Menulislah dan Berkarya agar Kamu Hidup Beribu-ribu Tahun

Kulwap Ketujuh: Motivasi dan Pengalaman Menulis dari Bu Nora

 

Jujur, istilah kulwap baru saya peroleh pada pertemuan kali ini. Dari seorang Guru yang relatif masih berusia muda, Noralia Purwa Yunita. Bu Nora, demikian panggilan akrab perempuan yang sebelumnya dipanggil Nita dalam keluarganya, menulis:

Dengan modal nekat dan penasaran, setelah kulwap selesai, saya japri beliau dengan menyatakan bersedia untuk dapat menulis buku dalam seminggu.
Kata kulwap juga kembali saya temukan di blog pribadinya ketika penasaran ingin tahu cara membukukan hasil resume latihan sebagaimana disarankan ketika Bu Nora menjadi narasumber (link/tautan blog pribadi beliau saya sertakan di akhir tulisan). Hal ini ini cukup “menohok” perasaan saya karena ternyata sejauh ini baru bertemu dengan istilah kulwap. Saya ternyata miskin diksi karena kurang membaca. Ya Tuhan, sudah kurang membaca tetapi masih suka gaya-gayaan memberi salam: Salam literasi! Aha…jadi malu saya.
Biarlah lebih baik mengaku dan sedikit malu tetapi akhirnya menjadi tahu bahwa kulwap adalah singkatan dari Kuliah WhatsApp. Keikutsertaan saya dan rekan-rekan seangkatan karena ada pelatihan yang di buat oleh Om Jay melalui grup WA bertajuk Belajar Menulis Gelombang 15. Narasumber sharing materi melalui pesan suara, video, maupun pesan berupa tulisan sebagaimana lazimnya. Semoga cukup saya saja yang baru tahu.

Baiklah saya teruskan resume kulwap pada tanggal 17 Agustus 2020 dengan tema “Motivasi dan Pengalaman Menulis” dari Bu Nora semoga sesuai seperti apa yang sudah saya tuliskan tentang resume di blog ini juga dan tulisan Bu Nora tentang tips membuat resume yang baik. 

Menjadi penulis dan tulisannya diterbitkan oleh penerbit indie bahkan penerbit mayor selalu diawali dari kegiatan serupa yang dilakukan jauh-jauh di masa lalu. Selalu diawali oleh proses yang cukup panjang. Seperti para narasumber kami sebelumnya. Bunda Kanjeng memulai menulis ketika masih sekolah dasar. Mr. Bams memulai menulis ketika membuka taman bacaan masyarakat dan mengumpulkan referensi untuk dongengnya. Cikgu Tere menulis serius ketika mengikuti kulwap Belajar Menulis Gelombang 4. Pak Roma memulai serius menulis ketika tergabung di kulwap Belajar  Menulis Gelombang 8 dan 9. Ibu Betti Risnalenni menulis karena menguasai aritmetika dan menulis buku tentang itu untuk lembaga kursus dan lembaga pendidikan yang didirikannya, dan Bu Iin yang sebelum menulis adalah pembaca yang baik dan menulis untuk keperluan kepegawaian. Demikian pula narasumber ketujuh kami, Ibu Noralia Purwa Yunita.

Sesuai namanya, Purwa Yunita adalah putra pertama pasangan Bapak Ali Achmadi, S.Pd dan Ibu Noor Fatkhiyah, S.Pd.SD. Ia memulai kenal dunia menulis semenjak kuliah S1. Waktu itu diajak untuk ikut serta lomba karya tulis ilmiah tingkat provinsi oleh kakak kelas. Meskipun awalnya ragu dan penasaran, akhirnya ikut juga pada lomba tersebut, dan akhirnya menang sebagai juara ke-3 tingkat provinsi. Waktu itu, menurut pengakuannya, belum ada pengalaman sama sekali tentang menulis, hanya modal nekat dan otodidak tetapi membuahkan hasil.

Kemenangan dan mendapat hadiah ternyata menjadi motivasi ekstrinsik Bu Nora untuk ketagihan menulis dan mengikuti lomba. Belajar hanya dengan kakak kelas dan dosen pembimbing, namun beberapa kali ikut lomba dan beberapa kali pula menjadi juara. Uang hadiah juara digunakannya untuk menyelesaikan kuliah S1 dan S2. Bukan main!

Selesai kuliah, Bu Nora pun bekerja. Kesibukannya bekerja dan berkeluarga ternyata bisa membuat semangat menulis menjadi luntur. Setidaknya itu yang dialami Bu Nora. Mungkin karena susah mengatur waktu, sehingga tidak menyempatkan diri untuk kembali berkarya.

Namun, sebagai makhluk sosial, Bu Nora memiliki rekan sejawat, teman kerja. Salah satu temannya bekerja rupanya memberikan dorongan dan memantiknya agar kembali berkarya. Apalagi di saat pandemi Covid-19, kegiatan di luar rumah nyaris terhenti. Orang menghindari kerumunan dan bersentuhan. Demikian pula pembelajaran. Pembelajaran dilakukan tidak bertatap muka tetapi secara daring maupun luring, pembelajaran jarak jauh.

Guru bekerja dari rumah atau work from home. Dengan begitu, waktu “luang” cukup banyak untuk memelajari dan melakukan sesuatu, termasuk menulis. Bu Nora yang sudah terampil menulis, akhirnya mengenal grup menulis Om Jay dan kawan-kawan. Kulwap pun dia lakukan. Berawal dari situlah, ia dapat berkarya lagi. Tulisannya tentang pembelajaran daring sebagai solusi dimuat di media suaraguruonline.com adalah karya pertama yang terpublikasi di media daring.

Opini Bu Nora di suaraguruonline.com (dok. Nora Purwa Yunita)

Tulisan kedua berhasil terbit di majalah Geliat Gemilang Bandung

Gambar Tulisan Bu Nora di Majalah Geliat Gemilang Bandung (Dok. Noralia Purwa Yunita)

Pencapaian terbesar sesudah itu adalah menulis diterima oleh penerbit mayor, Penerbit Andi. Buku pertamanya hasil kolaborasi dengan Prof. Eko (Richardus Eko Indrajit) yang rutin memberikan materi pada seminar virtual di channel youtubenya.

 

Buku “Digital Mindset” (Dok. Noralia Purwa Yunita)

Satu lagi hasil resume gelombang 8 sedang tahap proses terbit adalah “Jurus Jitu Menulis dan Berprestasi”.

Gambar Sampul Buku “Jurus Jitu dan Berprrestasi” (Dok. Noralia Purwa Yunita)

Tidak ketinggalan, dari grup menulis itu, Bu Nora mendapat apresiasi dari penerbit Andi dan PGRI sebagai tulisan yang menginspirasi dan mendapat hadiah juga.

Ibu guru Pembimbing Ekstrakurikuler KIR SMP yang juga anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran Prakarya di daerahnya, selain mengajar ia juga aktif menulis di blog dan tergabung dalam komunitas sejuta guru ngeblog serta anggota komunitas koordinator virtual Indonesia (KKVI). Jadi tidak keliru jika pada kesempatan kali ini beliau memberikan tips bagaimana menulis agar berhasil.

Tips Ke-1 Ambil Kesempatan yang Ada

Banyak orang mengatakan, kesempatan tidak datang dua kali. Kesempatan bisa diartikan juga peluang. Ketika ada kesempatan dan memiliki tulisan dengan tema yang dimaksud, segera saja saya kirimkan tulisan tersebut untuk diikutkan pada kegiatan lomba atau event menulis lainnya.
Buku pertama Bu Nora berjudul “Digital Mindset” adalah kesempatan yang diberikan oleh Prof. Eko  ketika menjadi narasumber di grup 8. Beliau memberikan tantangan kepadanya untuk berkolaborasi dengan beliau, menulis buku dalam seminggu. Tema sudah ditentukan beliau yaitu mengambil sebuah judul dari kanal YouTube beliau. Dengan modal nekat dan penasaran, setelah kulwap selesai, Bu Nora menghubungi beliau secara pribadi dengan menyatakan bersedia untuk dapat menulis buku dalam seminggu.

Tips Ke-2: Beri Target

Sesuaikan target dengan outline yang telah kita buat. Tentunya outline harus selaras dengan tema yang diambil. Misal di outline kita ada 5 bab, kita buat target kapan 5 bab itu harus selesai. Jika 5  bulan selesai 5 bab, berarti wajib 1 bulan selesai 1 bab.

Contoh outline buku “Digital Mindset”.

Gambar Daftar Isi Buku Karangan Bu Nora (Dok. Noralia Purwa Yunita)

Outline yang dibuat oleh Bu Nora sebisa mungkin mengandung unsur 5W + 1 H (what, why, who, when, where dan how). Tapi tidak semua buku bisa diterapkan rumus tersebut. Minimal menggunakan rumus 2W+1H sudah cukup (what, why dan how), itu yang disampaikan oleh pak Akbar Zainuddin (narasumber dalam kulwap yang diikuti Bu Nora).

Tips Ke-3: Catat Referensi

Setelah kita memiliki outline dan target, selanjutnya mencari referensi sesuai dengan outline yang ada. Referensi dapat berupa jurnal ilmiah (nasional dan internasional), buku-buku, dan modul dari Kemdikbud. Referensi boleh secara online maupun offline namun harus terkini dan teraktual.

Tips Ke-4: Disiplin Waktu

Terkadang outline sudah bagus, target sudah ada, referensi sudah lengkap, tapi dalam perjalanan, kadang rasa jenuh dan malas itu datang sehingga akhirnya berhenti menulis. Solusinya kembali kepada si penulis kapan waktu terbaik untuk menulis. Waktu tersebut bebas, yang penting waktu ternyaman untuk berkarya. Misalnya, di atas jam 9 setelah anak-anak/anggota keluarga tidur, karena prinsipnya, menulis itu hobi. Hobi harus dilakukan dengan senang, namun keluarga juga harus senang.

Yang dilakukan Bu Nora,  biasanya ia meliburkan diri menulis 2 hari, yaitu Minggu malam dan Rabu malam. Pada kedua waktu itu dia memfokuskan membuat konten di kanal  YouTube-nya untuk membuat media pembelajaran.

Tips Ke-5: Tulis

Setelah semuanya, proses terakhir yaitu menuliskan isi buku kita sesuai outline yang ada. Perlu diingat, jangan terlalu terpaku buku kita harus terbit di penerbit mayor. Mengapa? Jika seperti itu,  dikhawatirkan nanti kita kecewa jika hasil tidak sesuai harapan.

Tips Tambahan: Banyak-banyaklah Membaca

Tips tambahan dari Ibu Nora adalah perbanyak membaca. Membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan. Dengan banyak membaca, diksi kita bertambah (nah, kena lagi, deh). Diksi yang kaya membuat tulisan semakin renyah dibaca. Membaca, melakukan observasi, dan terus belajar akan meningkatkan kualitas tulisan.

Tujuan menulis adalah agar tulisan kita dibaca oleh orang lain. Bagaimana cara mencari tema tulisan yang disukai oleh pembaca? Bu Nora mengatakan bahwa untuk mengetahui tema yang disukai pembaca, bisa meminta bantuan google trend. 

Sudah ada 7 narasumber sejauh ini, jika ditarik benang merah di antara mereka maka akan keluar satu kalimat perintah yang terdiri dari satu kata.

Menulislah!

Sebagai penutup Noralia Purwa Yunita, Bu Guru IPA SMPN 8 Semarang, blogger, penulis buku, istri dan ibu yang baik memberi pesan:

Menulislah, karena dengan menulis dan berkarya adalah caramu untuk hidup 1000 tahun bahkan beribu-ribu tahun lagi 😊.

Kumpulan tautan tulisan Bu Nora:

http://suaraguruonline.com/pembelajaran-daring-sebagai-solusi/
https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/05/jurus-4r-mencatatkan-sejarah-lewat.html
https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/06/tips-membukukan-hasil-resume-pelatihan.html
https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/04/biskuit-pena-petai-cina-untuk.html
https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/04/mendulang-berkah-dari-sampah.html
https://noraliapurwa.blogspot.com/2020/04/bisnis-brownies-binang-sebagai-upaya.html

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

21 thoughts on “Menulislah dan Berkarya agar Kamu Hidup Beribu-ribu Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *