Memaksa Diri Menulis

Sabtu dan Minggu, 29 dan 30 Agustus 2020 adalah hari yang menguras pikiran. Betapa tidak, setelah mengikuti pemaparan dari narasumber menulis kami pada Rabu malam, melanjutkan kegiatan pada Jumat siang pukul 14.00 WIB. Kami pun masih melanjutkan kegiatan pada malam harinya. Kegiatan apa sih? Apalagi jika bukan kegiatan belajar menulis online yang mulai memasuki tahap serius, belajar menerbitkan buku. Tidak hanya teori tetapi langsung mempraktekkan apa yang sudah dipelajari.
Rabu malam, Prof. Eko memberikan materi. Hasil dari bincang-bincang yang dipandu Ibu Sri “Kanjeng” Sugiastuti Prof. Eko mengajak sebagian peserta yang berhasil mengajukan calon judul buku mengikuti paparan tentang tema dan judul pada hari Jumat siang. Setelah mengikuti paparan dari Pak Joko, peserta diminta¬†melanjutkan kegiatan dengan menyusun Table of Content (ToC) dari judul yang diajukan.
Satu demi satu, para peserta mengajukan rancangan ToC-nya di Grup September Ceria, grup calon penulis yang digagas Prof. Eko Indrajit yang menggandeng Bapak Joko Irawan Mumpuni dari Penerbit ANDI. Kebahagiaan mereka yang berhasil menyusun TOC bertambah ketika peserta diberi Certificate of Completion dari Prof. Richardus Eko Indrajit.

 

 

Anggota grup selain Prof. Eko dan Pak Joko sebanyak 46 orang. Sebagian adalah mentor kami yang sudah berhasil menerbitkan buku pada tahap sebelumnya. Mereka seakan berlomba untuk segera melaporkan Table of Content dari calon karyanya. Aroma perlombaan semakin terasa apalagi setelah terbit sertifikat tersebut.
Energi benar-benar terkuras. Apalagi aku bukanlah orang yang biasa menulis. Jujur saja, mulai giat menulis setelah mengikuti kulwap Grup Menulis Gelombang 15 Bersama Om Jay, PGRI, dan Penerbit ANDI.  Aku adalah penulis yang dipaksa dan sadar tidak memiliki pengalaman serta miskin kosa kata. Namun setelah berhasil menyusun ToC dan ikut pula mendapat sertifikat, hati rasanya berbunga-bunga. Rasa lega meyelimuti dada dan akhirnya bisa melanjutkan menulis resume dari narasumber keduabelas.
Itulah keseruan yang menguras energi. Energi postif untuk mewujudkan impian. Impian untuk meninggalkan jejak sejarah berupa buku yang mencantumkan nama agar dapat dinikmati oleh anak, cucu, dan cicit di masa mendatang. Tidak ingin keseruan itu brlalu begitu saja, aku dokumentasikan itu ke dalam tulisan. Seakan tidak percaya, memaksa diri untuk menulis, sebagian “dipaksa” oleh tugas, ternyata mampu menghasilkan tulisan sebanyak 37 judul di blog ini pada bulan bulan Agustus. Selalu ingat pesan Guru Blogger kita, Om Jay “Wijaya Kusuma”, Ayo Terus Menulis. Menulis apa saja. Blog pribadi boleh saja dijadikan catatan harian untuk menuangkan apa saja yang ada dalam benak pikiran.
Tugumulyo, Musi Rawas, Sumatera Selatan

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

8 thoughts on “Memaksa Diri Menulis

  • 03/09/2020 at 09:45
    Permalink

    keren pk D santo………saya sebenarnya hobi menulis, tapi masih menulis dalam hati, banyak, beribu kata, sygnya blm saya curahkan dalam bentuk huruf. semoga nanti bisa terwujud. amiin

    Reply
  • 31/08/2020 at 20:37
    Permalink

    Didorong apa ditarik ya? Hahaha.. Mau deh ditarik, mau juga mendorong. Trims sahabat sdh mampir

    Reply
  • 31/08/2020 at 20:35
    Permalink

    Sepertinya menulis..didorong oleh magnet dengan daya tarik menarik yg kuat…

    Reply
  • 31/08/2020 at 20:30
    Permalink

    Apakah kata "seakan" itu keliru ya Bu. Seakan berlomba, saya kira bukan berlomba yang sesungguhnya deh. Terima kasih curhatnya. Jempol.

    Reply
  • 31/08/2020 at 18:59
    Permalink

    Curhat pak Susanto, mana ada lomba pak, perasaan suruh buat daftar isinya untuk memudahkan menulis.

    Reply
  • 31/08/2020 at 18:45
    Permalink

    inspiratif pak D, saya juga dalam kondisi yg cukup kelelahan perlu vitamin motivasi lanjut pak D, sukses untuk anda

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *