Betti Risnalenni: Berbagi Pengalaman sebagai Guru Entrepreneur

Malam ini malam kelima kami, anggota Grup Menulis Bersama Om Jay dan PGRI Gelombang 15, menimba ilmu kepenulisan. Khusus malam hari ini, kami menyimak seorang pembaca buku yang baik, penulis, guru, dan tokoh entrepreneur pendiri Kelompok Bermain, TK dan SD Insan Kamil Bekasi, Ibu Dra. Betti Risnalenni, MM.
Lamanya kegiatan di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten membuat badan terasa capek. Namun komitmen untuk selalu mengikuti kuliah online menulis membuat rasa capek pun sedikit terlupakan. Sambil menyimak sempat membuat corat-coret penghilang penat. Bahkan, mengisi daftar kehadiran pun sudah pukul 23.55 karena lupa.

Kembali ke Ibu Betti (jika boleh saya memanggil demikian), adalah seseorang yang memiliki jiwa entrepreneur sejak kecil. Sang Bunda membuat kue, Betti kecil menjajakan dengan cara menawarkan ke toko-toko untuk dititipi kue lezat buatan ibunya. Hal itu berlangsung hingga Betti kecil menjadi remaja, siswa SMA 1 Bekasi.

Sebagai gadis remaja, rupanya ia memiliki rasa gengsi. Agar tidak ketahuan kue di koperasi sekolahnya adalah dagangannya, ia membawa kuenya pagi-agi benar sebelum kawan-kawannya masuk sekolah. Hal itu berlangsung hingga kuliah. Jualan makanan masih dijalaninya. Ya, ibunya pemilik usaha catering ketika Betti dewasa duduk di bangku kuliah.

“Saya suka, pokoknya,” begitu penuturannya.

Setelah menikah, sang Bunda pun merasa capek, lelah, dan akhirnya memutuskan untuk berhenti jualan makanan. Setelah lulus kuliah, Ibu Betti memutuskan untuk mengajar. Tidak ada usaha sampingan. ia bekerja hanya sebagai guru.

Jiwa entrepreneur yang sudah tertanam semenjak kecil kembali bergejolak. Berbekal pengalaman sebagai guru, ia pun membuka kursus. Jadilah ia menjadi seorang pengelola pusat kursus. Tidak tanggung-tanggung, ada 24 pusat kursus di Bekasi yang ia kelola. Bagaimana bisa? Rupanya Ibu Betti yang menguasai Aritmatika menulis buku-buku tentang itu. Ia bekerja sama dengan orang yang mau membuat pusat kursus. Kemudian, ia melatih guru gurunya, dan kemudian mereka wajib memakai buku karangannya. 

Agar lembaga kursusnya makin terkenal, dengan piawai Ibu Betti merangkul mall yang ada di Bekasi sebagai ajang penyelenggaraan lomba. Mngapa mall?

“Penyelenggaraan lomba di mall terlihat lebih entertaint, ya!” begitu kilahnya.

Karena anak-anak senang, orang tua juga senang, uang pendaftaran lomba sudah termasuk biaya pengadaan piala dan makan. Untuk penyediaan makan, Ibu Betti bekerjasama dengan pengusaha makanan siap saji. Dan, seringnya megadakan lomba, akhirnya muncul ide jualan piala. Sungguh, jauh dari kata rugi. yang ada adalah keuntungan.

Berani mencoba dan pantang menyerah. Gunakan peluang setiap ada kesempatan. Karena kesempatan itu belum tentu terulang kembali, ” begitu ia berprinsip.

Dipancing oleh moderator pada kuliah malam kamis tanggal 12 Agustus 2020 itu, Ibu Kanjeng, sang Guru Entrepreneur berkenan menceritakan bagaimana merintis pembukaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. 

Rupanya sebelum memiliki TK Ibu Betti sudah memiliki sebuah yayasan. Namun, menurut perhitungannya belum cukup modal maka belum ada keberanian untuk membuka taman kanak-kanak. Kebetulan, salah satu dari 24 cabang kursusnya ada yang ingin membuka TK. Jadilah gayung bersambut, mereka akhirnya bekerja sama mendirikan TK. Ibu Betti yang membuat buku materi untuk TK tersebut, seperti: mengenal tarik garis, mengenal angka, mengenal huruf, dan sebagainya. Satu yang tidak terlupakan, yaitu keahliannya, Aritmatika. Aritmatika menjadi keunggulan di samping hafalan  surat pendek.

Mengelola pendidikan tidak seperti bisnis batik. Rekan Ibu Betti akhirnya hanya bertahan 3 bulan dan akhirnya menyerah. Mengelola sekolah banyak ruginya, demikian kata temannya. Akhirnya pengelolaan TK tersebut dilanjutkan dengan tekun.

Alhasil, pengalaman itu menjadi modal untuk menyusun “praktik terbaik” atau best practice yang berguna ketika mengikuti lomba kepala sekolah berprestasi. Pada lomba tersebut, ia mampu meraih juara hingga tingkat kabupaten namun harus puas sebagai juara harapan di tingkat provinsi Jawa Barat.

Selain praktik terbaik yang menjadi bahan pemaparan dalam pemilihan kepala sekolah berprestasi, buku-buku yang ia susun seperti buku aritmatika dan buku-buku TK yang berjumlah hingga 30 buah dapat menjadi lampiran borang untuk menambah poin penilaian. Meskipun diakui secara jujur bahwa menulis buku pada awalnya adalah alasan duit. Toh setelah terkumpul menjadi bahan portofolio yang dapat dinilai tinggi.

Jerih payah dan ketekunanya berbuah. Sekolah yang didirikannya, baik TK maupun SD sudah berjalan sebagaimana mestinya. Sekolah Insan Kamil yang didirikannya bahkan telah menerima dana BOS sehingga operasional sangat terbantu. Lantas, apa yang terjadi?

Rupanya, lama meninggalkan kuliner tidak melupakannya untuk membuka peluang usaha kembali. Berbagai kursus ia ikuti dengan tekun. Jadi, selain memiliki sertifikat pendidik, Bu Betti juga memiliki sertifikat wirausaha.

Suasana Pelatihan e-Commerce (Dok. Betti Risnalenni)
Kue Bu Betti (Dok. Betti Risnalenni)
Sebelum pertemuan diakhiri, ada cerita “balas dendam” yang menarik. Akibat anaknya tidak diterima di sekolah yang bagus karena alasan ekonomi, jiwa guru nya pun berontak. Jika anak orang kaya sekolah di tempat bagus, itu biasa. anak orang miskin bersekolah di sekolah yang tidak bagus itu biasa. Tetapi, ini nih unsur “balas dendam”-nya, anak orang  tidak mampu bisa bersekolah di tempat yang bagus, itu luar biasa. Makanya saya buat sekolah itu karena kita guru, kita pasti bisa.
Deskripsi sederhana tentang sekolah bagus menurut Ibu Guru yang berulang tahun pada tanggal 13 Agustus ini adalah: bagus gedung, fisik sekolah, bagus peralatannya, bagus materinya. Karena SD Islam, siswa hafal juz 30, ada braingym, semua ekskul gratis, anak anaknya ada yg berprestasi, itulah kriteria sederhana sebagai sekolah bagus.
Praktek Energi sekaligus SBdP (Dok. Betti Risnalenni)

 

Duta Baca Anak (Dok. Betti Risnalenni)

 

Ekstrakurikuler Karate (Dok. Betti Risnalenni)
Berikut penuturan menarik yang sempat saya dokumentasikan dari Ibu Guru Entrepreneur ini:
  1. Jika mau melakukan sesuatu selalu berdoa. Ya Allah, jika engkau ridho dengan yang aku lakukan maka permudahlah. Jika itu sulit buat ku dan engkau tidak ridho, maka persulitlah. “Jadi apapun yang saya lakukan tidak pernah saya berharap berhasil,” demikian penuturannya.
  2. Jadikan Tim di sekolah seperti saudara.
  3. Berani memulai perkenalan dengan orang lain agar orang bisa kenal kita.
  4. Berani mencoba dan pantang menyerah. Gunakan peluang setiap ada kesempatan. Karena kesempatan itu belum tentu terulang kembali.

 

Tegalrejo, Tugumulyo, Sumsel, dinihari.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

21 thoughts on “Betti Risnalenni: Berbagi Pengalaman sebagai Guru Entrepreneur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *