CLBK: Nikmati Prosesnya, Syukuri Hasilnya

“Mas, blognya semakin banyak tulisan, Ya?” kata temanku menanggapi blog pribadiku yang aku akui bertambah terus tulisannya.
“Alhamdulillaah, puji syukur kepada Allah. Kenapa?” aku balik bertanya.
“Gak papa. Dulu katanya sempat berhenti. Sama seperti blog punyaku, malah passwordnya nggak ingat lagi.
“Bikin baru lagi saja! Gratis, kecuali memang kamu ingin membuat blog berbayar atau website,” begitu aku menyarankan.
“Oke lah. Ngomong-omong kenapa sih bisa nambah terus tulisannya?” tanyanya lagi.
“Ya, ini berkat CLBK kepada mantan.” jawabku santai.
“Ngawur kamu, Mas! Kalau Mbak Eni tahu, bisa mampus kamu, Mas!” setengah kaget temanku tadi berkomentar.
“Ini bahkan mau kuberi tahu. Malah kalau nanti ikut lomba menulis menang dan dapat uang, malah dengan bangganya mau saya pamerkan. Bu, ini berkat CLBK. Ibu jangan cemburu,” kataku setengah meledek.
“Apa sih, Mas? Kok tega kamu sama istrimu?” tambah penasaran sahabatku jadinya.
“Lho, beneran! Jangan takut CLBK, bahkan nikmatilah prosesnya dan syukuri hasilnya,” begitu alasanku.
“Gila kamu, Mas!” setengah berteriak temanku menepuk bahuku lumayan keras.
“Ha ha ha ha ha!” sambil tertawa lantas aku bercerita setelah sebelumnya mengajaknya minum air teh celup yang baru diseduh. Potongan ubi menjadi teman minum kami sore itu.
Begini, aku dapat ilmu CLBK belum lama kok. Tapi ilmu itu sebagian sudah aku amalkan. Kan kamu tahu, jika lihat profilku, di sana tertulis “di Blogger sejak Juli 2009”. Cukup lama. Sebelas tahun terhitung hari ini. Berarti sudah cukup lama aku mencoba memulai menulis di blog. Sebagian tulisan potong tempel tulisan orang, sebagian tulisan sendiri dengan merujuk dari tulisan orang.
CLBK yang pertama sudah aku lakukan, kan? Apa itu? Ya, ce-o-be-a, coba. Coba kamu lihat lagi blog punyaku yang template-nya sudah beberapa kali berubah. Tulisan pertama tanggal 4 Juli 2009. Bahkan aku sendiri sudah lupa, rupanya Google dengan setia menyimpannya. Apa judul tulisan waktu itu? Silakan klik Blog Archive lalu pilih tahun 2009 dan klik tulisan paling bawah berjudul Guru SD dan Komputer.
Memulai menulis bagi sebagian besar orang kadang susah. Kesulitan itu terutama dalam membangun ide dan mencurahkannya kalimat demi kalimat. Mencoba berulang-ulang akan melatih kita memproduksi untaian kata-kata yang menghasilkan kalimat bermakna.
Bulan-bulan berikutnya terus aku lakukan. Menulis beberapa paragraf saja. Tentang apa saja ketika datang keinginan untuk menulis. Ketika kita sudah mencoba, telah menemukan rasa dan keunikan tulisan kita, maka harus terus dilakukan agar ide kita tidak mengendap seiring berlalunya waktu. Jika ada kendala, dan kita berhenti menulis saat itu, maka saat itu juga semangat menulis kita berhenti. Jadi saya paksa diri saya untuk menulis, hingga kini. Menulis apa saja, intinya harus ada sesuatu yang tersimpan di draft tulisan blog saya atau tersimpan di laptop.
“O, CLBK tu singkatan. Coba dan Lakukan. Lalu B dan K-nya apa?” tanya temanku penasaran.
OK, aku lanjutkan!
Menulis itu harus menjadi budaya. Menjadi bagian dari cara hidup kita. Menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Jadi, budayakan menulis, agar menulis menjadi panggilan beraktifitas setiap hari.
“Mantap, Mas. Lalu huruf K-nya singkatan dari apa?” dengan antusias temanku bertanya lagi.
Tak ada karya yang terselesaikan dengan baik tanpa konsistensi. Konsisten dalam menulis adalah misi untuk mencapai visi seorang penulis. Visi penulis adalah menghasilkan sebuah karya tulisan yang bisa memberi inspirasi bagi banyak orang. Bagaimana caranya agar tetap konsisten? Tiada lain memaksa diri untuk menulis setiap hari. Setidaknya, menulis tugas untuk siswa di blog atau mengunggah gambar. Cara lainnya adalah aktif membeli buku secara online untuk mengembangkan ide.
“Wow, Mas! Bagus banget konsep CLBK-nya. Ternyata bukan cinta lama bersemi kembali,” kata temanku sambil senyum.
“Itu idemu, Mas?” desaknya penuh selidik.
Ha ha ha ha….. Ya, jelas bukan lah, ya! Konsep CLBK itu aku dapat dari kuliah menulis online. Makanya kamu ikutan juga!
Yang punya gagasan CLBK itu seorang guru, sama seperti kita. Pak guru itu bernama Yulius Roma Patandean, S.Pd. Panggilan akrabnya, Pak Roma! Ingat apa coba?
Pak guru itu mengajar Bahasa Inggris di UPT SMAN 5 Tana Toraja, sejak tahun 2015 hingga sekarang. Selain sebagai guru, sering pula beliau diundang untuk menjadi juri pada Lomba-lomba Debat bahasa Inggris tingkat SMA dan Lomba Story Telling tingkat SMP di Kabupaten Tana Toraja. Pernah juga menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia Toraja, sebagai Tutor di Universitas Terbuka dan sebagai Fasilitator Belajar di Yayasan Trampil Indonesia. Selain itu, ia juga mendapat tugas tambahan di organisasi tercinta kita, PGRI, sebagai Wakil Sekretaris PGRI Kabupaten Tana Toraja dan Sekretaris Perwakilan YPLP PGRI Kabupaten Tana Toraja.
“Hebat sekali ya, Mas!” kata temanku kagum.
Hebatnya sih bukan di situ. Orang lain mungkin lebih panjang daftar pengalamannya dibandingkan dengan Pak Roma. Tapi pernah tidak menerbitkan buku? Penerbit mayor, lagi!
“Boleh diceritakan, Mas. Soalnya aku nggak ikut kegiatan kamu, itu!” rupanya temanku tertarik mendengar kisah Pak Roma menerbitkan buku.
Menurutnya pak Roma, kisah bermula ketika diberi amanat oleh PGRI Kab. Tana Toraja untuk mengikuti Rakornas Virtual PGRI. Pada kegiatan itu ia mengenal guru blogger hebat kita, Bapak Wijaya Kusumah yang keren dipanggil Om Jay. Saat itu saya mengenalnya lewat undangan pelatihan Belajar Menulis lewat Grup WA. Saya pun mendaftar dan tergabung di grup 8 dan grup 9.
 
“O, alumni Grup Menulis juga ya?” timpal temanku sambil menyeruput air teh manisnya. 
Nah, pada satu kesempatan, pemateri pelatihannya adalah Prof. Richardus Eko Indrajit. Topik materinya adalah menulis dalam satu minggu. Karena bertanya kepada Pak profesor, Pak Roma  diberi tantangan malam itu dari Prof Eko dengan sebaris kalimat tanya.
“Apakah pak Yulius mau menulis bersama saya?”
Tidak diceritakan panjang karena proses menulisnya persis seperti yang telah disampaikan oleh Ibu Tere. Kalau kamu mau tahu ceritanya klik di sini.
Ketika telah diumumkan oleh Penerbit ANDI bahwa naskah yang Pak Roma tulis lolos untuk diterbitkan, ia menangis dan menghubungi Prof. Eko lewat pesan di WA.
 
“Terima kasih prof. Jujur sy menangis Prof. Terima kasih bimbingannya. Seorang anak kampung, ternyata bisa nulis buku.”
Resep sekaligus perintah untuk diri Pak Roma adalah seperti yang aku ceritakan kepadamu tadi: CLBK!
“Iya, Mas. Aku ulangi kepanjangannya. Cinta Lama Bersemi Kembali! Ups, salah! Coba, Lakukan, Budayakan, dan Konsisten. Bagaimana, Mas? Benar, kan?” kata temanku sambil mengambil potongan ubi satu-satunya yang masih tersisa.
Sebelum temanku pulang, sempat meminta Biografi Pak Roma, gambar buku Pak Roma yang diterbitkan Penerbit ANDI, dan meminta alamat blog pribadinya, katanya kepengin ikut membaca tulisan-tulisannya.
Tanpa nunggu lama segera kuiyakan permintaan temanku itu.
Biodata Pak Roma (Dok. Grup Menulis Gelobang 15)
Buku Pak Roma yang Diterbitkan (Dok. Grup Menulis Gelobang 15)
Buku Sepecial Pre-order Pak Roma (Dok. Grup Menulis Gelobang 15)
Blog pribadi Pak Roma ada di:
Jika temanku membaca tulisan ini semoga berkenan memberikan komentar atau mungkin belum sempat karena masih asyik bertamu di blog Pak Roma.
Tugumulyo, Musi Rawas, Sumsel, 12-08-2020

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

11 thoughts on “CLBK: Nikmati Prosesnya, Syukuri Hasilnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *