Kebutuhan Ibu Kanjeng, Kemauan Mr. Bams, dan Kegigihan Cikgu Tere

Kami, anggota kelas online Belajar Menulis Bersama Om Jay Gelombang 15, mendapat pembelajaran berharga selama 3 kali dalam minggu pertama. Pasti bukan kebetulan jika narasumber yang dipilih Om Jay untuk meningkatkan motivasi menulis kami diurutkan dari Ibu Sri “Kanjeng” Sugiastuti, Bapak Bambang “Mr. Bams” Purwanto, dan Theresia “Cikgu Tere” Sri Rahayu.
Om Jay dengan insting menulisnya yang sudah terasah telah menyiapkan mereka menumbuhkan, mengembangkan, dan membangkitkan keberanian menulis para “blogger muda”. Saya beri tanda kutip, karena blogger muda di sini bukan blogger berusia masih muda melainkan blogger pemula. Saya belum mengunjungi semua blog yang dimiliki anggota menulis Gelombang 15 ini, tetapi saya berasumsi bahwa di antara mereka memiliki blog karena “dipaksa” harus membuat sebagai diary tempat menuliskan minimal dua hari sekali resume kegiatan.
Sri “Kanjeng” Sugiastuti Menulis karena Kebutuhan
Perempuan paruh baya yang sebentar lagi memasuki usia pensiun dihadirkan untuk membangkitkan motivasi menjadi penulis. Anggota Grup Belajar Menulis Gelombang 15, perkiraan saya, adalah para guru yang menyelesaikan pendidikannya dengan sebuah karya tulis. Artinya, jenis-jenis karya tulis, aturan kepenulisan, penguasaan diksi, telah mereka miliki. Mengapa setelahnya tidak mau menulis lagi? Jawabnya karena motivasi (keinginan melakukan sesuatu) yang rendah.
Menurut teori, ada beberapa hal yang memotivasi seseorang mau melakukan sesuatu dalam hidupnya. Namun, secara umum ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu, yang disebabkan oleh faktor dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri tanpa dipengaruhi orang lain karena adanya hasrat untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi ekstrinsik adalah keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang disebabkan oleh faktor dorongan dari luar diri sendiri untuk mencapai suatu tujuan yang menguntungkan dirinya.
Ibu Kanjeng bercerita panjang lebar perihal pengalaman kepenulisannya. Kebutuhan akan informasi, memaksa ibu Kanjeng banyak membeli buku dan membuka mesin pencarian Google. Kebutuhan akan pembuatan laporan, makalah, dan tesis, medorongnya memelajari bagaimana mengoperasikan komputer dan memanfaatkannya. Kebutuhan akan keterampilan menulis, beliau atasi dengan mengikuti berbagai komunitas menulis. Kesemuanya dilakukan pada usia paruh baya.
Om Jay menampilkannya sebagai narasumber pertama, barangkali, agar peserta kelas menulis daring  yang digagasnya, motivasi instrinsik dan ekstrinsiknya bangkit. Karena, anggota grup adalah guru yang tidak akan pernah jauh dari dunia tulis-menulis (merencanakan pembelajaran, menyusun bahan ajar, menulis soal, membuat laporan penilaian, menulis surat, dan menulis laporan penelitian).
Banyaknya karya yang dihasilkan, karya yang didokumentasikan, bahkan karya yang diterbitkan, menjadikan seorang Ibu Kanjeng sejajar dengan para penulis kategori ahli yang tentu pergaulan pada komunitas penulis telah memiliki kelas tersendiri.
Itulah beberapa hal yang tersirat dari penampilan Ibu Kanjeng pada malam pertama. Bahkan ada peserta yang melukiskan pertemuannya dengan Ibu Kanjeng pada malam pertama seindah malam pertama seseorang pengantin. Indah dan berkesan.
Ke-MAU-an Bambang “Mr. Bams” Purwanto
Mr. Bams, pegiat literasi, penulis blog yang konsisten, motivator, dihadirkan menjadi narasumber pada malam kedua. Indahnya bercengkerama pada malam pertama bersama Ibu Kanjeng tidak boleh berlalu dan hendaknya tetap berlanjut. Syahwat menulis yang dibangkitkan Ibu Kanjeng jangan memudar, bahkan menguap bak embun pagi bertemu mentari. Hadirlah sosok motivator dengan kemauan tinggi menebarkan MAU bagi peserta. Motivasi, Aksi, dan Unggul disingkat MAU milik Mr. Bams dihadirkan Om Jay untuk tetap menegakkan motivasi menulis yang sudah dibangkitkan Ibu Kanjeng. Motivasi dan dan syahwat menulis harus disalurkan dengan baik. Tempat menyalurkan yang tepat adalah blog.
“Weblog” atau blog adalah website bisa disebut juga jurnal online yang memuat beragam informasi serta menampilkan postingan terbaru di bagian atas halaman. Orang yang mengelola blog disebut blogger. Aktivitas menulis dan mengelola blog dengan memanfaatkan tool digital yang ada di internet agar sang blogger bisa menulis, membagikan, serta menautkan konten dengan mudah dinamakan blogging.
Nah, malam ini syahwat menulis (sekali lagi penulis gunakan istilah  ini) yang sudah dimulai dengan menuliskan resume kisah kepenulisan Ibu Kanjeng di blog pribadi, semakin dipupuk dengan harapan menulis di blog menjadi kebiasaan. Karena, kebiasaan menulis di blog itu banyak manfaatnya. Tulisan di blog, jika tulisannya atau blognya tidak dihapus, selamanya tidak akan terhapus. Ia menjadi jejak digital dan hanya pemilik blog yang bisa mengelolanya. Kata Om Jay:
 
Menulislah Setiap Hari & Buktikan Apa yang Terjadi
Kegigihan Theresia “Cikgu Tere” Sri Rahayu
Guru SD berprestasi asal kuningan yang rela mengabdi di Nusa Tenggara Timur ini dihadirkan oleh Om Jay pada kali ketiga kuliah menulis daring pada Grup WA Belajar Menulis Gelombang 15. Saya yakin, beliau dihadirkan pada sesi ketiga minggu pertama ini untuk menegaskan dan memperkokoh motivasi yang sudah terbentuk di awal kegiatan melalui cerita kegigihannya melahirkan sebuah buku.
Kisah Cikgu berjibaku dengan waktu, berjuang berbagi kewajiban, demi selesainya sebuah buku, yang dihadirkan Om Jay, memberi pesan tersirat: “Ini lho, peserta belajar menulis daring seperti Anda, dengan kegigihannya berhasil menerbitkan buku dan bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor. Dan, Anda tahu siapa yang memberinya tantangan? Seorang Profesor!” 
Benar Om Jay! Sederet kalimat kagum, pujian, disusul keinginan, harapan, dan doa dituliskan para peserta pada resumenya. Ini membuktikan bahwa ada keinginan kuat para peserta untuk menduplikasi kisah sukses mereka. Ibarat benih tanaman, benih itu lembaganya mulai bertunas. Akankah benih itu akan tetap tumbuh? Tunas menjadi tangkai, tangkai berdaun berubah menjadi batang nan kokoh dan akhirnya menghasilkan buah? Jawabannya ada pada motivasi diri masing-masing.
Terima kasih, Om Jay. Terima kasih Ibu Kanjeng, Mr. Bams, dan Ibu Theresia Sri Rahayu.
Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan
09 Agustus 2020, pulang latihan keroncong
Menjadi anggota OK. Gita Laras Musi Rawas (dok. Pribadi)

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

18 thoughts on “Kebutuhan Ibu Kanjeng, Kemauan Mr. Bams, dan Kegigihan Cikgu Tere

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *