Gelora Semangat Lahirkan Buku Hebat

Malam itu, 14 Agustus 2020, kami mendapat pencerahan lagi perihal penerbitan buku dari seorang guru oleh penerbit mayor (Penerbit Andi). Tepat, karena tema pelajaran keenam menulis di WAG Menulis Gelombang 15 kali ini “Belajar Menerbitkan Buku”. Ibu guru yang berkenan membagi pengalamannya pada pertemuan kali ini adalah Dra. Musiin, M.Pd.
Biodata Dra. Musiin, M.Pd.
Dra Musiin, M.Pd., biasa disapa Bu Iin, adalah guru SMPN 1 Tarokan Kediri Jawa Timur. Wanita kelahiran Kediri yang berulang tahun ke-50 pada 6 Juli ini memiliki hobi memasak, travelling, membaca, dan tentu saja menulis. Sarjana Pendidikan Bahasa Ingris lulusan IKIP Malang Negeri tahun 1994 dan Magister Bahasa dan Sastra lulusan Universitas Negeri Surabaya tahun 2009 ini juga seorang pengembang mata pelajaran bahasa Inggris di daerahnya.
Pengalamannya mengajar dimulai tahun 1994 di beberapa perguruan tinggi seperti STKIP PGRI Jombang, STIE Dewantara Jombang, dan tutor bagi pekerja asing di PT Chiel Jedang Jombang. Sejak tahun 1998, guru alumni Short Course di SEAMEO RELC Singapura tahun 2015, tercatat sebagai tenaga pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMPN 1 Tarokan Kediri Jawa Timur.
Rupanya, tidak hanya bidang pendidikan yang menarik perhatian pengarang buku Literasi Digital Nusantara ini. Bidang pemberdayaan masyarakat pun ia geluti. Organisasi swadaya masyarakat YAPSI ia dirikan sebagai organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya UMKM, pemberian bantuan pangan,  dan pemberian bantuan susu bagi anak-anak SD. Kegiatan lain yang dilakukan lembaga ini adalah pelatihan sekolah ramah anak bagi guru-guru SD di Kabupaten Sampang. Selain itu, pendidikan lingkungan dan daur ulang sampah serta pengadaan perpustakaan kampung juga tidak luput dari perhatian YAPSI ini. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak dilakukan sendiri tetapi merangkul pihak ketiga seperti Bank Indonesia Surabaya, UN-WFP (Program Pangan Dunia PBB), Perusahaan Susu Ultra, dan UNICEF.
Satu lagi hal baik yang melekat pada diri Bu Iin adalah selain pendidik dan pegiat pemberdayaan masyarakat ia juga seorang wirausahawan, seorang entrepreneur! PT In Jaya adalah perusahaan miliknya yang bergerak di bidang ekspedisi dan pemasok bahan baku tebu bagi pabrik gula di wilayah Madiun, Malang, dan Kediri.
Membaca daftar riwayat hidup Bu Iin, Empat kompetensi guru yakni: kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial lengkap dimilikinya. Tepat kiranya beliau diangkat menjadi salah satu anggota Tim Penilai Angka Kredit Guru Kabupaten Kediri. Tim Penilai Angka Kredit adalah tim yang menilai empat kompetensi guru tersebut.
Karya Tulis Bu Iin
Bu Iin adalah guru yang berhasil menulis buku berjudul LITERASI DIGITAL NUSANTARA bersama Profesor Richardus Eko Indrajit (Prof. Eko) dan diterbitkan oleh Penerbit Andi, salah satu penerbit mayor di Indonesia.
Ungkapan orang bijak bahwa penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik benar adanya. Menurut penuturan Bu Iin pada kuliah daring Belajar Menulis Bersama Om Jay, PGRI, dan Penerbit Andi tanggal 14 Agustus 2020 pukul 19.00 sampai dengan pukul 21.00 WIB, awal mulanya adalah seorang pembaca yang baik. Seandainya menulis, yang ditulis adalah PTK, jurnal, proposal, laporan  untuk kepentingan pekerjaan, tidak pernah terlintas di benaknya untuk menulis dan menerbitkan buku apalagi di Penerbit Mayor. Namun, di awal tahun 2020, sebagai ASN ia membuat perencanaan akan menulis buku di SKP. Keajaiban pun datang dengan mengikuti Kelas Menulis Om Jay. Pada saat itu, ia teringat dengan buku yang berjudul  The Secret (Law of Attraction) karya Rhonda Byrne. Buku tersebut bercerita tentang rahasia kekuatan pikiran atau gaya tarik menarik di alam semesta. Pikiran beliau di awal tahun adalah menulis buku (dan menuangkannya dalam sasaran kinerja pegawai tahun 2020), Yang Mahakuasa menuntunnya untuk mengikuti kelas menulis dan berhasil menulis buku dan diternbitkan oleh penerbit mayor. Tiada kata yang pantas terucap selain rasa syukur penuh pujian, Alhamdulillaah.
Master Menulis Bu Iin, demikian nama kontak yang saya simpan di HP, malam itu mengajak peserta untuk mengikuti proses penulisan buku berjudul LITERASI DIGITAL NUSANTARA. Dengan rendah hati beliau mengatakan,”Seandainya buku itu sepiring hidangan, Bapak Ibu saya ajak berbelanja, meracik dan memasaknya. Semoga bisa memberi pengalaman tersendiri.”
Proses Menulis Buku Literasi Digital Nusantara
Mulailah ia berkisah bahwa dari dulu ingin menulis buku di luar bidang dan ternyata bisa karena masuk di kelas menulis bimbingan Guru Blogger Om Jay. Bersama Ibu Tere dan Bapak Roma mereka dipersatukan di WAG Menulis Gelombang 8. Proses mulai menulis sampai menerbitkan bukunya yang berjudul LITERASI DIGITAL NUSANTARA sama dengan yang telah disampaikan oleh Ibu Tere dan Bapak Roma. Mereka menerima tantangan dari Prof Eko di saat beliau menjadi narasumber dan malam itu juga membuat outline buku dari judul yang telah diberikan Prof. Eko. Tanpa berlama-lama, Bu Iin menyempaiakan outline sebagai berikut:
1. Pengguna Internet di Indonesia
2. Media Sosial
3. Literasi Digital
4. Ekosistem Literasi Digital di Nusantara
5. Literasi Digital untuk Membangun Digital Mindset Warga +62
Gayung bersambut, keesokan harinya Prof Eko memberinya cover buku yang akan ditulis.
Bisa dibayangkan, betapa bahagia dan semangatnya setelah outline diterima, tak berselang lama cover buku pun telah pula dibuatkan. Saya saja jika menulis resume dikunjungi teman, apalagi diberi komentar, merasa amat bahagia. Lebih-lebih apabila Om Jay atau narasumber yang ada ikut mengomentari tulisan saya, kebahagiaan dan semangat menulis semakin tinggi. Apalagi ini, seorang guru besar, profesor, memberi komentar sekaligus perintah untuk segera menyelesaikan buku tersebut. Tidak heran jika semangat dalam dada Bu Iin begitu berkobar untuk segera menyelesaikannya.
Segeralah ia mengumpulkan berbagai referensi: surat kabar, buku-buku, dan referensi di internet. Untuk keperluan tersebut, ia sisihkan 10% dari TPP yang ia terima. Uang itu untuk berlangganan Wi-fi, membeli buku secara daring, dan berlangganan surat kabar secara daring. Dengan demikian untuk mengembangkan kerangka tulisan yang sudah disetujui Prof. Eko terasa semakin mudah apalagi materi tersebut sangat menarik perhatiannya.
Pengguna Internet di Indonesia
 
Bahasan ini terdapat pada bab pertama bukunya. Bu Iin sangat tertarik menulis materi tersebut. Pengamatan dalam kehidupan sehari-hari dan data yang dirilis Data Statista menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam 10 negara dengan pengguna internet terbesar di dunia adalah salah hal yang menumbuhkan ketertarikannya. Data tersebut menunjukkan, tidak kurang dari 143,26 juta per Maret 2019 rakyat Indonesia menggunakan internet. Pasti sekarang bertambah lagi. Sebagian besar pengguna internet di Indonesia itu adalah mereka yang lahir antara tahun 1995-2010.
Pembagian Generasi dalam Buku Literasi Digital Nusantara (dok. Musiin)
Pengguna Internet dalam Buku Literasi Digital Nusantara (dok. Musiin) 
Generasi Z adalah mereka yang tahun 2020 berusia 10 sampai 20 tahun. Dari seluruh jumlah anak usia 10 sampai 14 tahun, 66,2% di antaranya sudah mengakses internet. Dari seluruh jumlah anak usia 15 sampai 19 tahun tersebut sebanyak 91 persennya sudah mengakses internet. Hal ini diungkapkan Bu Iin dalam paparannya malam itu dengan kalimat yang menarik sebagai berikut.
Generasi yang lahir antara tahun 1995-2010 adalah Generasi Z atau dikenal dengan iGeneration atau Generasi Net. Mayoritas anggota generasi ini masih di bangku sekolah dan kuliah, hanya sebagian kecil saja yang masuk ke dunia kerja. Gadget dan internet telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak kecil. Implikasinya mereka menyukai hal yang instan, kenyamanan dan multi tasking. Popularitas diperoleh di berbagai media sosial melalui unggahan-unggahan yang menunjukkan style mereka. Hedonisme sudah menjadi urat nadi yang tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari. Mereka menyukai berbelanja secara online sekaligus pelaku industri ekonomi kreatif di dunia maya. Uang tidak lagi untuk investasi seperti yang dilakukan generasi sebelumnya, namun untuk keperluan fashion, travelling, dan kuliner.
Bu Iin menambahkan, kemungkinan besar karena PJJ di era pandemi Covid-19, Generasi Apha yang masih berusia kurang dari atau sama dengan 9 tahun juga mulai menjadi pengguna dalam persentase yang besar.
Generasi Z dan Media Sosial
Apa implikasinya dalam kehidupan digital anak-anak Indonesia? Secara umum alasan warganet Indonesia menggunakan internet adalah berkomunikasi, bermedia sosial, dan mencari informasi tentang pekerjaan. Termasuk murid-murid Bu Iin jika diajak menggunakan platform Google Classroom dalam pembelajaran selalu mengatakan bahwa paketan yang dibeli adalah paketan media sosial. 
Mengutip data We Are Social, Hootsuite, 2020, media sosial yang banyak digunakan adalah Facebook (lebih dari 2.449.000.000 pengguna), Youtube (lebih dari 2.000.000.000 pengguna), dan Whatsapp (lebih dari 1.600.000.000 pengguna). Selebihnya adalah Wechat, Instagram, Tiktok, QQ, dan sebagainya.
Banyaknya pengguna media sosial yang semakin beragam, membuat Bu Iin menguraikan dalam bab dua bukunya tentang media sosial dan di sana diuraikan: pengertian, jenis-jenis media sosial, dan kelebihan dan kekurangan media sosial. Hal ini penting karena penggunaan internet yang tidak dimbangi dengan kecerdasan digital akan mengakibatkan pengguna internet menjadi korban kejahatan digital atau bahkan menjadi pelaku kejahatan digital. 
 
Untungnya di Indonesia ada undang-undang yang mengatur tentang Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik disebut dengan UU ITE. Tidak banyak yang membaca Undang-Undang tersebut. Terbukti pasal 27 adalah pasal yang sering dilanggar oleh warganet, Isi dari UU ITE pasal 27 adalah tentang melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan (ayat 1), muatan perjudian (ayat 2), muatan penghinaan dan/atau nama baik (ayat 3), dan muatan pemerasan dan/atau pengancaman (ayat 4).
Pasal 27 UU ITE lahir untuk melindungi warga negara dari berbagai jenis kejahatan siber. Karena pengguna internet terbesar di Indonesia dalah anak usia 15-19 tahun maka mayoritas sasaran empuk kejahatan siber adalah anak-anak usia tersebut. Jenis-jenis kejahatan siber di antaranya: sexortion, penipuan, konten SARA dan etnis, pencemaran mana baik, hacking dan illegal acces, dan pencurian data.
Pesan kepada Pembaca 
Pesan yang ingin disampaikan Bu Iin kepada pembaca sederhana yakni pergunakan internet secara bijak dan ambil manfaatnya untuk kepentingan orang banyak. Sebagai salah satu pengguna internet terbesar di dunia, tentu yang dibutuhkan adalah pendidikan untuk berinternet secara sehat dan bijak.
“Di dalam buku saya, saya juga menulis tentang manfaat yang diperoleh dengan membangun digital mindset,” katanya.
Penutup
Tantangan Prof. Eko dengan memberi waktu yang singkat untuk menyelesaikan buku ternyata alasan supaya kita berlari dan berlari memenuhi deadline, Bu Iin selanjutnya. Namun, bekerja dari rumah, berkejaran dengan waktu, dan harus menghasilkan karya terbaik pasti menimbulkan  kejenuhan. Beruntungnya, Bu Iin mempunyai hobi memasak. Maka, jika rasa jenuh hinggap memasak menjadi cara tersehat untuk mengatasinya. Hikmah di balik tenggat yang begitu singkat adalah berusaha untuk setiap hari menulis dan menulis. Akhirnya, tepat pada malam takbir, sesuai deadline, buku itu pun selesai. Dengan manis Bu Iin mengungkapkan  setelah hujan pasti ada pelangi.
Guru adalah pengguna TIK. Guru pun mengakses internet. Oleh karena itu, guru harus memanfaatkannya dalam pembelajaran. TIK diajarkan secara aplikatif sesuai bidang studi. Karena internet sebagai sumber sekaligus media pembelajaran, Ibu dan Bapak guru wajib memberi pembelajaran tentang pemanfaatan internet terutama dalam bermedia sosial. Menjadi teladan bermedia sosial yang sehat sekaligus melakukan sosialisasi tentang UU ITE.
TIDAK ADA KATA TERLAMBAT (dicetak dengan huruf kapital) untuk memulai sesuatu yang baik. Bapak Ibu semua pasti bisa menghasilkan karya yang akan dikenang anak cucu dan generasi mendatang.  Ide menulis bisa dari mana saja, dari pengalaman diri, lingkungan keluarga, tempat kerja dan masyarakat atau tantangan dari orang ketiga seperti tantangan Prof. Eko kepada penulis yang sudah kita kenal, Cikgu Tere, Pak Romi, dan Bu Iin.  Dengan begitu, menulis di luar bidang dapat menjadi tantangan sekaligus kesenangan tersendiri, karena harus belajar dari nol dan bekerja keras.
Kalimat sakti dari Om Jay menulislah setiap hari, maka keajaiban akan datang dijadikan sebagai motivasi menulis. Kata Syaikh Hasyim Asy’ari, “Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?” dan tulisan Pramoedya Ananta Toer: “Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah” adalah motivasi lainnya.
Semangat menulis!
Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan, 15 Agustus 2020
Hujan telah reda, PLN telah menyalakan lampunya, tetapi Indihome masuh belum bersahabat.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

23 thoughts on “Gelora Semangat Lahirkan Buku Hebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *