Bersama Om Jay dan PGRI Gelombang 15

 

Hal lain yang menarik adalah, Ibu Theresia juga tercatat sebagai salah satu peserta kegiatan Belajar Menulis melalui Grup WA yang digagas oleh Om Jay dan tim narasumbernya dan menurut pengakuannya sebagai peserta Gelombang 4.
Dalam salah satu materi, peserta gelombang 4 diberi tantangan oleh narasumber yang bernama Prof. Richardus Eko Indrajit. Konon materinya sangat menarik sehingga membuatnya sangat antusias untuk mengikuti tantangan Sang Profesor yaitu menulis buku dalam waktu seminggu. Pak Profesor melelang topik bukunya dan meminta peserta  memilih salah satu topik tersebut dengan langsung menuliskan nama peserta.
Topik yang membuatnya penasaran adalah Ubiquitous Learning. Rasa penasaran ditebus dengan membuka kanal youtube Prof. Eko dan menyimak materi terkait topik tersebut. Tanpa berlama-lama, besoknya langsung mendaftarkan namanya untuk menjadi penulis buku, disusul dengan segera menyusun outline dan “japri” (menghubungi secara pribadi) sang profesor. Ini, yang menurut penulis luar biasa. Prof. Eko, di luar ekspektasi Ibu Tere, langsung membaca dan melihat pengajuan judul serta outline yang diserahkan. Kala itu judul buku Ibu Tere adalah Belajar Semudah Klik, Membangun Ubiquitous Learning dalam Konsep Merdeka Belajar. Prof. Eko menambahkan satu kata yaitu Ekosistem sehingga judul bukunya menjadi Belajar Semudah Klik, Membangun Ekosistem Ubiquitous Learning Dalam Konsep Merdeka Belajar sebanyak 3 bab.
Hal selanjutnya yang terjadi adalah mereka tergabung dalam satu grup WA yaitu “Menulis Bersama Prof. Ekoji”. Grup tersebut berisi penulis dari berbagai daerah, guru dan dosen yang menyatakan kesanggupannya menulis buku dalam waktu satu minggu. Tenggat waktu presentasi pada tanggal 25 April cukup membuatnya takut. Namun, karena dalam grup tersebut para anggota saling memotivasi, rasa takut itu pun teratasi dan berkeyakinan dapat menyelesakan draft yang dibuat.
Saya, penulis, baru sadar bahwa tanggal yang disebut Ibu Tere adalah tanggal 25 April tahun ini, tahun 2020. Berarti yang diceritakan tidak jauh-jauh dari hari ini. Saya pun ikut membayangkan betapa repotnya. Mengapa? Sejak Maret 2020, negara kita menyatakan Darurat Covid-19. Pada masa pandemi pembelajaran tidak berlangsung normal. Theresia Sri Rahayu, S.Pd.SD adalah guru yang pasti sekolahnya juga ikut ”merumahkan” siswa agar belajar dari jarak jauh. Sementara daerah tempat tugas Cikgu Tere tidak memungkinkan pembelajaran online. Maka beliau pun menyusun LKS dan melakukan kunjungan ke rumah siswa untuk melakukan pembelajaran. Terbayang betapa sibuk Cikgu yang juga seorang ibu rumah tangga dan istri petani di daerah Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Namun hebatnya, tanggal 25 April 2020 tetap bisa mempresentasikan karyanya secara virtual.
Selesaikah tantangan Sang Profesor? Ternyata, di akhir kegiatan, Prof. Eko menyampaikan bahwa ada sedikit perubahan di antaranya: jenis huruf menggunakan verdana, ukuran 10, spasi tunggal. Ukuran kertas A5, lalu dilengkapi dengan index dan daftar pustaka dibuat otomatis.  Ketentuan selanjutnya adalah jumlah halaman minimum 100 halaman dan jumlah bab paling sedikit 5 bab.
Di sini ketegangan seorang Cikgu Tere ikut penulis rasakan. Dengan layout seperti itu, jumlah halaman yang dibuat Cikgu hanya mencapai 60 halaman. Andai Cikgu Tere seorang ABG tentu akan berteriak, “OMG! PR sangat banyak, mana harus belajar juga gimana caranya membuat index dan daftar pustaka serta daftar isi otomatis.”
Cikgu Tere seakan  mampu membaca pemikiran kami, tahu pertanyaan apa yang berkecamuk dalam otak para peserta Belajar Menulis Gelombang 15. Tanpa diminta, diceritakanlah bagaimana ia membagi waktu sebagai seorang istri, ibu seorang anak berusia 3,5 tahun, dan seorang pendidik di sekolah dasar yang harus melakukan pembelajaran luring (luar jaringan) dengan berkunjung rumah-rumah siswa.
Sebagai istri, ia terbuka dan secara khusus memohon kepada sang suami untuk membantunya menyelesaikan tulisan. Caranya, suami mengasuh anaknya yang berusia 3,5 tahun dan membawanya bermain di luar saat Cikgu Tere mau menulis. Malam hari, setelah anak dan suaminya terlelap, Cikgu Tere pun melanjutkan menulis. Rupanya, menulis membutuhkan ketenangan juga berlaku baginya. Bahkan pagi hari, sebelum melakukan kegiatan di dapur, menyempatkan diri menulis lagi.

Akhirnya, Prof. Eko menyampaikan kepadanya bahwa pada tanggal 14 April 2020 mereka akan berhadapan dengan Penerbit Andi secara virtual. Setelah naskah selesai dan diserahkan kepada Prof. Eko, Cikgu Tere gelisah sampai tidak nyenyak tidur. Mengapa? Karena itulah penentuan takdir dari tulisan mereka. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba dan kabar baik terdengar bahwa naskahnya dinyatakan DITERIMA DAN AKAN DITERBITKAN oleh Penerbit Andi.

Gambar: Dokumen yang diunggah di Grup WA Belajar Menulis Bersama Om Jay dan PGRI Gelombang 15

 

Sampai pada cerita itu, saya berhenti menulis resume sebentar. Penulis besar ternyata juga punya perasaan yang sama seperti penulis pemula, seperti saya. Rasa puas jika berhasil menyelesaikan resume, mengunggahnya di blog pribadi dan gelisah tak nyenyak tidur menunggu komentar dari sesama anggota grup, serta  berharap diberi komentar oleh para senior semisal Om Jay, Ibu Kanjeng, Mr. Bams, atau Cikgu Theresia Sri Rahayu, narasumber ketiga kami.
Begitulah kisah pengalaman Ibu Theresia Sri Rahayu, seorang penulis alumnus Grup WA Belajar Menulis Gelombang 4 gagasan Om Jay dan para narasumbernya. Bagaimana ia menyelesaikan tulisan dan menerbitkan bukunya pada penerbit mayor. Penerbit mayor adalah perusahaan penerbitan besar, ternama, memiliki modal cukup, dan bukunya pasti ber-ISBN (International Standard Book Number).
Sebagaimana dua resume sebelumnya, kali ini penulis pun mengutip tips dan trik yang dimiliki Cikgu Tere untuk menyelesaikan tulisan. Tips dan triknya adalah:
1. Jauhkan HP (kecuali benar-benar dibutuhkan);
2. Nulis dulu edit kemudian;
3. Bekerja samalah dengan orang terdekat di rumah. Siapa? Pasangan kita.
Tugumulyo, Musi Rawas, 07 Agustus 2020

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

8 thoughts on “Pengalaman Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *