Niat, Tekad, dan Nekat Menulis

Resume Ke-15
Narasumber : Jamila K. Baderan, M.Pd. (Ibu Mila)
Profil Narasumber
Lahir di Sidodadi, tanggal 14 Juni 1978, anak pertama dari 3 bersaudara pasangan Bapak H. Abd. Razak K. Baderan (Alm) dan Ibu Hj. Anice Y. Sulingo.
  1. Riwayat Pendidikan dan Kegiatan:
  2. TK Negeri Pembina Palu lulus tahun 1985.
  3. SD di SDN Tanamodindi II Palu lulus tahun 1991.
  4. SMP Negeri 8 Gorontalo dan lulus tahun 1994.
  5. SMK Negeri 1 Gorontalo lulus tahun 1997.
  6. Program studi D2 PGSD di Universitas Negeri Gorontalo selesai tahun 2009.
  7. S1 jurusan PGSD di Universitas Negeri Gorontalo selesai tahun 2011.
  8. S2 Program Pascasarjana di Universitas Negeri Gorontalo Jurusan Pendidikan Dasar dari tahun 2016-2018.
  9. Ketua KKG
  10. Pengurus IGI Wilayah Prov. Gorontalo
  11. Anggota Komunitas Guru Kreatif
  12. Anggota Komunitas GoSmart
  13. Trainer Office 365
Prestasi dan Karya Tulis
  1. Juara I Guru Berprestasi Tingkat Kota Gorontalo tahun 2018
  2. Juara II Guru Berprestasi Tingkat Propinsi Gorontalo 2018
  3. Peserta1000 Guru keLuar Negeri yaitu Short Course Enhancing Primary/ Secondary Mathematics Learning In the STEM Environment di SEAMEO RECSAM Penang, Malaysia tahun 2019.
  4. Pemakalah pada beberapa Seminar baik secara Lokal, Nasional, maupun Internasional
  5. Pengembangan Soal HOTS Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Melatih Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas VI SD (Jurnal Pedagogika, 2017).
  6. Deskripsi Kemampuan Berpikir Kritis Melalui Model Pembelajaran Berbasis Soal Higher Order Thinking (HOT) di Kelas VI SDN No. 80 Kota Tengah  Gorontalo (Prosiding Sendimat VI, 2018).
  7. Kwartet Media Bermain dan Belajar (2018).
  8. Ekspektasi VS Realitas (2019).
  9. Design Thinking Meningkatkan Keterampilan Abad 21 dengan Konsep Merdeka Belajar (2020)
Ibu Mila Sang Penakluk Tantangan Menulis
Ibu Guru SD, guru penulis buku Design Thinking Bersama Prof. Eko Indrajit adalah alumnus Angkatan 5 WA Grup Menulis Bersama Om Jay dan PGRI. Sangat kagum dan banyak belajar dari para narasumber yang dihadirkan seperti Pak Dedi Dwitagama, Paman Apiq, Prof. Eko Endrajit, dan narasumber hebat lainnya.
Menulis baginya adalah sebuah tantangan. Pada awal bergabung di grup menulis tersebut, ia merasa begitu berat dan merasa tak sanggup. Bukan karena tidak punya ide, tetapi bingung harus mulai menulis dari mana. Untungnya Om Jay, sang guru bloger kita, paling jago memberi mereka tantangan menulis. Selain itu juga paling mengerti karakter mereka, anggota grup, dan selalu mampu memberi motivasi.

Hari Selasa, 14 April 2020, Om Jay menghadirkan Prof. Eko Indrajit sebagai narasumber. Menurutnya, beliau adalah sosok yang cerdas, terkenal, dan super ramah. Bagi Bu Mila, Prof. Eko adalah satu-satunya profesor yang memberi mereka tantangan. Menurutnya, tantangan tersebut adalah tantangan tergila yang pernah diterima. Tantangan menulis buku hanya dalam seminggu dengan cara memilih salah satu tema yang ada di channel youtub Prof. Eko, Ekoji Channel. Waktu semalam untuk mengambil keputusan dan keesokan harinya sudah harus menyetor judul dan daftar isi (outline) melengkapi kegialaan tantangan itu.

Sempat bimbang, namun pada hari Jumat, 17 April 2020, dengan harap-harap cemas karena sudah telat dari deadline yang diberikan, ia mencoba mengirim broadcast melalui WA dan menyatakan kesanggupannya menerima tantangan Prof. Eko. Alhamdulillah, ia masih diberi kesempatan dan harus langsung menyerahkan bab 1 pada hari Sabtu, keesokan harinya.
Nekat merima tantangan, berniat dalam hati ingin menyelesaikan, dan bertekad mencari literatur yang diperlukan disertai sikap konsisten dan fokus, akhirnya berhasil menaklukkan tantanga “gila” menulis buku dalam seminggu dengan baik dan kahirnya diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor di Indonesia, Penerbit ANDI.
Bu Mila Berbagi Pengalaman Menulis
Apakah proses menulis berjalan mulus tanpa hambatan? Tidak! Pernah juga blank idea. Nasihat Prof. Eko, menulis bukan pada kecepatan tetapi fokus. Oleh karena itu ketika kehilangan ide, berhenti menulis adalah pilihan. Lalu membaca literatur yang berkaitan dengan judul yang saya ambil, tidak lupa membuka dan mendengarkan youtube dari sumber lain sebanyak banyaknya. Menikmati musik juga merupakan salah satu treatment yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kesegaran, ide yang terbang entah kemana, dan meningkatkan imun.

Kesulitan terbesar dalam menulis buku dalam seminggu adalah mendapatkan referensi yang sesuai. Oleh karena itu kita dapat mencari sumber referensi melalui web browser. Kita bisa mendapatkan banyak buku referensi, maupun jurnal nasional dan internasional sesuai kajian kita.  Buku Design Thinking bercerita tentang bagaimana seharusnya guru menjadi sosok profesional dalam menyiapkan generasi emas yang memiliki keterampilan abad 21. Untuk memenuhi tantangan tersebut, tentunya guru dituntut harus mampu berinovasi dan berkreativitas. Desing Thinking merupakan sebuah pendekatan yang dapat menuntun dan menjembatani pencapaian visi dan misi pendidikan Indonesia kearah yang lebih baik, maju, dan berkualitas.

Konsep buku tersebut adalah tentang bagaimana guru merancang pembelajaran yang bermakna terkait dengan usaha meningkatkan keterampilan abad 21 bagi peserta didik yang disiapkan sebagai generasi emas 2045. Buku ini diterbitkan dengan tujuan agar para pendidik dan tenaga kependidikan dapat membuka wawasan, bahwa inovasi dalam pembelajaran adalah salah satu kunci mewujudkan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran tidak harus selalu dibatasi oleh ruang dan waktu, pembelajaran harus mampu membangun kompetensi menjadi sebuah potensi yang berkualitas. sasaran utama dari buku ini adalah guru dan tenaga kependidikan, termasuk di dalamnya para mahasiswa, dan praktisi kependidikan. Makna buku ini tidak hanya sebatas format pemikiran, tetapi bagaimana aktualisasi nyata dari berpikir desain.

Sebelumnya, Bu Mila sudah pernah menulis buku tunggal dan diterbitkan oleh penerbit Indi, yaitu berjudul Kwartet Media Bermain dan Belajar, Ekspektasi Vs  Realitas (kumpulan puisi) serta beberapa jurnal. Sebagai penulis pemula, ia tidak pernah memikirkan gaya menulis. Menulis sesuai kata hati dan apa yang terlintas dalam pemikiran saya. Saat hendak presentasi karya bersama teman-teman di depan Prof. Eko, menurut pengakuannya, ia paling deg-degan, gugup dan sempat tidak percaya diri. Ia khawatir jika  tulisannya adalah yang paling buruk. Sebab selama mengikuti grup menulis, tulisannya tidak pernah masuk kategori tulisan yang dishare Om Jay, apalagi bisa mendapatkan gift/hadiah. Itulah sebabnya ia menyatakan, bahwa menulis itu hanya butuh niat, tekad dan nekat. Selanjutnya harus fokus dan konsisten.

Konsisten memang menjadi hal yang sulit dilakukan. Untuk bisa konsisten, tentu kita harus mampu dan pandai mengatur waktu dan mood kita. Cara lain yang dilakukan Bu Mila adalah melibatkan orang lain dalam proses mencari referensi, termasuk urusan mengetik, misalnya, anak (Bu Mila memiliki anak yang sudah kuliah).

Pada akhir pertemuan, beliau mengatakan bahwa menulis adalah sebuah kegiatan yang berawal dari niat. Semakin kuat tekad kita mengawal niat tersebut, maka kita akan menjadi nekat. Nekat untuk menuntaskan tulisan kita, apapun, di manapun dan dalam kondisi apapun. Menulislah dengan hati, maka ide akan mengalir dengan sendirinya. teruslah menulis, dan jangan lupa bahagia. Semoga setelah ini akan terbit karya-karya hebat dari sahabat guru semua yang ada di grup menulis bersama Om Jay.

Terima kasih Bu “Mila” Jamila K. Baderan. Pengalaman Anda yang luar biasa semoga menular kepada saya, ya! Niat, tekad, dan nekat. Bukan main.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

15 thoughts on “Niat, Tekad, dan Nekat Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *