Kita Mampu Kita Bisa, Motivasi dari Bu Salamah


Bravo! 

Kata seru yang berarti bagus atau bagus sekali itu, sebenarnya biasa saja. Namun, karena diucapkan oleh Ibu Salamah, M.Pd., terasa beda. Dengan senyum khasnya, Bu Guru penulis puluhan buku ini  menyapa melalui tayangan video pembuka. Bravo! Penuh semangat dan optimis.
Pembaca, Sahabat Guru Indonesia!
Pelajaran motivasi menulis kali ini berasal dari motivator yang tidak hanya berhasil memotivasi diri sendiri tetapi juga motivator yang berhasil memotivasi orang-orang di sekitarnya. Giliran kita, saya dan Anda merasakan suntikan energi untuk mau berkarya bagi diri kita sendiri dan memberi warisan kepada anak dan cucu kelak.
Kecanduan Menulis 
Kecanduan tidak akan terjadi tanpa diawali dengan mencoba. Demikian halnya dengan kecanduan menulis, tentu diawali dari karya yang dihasilkan mula pertama. Begitulah, satu tahun setelah Ibu Salamah, guru SDN 2 Wonosobo diangkat sebagai PNS, mulai menangkap kabar bahwa tahun 2012 pemerintah akan memberlakukan uji kompetensi bagi guru. Oleh karena itu, mulailah ia belajar untuk membedah kompetensi guru yang akan diujikan.  Hasilnya adalah guru-guru “sepuh” alias senior yang gamang menghadapi uji kompetensi guru, beberapa di antara mereka memintanya untuk membimbing bagaimana menaklukkan soal-soal uji kompetensi awal. Mulailah guru-guru tersebut berkumpul dan mengundangnya untuk membimbing dan belajar menyelesaikan soal-soal uji kompetensi yang akan mereka hadapi.
Apa yang disampaikan kepada rekan-rekannya yang lebih senior itu ia tulis. Tulisan-tilisan itu ia bukukan dan jadilah buku karyanya yang pertama, Uji Kompetensi Awal. Buku yang diterbitkan dengan perjuangan karena pada saat itu, Bu Salamah belum memiliki jaringan untuk berhubungan dengan penerbit.
Guru yang juga mengenal dunia maya melalui media sosial Facebook ketika berselancar  menemukan ada sesorang yang ternyata seorang editor sebuah perusahaan penerbitan. Dengan memberanikan diri ia memberi pesan langsung melalui kota pesan di facebook kepada orang tersebut dan gayung bersambut, pesannya dibalas. Sejak saat itu terjalinlah komunikasi yang baik dan hasilnya, bukunya pun terbit dengan judul Uji Kompetensi Awal.
Guru baru, guru sekolah dasar, menerbitkan buku! Hal yang sangat luar biasa, dan itu membahagiakan Bu Salamah. Betapa tidak? Pada saat itu, di Kabupaten Wonosobo belum lazim seorang guru menulis buku. Di antara mereka ada yang beranggapan bahwa menulis buku adalah hal yang tidak penting. Menurut pengakuannya, pada saat itu banyak pendidik dan dunia pendidikan memandang miring dirinya menulis buku.
“Menulis itu tidak penting, tidak layak bagi seorang guru. Untuk apa?” begitu kata mereka.
Namun siapa sangka buku hasil karya guru sekolah dasar, masih baru lagi belum genap dua tahun, di pasaran laku keras.
Pada tahun 2012 uji kompetensi guru UKG dimulai. Berdasarkan pengalaman penulisan buku sebelumnya, ia menulis buku berjudul sama dengan kegiatan yang dilakukan, yaitu UKG (Uji Kompetensi Guru). Menurut penuturan ibu guru yang pintar menari ini, ilham diperoleh entah dari mana datangnya dan dia pun mengira-ira (memrediksi) soal yang akan keluar. Bagaimana ia mengira-ira?
Kompetensi guru ada empat: pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Dua di antaranya diujikan secara tertulis, yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Akhirnya, dengan ketetapan hati ia kembangkan isi silabus yang dibaca, penuh kehati-hatian. Mencocokkan kompetensi dasar, indikator, dan tujuan ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Satu soal yang dibuat ada yang membutuhkan waktu hingga 4 jam. Hal ini artinya, buku yang Bu Salamah tulis tentang UKG adalah buku yang membutuhkan energi yang sangat besar.
Namun apa lacur. Alih-alih buku yang ditulisnya dengan cucuran keringat mendapat penghargaan layak dengan cara membeli bukunya yang asli, ini malah digandakan dengan mesin fotokopi di sebuah “fotokopian” (istilah populer untuk toko yang melayani jasa penggandaan dengan mesin fotokopi). Tidak tanggung-tanggung, ratusan eksemplar. Yang menyedihkan, mereka yang melakukan adalah rekannya sendiri, para guru. Bahkan, sebagian dari mereka sudah mendapat tunjangan profesi!
Dari buku seharga 55.000 rupiah itu, penulis mendapat royalti sebesar 10% dari harga buku dan dipotong PPh 15%. Alhasil, royalti dari penjualan buku selama 6 bulan hanya sebesar 750.000 rupiah. Bu Salamah tidak mempermasalahkan angka, jika memang haknya hanya sebesar itu. Namun itu terjadi karena sebagian besar bukunya tidak dibeli tetapi difotokopi. Memprihatinkan, ya?
Semestinya ia menangis, sedih. Namun bukan kecilnya royalti yang diterima yang membuatnya sedih. Ia sedih karena mental sebagian masyarakat, bahkan masyarakat intelektual seperti guru, belum menghargai kekayaan intelektual rekan mereka sendiri.
Melihat kenyataan buku karyanya difotokopi, dikumpulkanlah bukti-bukti dan melaporkannya kepada kepala dinas pendidikan di daerahnya bahwa karya intelektualnya dibajak dengan cara tidak beradab. Sambutan yang baik dan apresiasi yang tinggi dari kepala dinas ia terima dengan menyebutkan bahwa seharusnya guru-guru muda yang berkarya jangan dijatuhkan. Akhirnya, berkat buku UKG yang ditulisnya, Bu Salamah sering diundang menjadi narasumber uji kompetensi guru. Tuhan Mahaadil, “kerugian” karena bukunya difotopi, diganti-Nya dengan diisinya pundi-pundi sebagai pemateri, sebagai narasumber UKG.
Dari sinilah, kecintaannya kepada kegiatan menulis semakin tinggi. Kegiatan menulis semakin membuatnya kecanduan. Pada pertemuan malam itu, kepada kami ia menggambarkan betapa kecanduannya akan menulis dengan mengucapkannya hingga lima kali: menulis, menulis, menulis, menulis, dan menulis. Hingga akhirnya banyak buku yang ia tulis.
Tak Surut Langkah untuk Suatu Tujuan
Menulis dan menulis terus dilakukan Bu Salamah. Semakin banyak menulis, semakin mencintai menulis.  Semakin banyak menulis, semakin mencintai tulisan-tulisannya. Bukan hanya tulisan di media cetak melainkan juga tulisan di media sosial. Selain facebook, akun instagram adalah media tempat ia menuliskan kegundahan, kegalauan, keterpurukan, dan bagaimana harus bangkit dari sana. Motivasi-motivasi yang ia tuliskan berasal dari quote-quote yang ia salin-tempelkan di sana (instastory). Ternyata pelanggannya (subscriber) yang mengunjungi dan membaca tulisan motivasinya mencapai 600-700 orang dalam sehari-semalam.
Selain menguji dengan kebahagiaan, Allah SWT berkuasa menguji hamba-Nya dengan kedukaan. Pada tahun itu juga, dokter mensuspek Bu Salamah bahwa beliau tidak bisa hamil. Wanita tegar ini, tidak percaya. Ia terus berusaha bagaimana agar ia bisa seperti wanita lainnya, hamil dan melahirkan. Demi tujuan itu, tetap semangat  mencari cara bagaimana agar bisa memiliki anak. Satu-satunya cara adalah dengan jalan bayi tabung. Bisa dibayangkan betapa mahalnya, sementara gaji hanya sekitar 2.800.000-an sebulan?
Lagi-lagi semua adalah kekuasaan Tuhan. Jika Dia berkehendak, walaupun hamba-Nya mengalami keterpurukan, kesakitan, serta hal buruk lainnya, Allah SWT menolongnya. Pada bulan Agustus 2015, Bu Salamah berhasil menerbitkan buku, yang menurutnya fenomenal. Buku itu berjudul “Drilling Super Lengkap Semua Jenis Soal Psikotes“. Mengapa fenomenal? Karena terbit bulan Agustus 2015, pada  bulan Oktober terjual hingga 2000 eksemplar, best seller! Uang hasil royalti buku dapat digunakannya untuk membaiayai itu semua. Termasuk setelah anaknya lahir, ia masih diuji dengan adanya kista di otak buah hatinya, biayanya ratusan juta rupiah.
Kemudahan lain yang didapat Bu Salamah adalah sebagai penulis tidak lagi mengajukan proposal kepada penerbit. Bahkan sebaliknya penerbit yang menghubunginya. Saya (penulis blog ini) sangat terkesan dengan cerita beliau ketika penerbit meneleponnya dan bertanya: “Bisa membuat buku ini, Bu Salamah?” Dengan tegas dijawabnya: “Siap!” Bukan main!
Berkah yang didapat Bu Salamah dari buku Drilling Psikotes, selain menghasilkan uang, adalah mau dan mampu memberi manfaat bagi sesamanya menjadi mentor psikotes. Setiap hari orang bedatangan ke rumah untuk mengikuti bimbingan psikotes, CPNS. Prestasi luar biasanya adalah banyaknya orang yang lolos menjadi CPNS dan mendapat nilai tertinggi. Pada tahun 2019 bahkan 98% yang les di tempatnya lolos SKD CPNS. Separuh lebih di antaranya lolos mengikuti SKB. Pada saat ia menuturkan ceritanya malam itu, masih ada 25 guru SD yang siap untuk ikut tes SKB. Secara spontan bibir ini berucap subhaanallaah.
Mengukir Prestasi 
Pada tulisan sebelumnya, saya pernah menggambarkan seseorang yang pandai bermain gitar tetapi kurang pandai mengajari orang bermain gitar. Silakan lihat lagi pada artikel berjudul Malasmu menghancurkanmu! Prestasi yang diukir oleh Bu Salamah tidak hanya untuk dirinya sendiri. Tangan dingin  beliau membimbing anak didik (siswa) menjadi juara pada beberapa perlombaan. perlombaan tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Sebut saja misalnya Juara II SAINS OSN tingkat nasional, Juara Pidato tingkat nasional, Juara Tari tingkat provinsi, dan mengikutsertakan anak didik sebagai peserta lomba apoteker cilik tingkat dunia. Itu semua mengundang decak kagum saya.
Satu lagi yang bagi penulis blog ini sangat memukau adalah kepiawaian beliau membimbing muridnya menulis. Saya terkagum-kagum, karena menulis adalah keterampilan merangkai kata. keterampilan itu hanya teruwjud jika kosakata yang dimiliki banyak dan bervariasi. Belum lagi menuangkan ide agar rangkaian kata yang dihasilkan memiliki pesan dan pesan yang dituliskan harus dipahamai pembaca sebagaimana yang dikehendaki penulis. Sungguh tidak mudah.
Menurut penuturan Bu Salamah, guru yang merindukan majalah anak-anak ini, memulai dari materi pada kegiatan belajar mengajar yang ada pada buku tematik muatan pelajaran  Bahasa Indonesia. Di sana pasti ada pelajaran mengembangkan ide pokok paragraf. Melaui materi pelajaran ini, Ibu Guru kreatif ini mengetahui bakat menulis yang ada pada anak didiknya. Dilanjutkan pendekatan personal dan pendekatan psikologis dengan siswa dan orang tua untuk meyakinkan bahwa anak mereka mampu menulis.
Akhirnya, berkat ketelatenan Bu Salamah, terlahir penulis cilik dari tangan dinginnya dan mampu menerbitkan buku hasil karyanya. Sayangnya tidak sempat menanyakan siapa, judul buku, dan penerbitnya. Andaikata Bu Salamah berkenan singgah ke blog saya dan sempat membaca resume ini semoga berkenan menjawab di kolom komentar agar saya, terutama, dan rekan-rekan seangkatan memiliki kemampuan seperti yang beliau miliki yakni membimbing peserta didik mengembangkan potensi menulisnya.
Ibu Salamah, pemenang II rekor guru menulis tingkat nasional tahun 2018, memiliki banyak prestasi lain. Karya inovatif yang dilombakan, video-video pembelajaran, dan karya seni musik untuk pembelajaran hasil kolaborasi dengan mahasiswa jurusan musik adalah beberapa karya monumentalnya. Namun seperti penuturan sebelumnya bahwa malam itu bukan ingin menunjukkan banyaknya buku atau karya yang dihasilkan atau piagam dan penghargaan yang sudah diperoleh tetapi lebih pada memberikan motivasi dan ajakan kepada para guru agar mampu bangkit jika mengalami keterpurukan, membulatkan tekad, meluruskan niat demi mencapai tujuan.
Tidak ada nada sedih meski bersedih, tidak ada nada duka meskipun mengalami duka. Memberi contoh memang mudah tetapi menjadi contoh sebagaimana Bu Salamah bukan perkara sederhana. Dibutuhkan kemauan dan kemampuan berbagi ilmu dan belajar dari pengalaman.
Terima kasih Ibu Salamah, kerendahan hati Anda untuk tidak menceritakan banyaknya prestasi tetapi menceritakan bagaimana jatuh bangun dan membimbing orang-orang di sekitar Anda sangat memotivasi.
Kata BRAVO dengan kepala tangan penuh semangat dan untaian kata terakhir yang berbunyi kita bisa, kita mampu, dan kita akan melewati setiap rintangan dengan mudah membuat semangat saya tergugah.
Malam yang dingin di Tegalrejo, Musi Rawas, Sumatera Selatan

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

14 thoughts on “Kita Mampu Kita Bisa, Motivasi dari Bu Salamah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *