Menerbitkan Buku

Gambar Paparan Pak Joko Irawan Mumpuni (Dok. Pribadi)

 

Seru sekali Jumat siang pukul 13.15 WIB diundang ke Ruang Pertemuan Zoom oleh Pak Eko Indrajit. Ya! Profesor Eko Indrajit mengundang kami, kandidat penulis buku di WAG September Ceria, untuk belajar bagaimana proses penerbitan buku melalui penerbit mayor yang sudah profesional, Penerbit Andi Yogyakarta. Acara dipandu langsung oleh Prof. Eko dengan narasumber Bapak Joko Irawan Mumpuni. Banyak hal yang dijelaskan. Penjelasan tersebut bertambah menarik karena disertai tayangan slide sehingga memudahkan peserta memahami materi. Mari kita simak!
Produk buku di pasar dibedakan menjadi dua: teks dan nonteks. Buku-buku teks adalah buku yang digunakan di sekolah dari TK hingga SLTA. Jika di perguruan tinggi buku teks terbagi menjadi eksak dan noneksak. Buku-buku nonteks meliputi buku fiksi dan nonfiksi. Buku fiksi terdiri dari komik, sastra, dan buku cerita anak. Buku nonfiksi bisa saja terdiri dari buku agama, buku anak, umum populer, hobi, dan komputer. Mana yang akan dipilih penulis, terserah asalkan tepat temanya.
Ketepatan memilih tema itu penting. Ketepatan memilih tema menjadi pertimbangan penerbit untuk menerbitkan buku. Jadi, ada naskah yang diterima dan naskah yang tidak diterima salah satunya dipengaruhi ketepatan memilih tema. Ketepatan memilih tema menjadi penting, karena penerbit adalah lembaga profitable. Penerbit tidak mau menerbitkan buku kalau tidak yakin buku itu akan mendatangkan keuntungan, artinya buku itu laku. Kok begitu? Iya, penerbit kan memiliki karyawan yang harus dihidupi.

Eksosistem penerbitan sebenarnya rumit, tetapi jika disederhanakan hanya terdiri atas pembaca (pasar) dan pelaku industri yaitu penyalur, penerbit, dan penulis. Jika penerbit menerbitkan buku dan tidak laku, setelah diobral juga tidak laku maka jalan terakhir adalah memusnahkan. Buku tersebut dibakar. Betapa besar kerugian jika buku itu tidak laku di pasaran. Oleh karena itu betapa tema dan judul itu sangat penting. 

Adanya pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) telah menumbangkan tidak kurang dari 40 produk, bisnis, dan kebiasaan. Beberapa di antaranya: hanshake dan cipika-cipiki, kepercayaan konsumen, mudik, polusi udara, bisnis kapal pesiar, konser dan festival, dan sebagainya.
Gambar 40 Produk yang Tumbang karena Corona (Dok.yuswodadi.com) 
Itulah produk, bisnis, dan kebiasaan yang “terbunuh” akibat virus Corona. Penulis jangan membuat buku berisi tema-tema tersebut. Sebaliknya buatlah buku yang berisi tema-tema pada bidang yang sedang bertumbuh. Bidang-bidang yang bertumbuh dilansir oleh  ternyata ada kurang lebih 100 prediksi bidang yang akan tumbuh pasca pandemi. Inilah tema-tema tulisan yang mestinya dibidik jika akan membuat buku.
Gambar 100 Prediksi Bidang yang Mengalami Pertumbuhan (Dok. yuswohady.com)

Masa pademi yang berlangsung sejak Maret 2020 meningkatkan animo masyarakat untuk menulis. Naskah yang diajukan kepada penerbit secara kuantitatif meningkat tajam dibandingkan dengan banyaknya naskah yang duajukan sebelum pandemi. Sementara banyaknya buku yang diterbitkan dalam satu bulan terbatas. Oleh karena itu, penilaian terhadap naskah yang masuk mutlak dilakukan. Sistem penilaian terhadap suatu naskah yang laku di pasaran selain mempertimbangkan tema adalah editorial, peluang potensi pasar, keilmuan, dan reputasi penulis.

Penilaian terhadap editorial bobot maksimal adalah 10%, peluang potensi pasar  bobot penilaiannya 50% sampai dengan 100%,  keilmuan bobot penilaiannya hingga 30%, dan reputasi penulis paling sedikit 10% dan maksimal 100%. Meskipun tata tulis yang berkaitan dengan penerapan ejaan atau penulisan kata bukan menjadi pertimbangan utama, tetapi menurut saya (penulis blog ini) sedikitnya kesalahan akan mengurangi “kekesalan” ketika membaca naskah.

Hal lain yang perlu diperhatikan penulis pemula adalah tren suatu tulisan. Misalnya, pada saat ini penulis mengupas tentang batu akik. Untuk mengetahui apakah tema tentang batu akik masih tren di masyarakat, kita dapat meminta bantuan kepada google tren. Dengan mengetikkan kata “batu akik” pada kotak pencarian akan terlihat tren tulisan tentang  batu akik pada kurun waktu tertentu. Ambil contoh misalnya selama 5 tahun  terakhir.

Tren tentang batu akik pada kurun waktu lima tahun terakhir dapat dilihat pada gambar berikut.

Google Trends (Dok. Pribadi)

Pada bulan Agustu 2015 batu akik menempati peringkat hingga 100. Sementara pada Agustus 2020 perbincangan tentang batu akik hanya bertahan pada angka 5. Artinya, naskah yang membahas tentang batu akik pada saat ini tidak layak untuk diterbitkan karena kemungkinan laku sangat kecil.

Dari sisi penulis, tingkat kepopuleran dapat juga dilihat melalui internet. Jika penulis seorang akademisi, dosen misalnya, dapat dilihat pada google cendekia. Jika penulis pemula, dari mana melihat kepopulerannya? Ternyata media sosial yang dimiliki dapat menjadi menjadi tolok ukur. Berapa teman di FB, folower di twiter, folower di IG, dan komunitas medsos lainnya.

Berkaitan dengan kepopuleran tema dan kepopuleran penulis, penerbit membaginya menjadi 4 kuadran. Kuadran Pertama, tema tak populer tetapi penulis populer. Kuadran Kedua, tema populer dan penulis populer  (inilah pertimbangan utama). Kuadran Ketiga, tema populer tetapi penulis tak populer. Kuadran Keempat, tema tak populer dan penulis tak populer.

Tiga hal pada tiga kuadran salah satunya terpenuhi, akan menjadi pertimbangan penerbit untuk menerbitkan buku Anda, kecuali kuadran keempat: tema tak populer dan penulisnya pun tidak populer.

 

https://www.yuswohady.com

Malam Minggu di D. Tegalrejo, Musi Rawas, Sumatera Selatan

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *