Kisah Haru dan Seru Bu Guru Eva

 Resume Ke-19

Semakin dibagi semakin tak terbatas.
(Eva Haryati Israel)

 

 

 

Profil Narasumber

  1. Eva Haryati Israel, S.Kom.
  2. Guru TIK di SMAN 1 Kota Kupang, NTT
  3. Instruktur Kurikulum 2013 Prop NTT Tingkat SMA Tahun 2016-2018
  4. Sahabat Rumah Belajar Prop NTT 2019
  5. Terbai Ke-2 Pembatik Level 4 (berbagi) tahun 2019
  6. Peserta PembaTIK Level 4 tahun 2020
  7. Calon Pendamping Guru Penggerak Angkatan 1 Tahun 2020
  8. Penulis Buku Kelas Maya-Membangun Ekosistem E-Learning di Rumah Belajar kolaborasi dengan Prof. Richardus Eko Indrajit, Penerbit Andi, Yogyakarta.
  9. Alumni Belajar Menulis di Grup WA Gelombang 7

 

Halo, Pembaca!

Tulisan yang tersaji di hadapan Anda sekarang adalah resume materi belajar menulis melalui Grup WA Bersama Om Jay dan PGRI yang disajikan narasumber ke-19, Ibu Eva Haryati Israel, S.Kom. Guru TIK SMA Negeri 1 Kupang Nusa Tenggara Timur adalah alumnus Grup Menulis yang sama, Gelombang 7. Ia adalah satu di antara 9 guru penulis buku yang berkolaborasi dengan Prof. Richardus Eko Indrajit. Bukunya berjudul Kelas Maya-Membangun Ekosistem E-Learning di Rumah Belajar diterbitkan oleh Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Sebagai guru, pada awal masa pandemi Covid-19 merasa bingung. Kadang tidak tahu harus berbuat apa. Pembelajaran jarak jauh, tidak boleh bertemu muka dengan anak didik membuatnya seperti merasa membuang waktu. Hingga akhirnya ia mengikuti grup WA Belajar Menulis Bersama Om Jay dan PGRI. Ia tergabung pada Gelombang 7. 

Unik belajar di grup WA tersebut. Om Jay dengan telaten memberikan challenge berupa menulis tiga paragraf. Tema penulisan sederhana saja seperti kucing, siomay, anak bayi, dan lain-lain. Rupanya, hal sepele tersebut membuat peserta dapat meningkatkan kemampuan menulisnya.

Diawali menulis tiga paragraf, pentigraf (cerpen tiga paragraf), dan menuangkan materi pembelajaran dari para narasumber ke dalam blog masing-masing membuat para peserta makin bersemangat.  Hingga pada suatu malam, ketika Prof. Eko Indrajit menjadi narasumber, Ibu Eva dan kawan-kawan semain tertantang. Betapa tidak, pada akhir pertemuan, tanpa diduga narasumber memberikan tantangan menulis. Tantangan itu adalah mengajak berkolaborasi menulis bersama Prof. Eko tetapi waktunya hanya satu Minggu. 

”Gilaaaa!” begitu teriak Bu Eva dalam hati. 

“Mana bisa saya yang pemula. Mana bisa?” begitu gumam Bu Eva. Ia sama sekali tidak yakin akan bisa. 

Keesokan harinya, Om Jay membagikan sederet tema yang ditawarkan oleh Prof. Eko dan mereka, para peserta, diminta menjawab siapa yang bersedia silahkan copi paste dan tuliskan nama serta nomer HP. Bu Eva pun membaca setiap tema. 

”Wow, keren-keren semua! IT semua lagi!” teriaknya dalam hati.

Ya, meskipun guru TIK, ia merasa belum memiliki potensi untuk menuliskan konsep-konsep tema yang ditawarkan Prof.Eko waktu itu. Untuk membuktikan kemampuan bahwa ia bisa menulis buku, ia akhirnya memberanikan diri menuliskan nama dan nomer HP. Mereka pun digabungkan dalam grup menulis bersama Prof. Eko dan tergabunglah 21 orang yang waktu itu bersedia.

Sampailah pada hari Bu Eva menyodorkan mindmap tentang buku yang akan ia tulis. Peta pikran itu ia dapatkan dari belajar menulis bersama narasumber Bapak Akbar Zainudin, penulis buku Man Jadda Wa Jadda. Mindmap itu ia  tuangkan ke dalam outline yang hari itu juga disetujui oleh Prof Eko. Betapa girangnya Bu Eva begitu membaca jawaban Prof. Eko.

”VERY GOOD!” tulis Prof. Eko menanggapi.

Petualangan pun dimulai dengan mulai membuka sejumlah referensi, salah satunya ia membeli buku UKTUB dari bapak Akbar. Buku ini berisi panduan lengkap menulis buku dalam 180 hari. Selain itu juga mencari referensi buku yang ditulis Om Jay. Daftar isi dibuat dan juga mengembangkan mindmap.

Hal kontradiktif pun berkecamuk di dada Bu Eva. Betapa tidak, panduannya 180 hari tetapi dituntut harus kelas menulis selama satu minggu. 

Pada hari kedua akhirnya berhasil menyerahkan outline (daftar isi) buku yang akan ia tulis. Cover buku pun dibuat Prof Eko. Di sinilah energi menulis timbul. Cover buku menjadi penyemangat baginya. Perasaan yang muncul adalah buku seakan sudah selesai padahal baru covernya saja. Pandainya Prof. Eko memberikan motivasi.

Pada hari ketiga, keempat, dan kelima, kami lewati dengan penuh khusyu, demikian Bu Eva menggambarkan keseriusannya menulis. FOKUS dan tanpa membuang-buang waktu. 

“Benar-benar berada dalam kegilaan menulis hingga sudah mau tidur pun rasanya otak ini masih berfokus dan berpikir tulisan,” begitu cerita bu Eva. 

“Apalagi yang harus ditambahkan?” demikian pertanyaan dalam hati setiap akan berangkat tidur. 

Bu Eva melanjutkan ceritanya bahwa dalam seminggu benar-benar pikiran, hati, dan raga menjadi satu seiring sejalan. Tidak lagi ingat yang lain. Yang terpikirkan hanya deadline yang hampir habis. Harus kelar, demikian tekadnya. 

“Ngeri-ngeri sedap lah kalo saya bilang. Terkadang rasa kantuk pun hilang ketika tangan sudah asyik menari nari di atas keyboard. Perasaan ini terbawa seperti sudah ahli sekali merangkai kata, padahal baru kemarin saya belajar, ” ujarnya.

Apa yang Bu Eva Lakukan selanjutnya? Ia mengisahkan bahwa dalam hatinya selalu berdoa, meminta kemudahan dan kesehatan dari-Nya. AWESOME! Ternyata ia bisa membuktikan bahwa ia bisa menulis buku. Buku yang ditulisnya dalam waktu hanya satu minggu. Setelah dua minggu dilakukan pengeditan, naskah disetorkan kepada Prof. Eko untuk disempurnakan dan dikirim ke penerbit. 

Akhirnya, dari 21 peserta yang tergabung hanya 11 orang yang berhasil menjawab tantangan dan berselang dua minggu kemudian, 23 Mei 2020 tibalah waktunya mereka mendengarkan hasil  evaluasi dan pengumuman tulisan yang lolos untuk diterbitkan oleh Penerbit Andi. Alhamdulillah 9 orang penulis yang berkolaborasi dengan Prof. Eko berhasil diterima tanpa revisi, Bu Eva salah satunya. 

”Luar biasa. Kepuasan batin yang tak ternilai harganya,” begitu katanya malam itu kepada kami, peserta Gelombang 15 yang menyimaknya dengan tekun. 

Pengalaman Bu Eva sebagai sahabat Rumah Belajar memberinya inspirasi untuk menulis tentang Kelas Maya Rumah Belajar. Pengalaman sebagai Instruktur Kurikulum 2013 menginspirasinya menulis Optimalisasi Model-Model Pembelajaran Inovatif. Saat ini ia sebagai calon pendamping Guru Penggerak Angkatan Pertama setelah mengikuti bimtek pendamping selama  9 hari. Ia pun terinspirasi lagi untuk menulis buku dengan judul Belajar Merdeka, Merdeka Belajar. Buku itu sudah setengah jalan dikerjakan. 

Satu hal semoga bisa menjadi motivasi bagi bapak/ibu, sahabat semua, ketika kita menulis dengan niat berbagi akan ada jalan Allah yang terbuka. Di antaranya Dia akan mempertemukan kita dengan orang orang hebat yang luar bisa menginspirasi dan selalu berbagi, demikian Bu Eva menambahkan. Semakin dibagi semakin tak terbatas akhirnya menjadi prinsipnya hingga sekarang. 

Kami pun menyimak dengan saksama ketika ia menuliskan pada aplikasi Whatsapp, media belajar menulis Gelombang 1-15 ini adalah, semakin kita niat berbagi, ada saja ide-ide yang muncul dalam pikiran dan hati kita. Seolah-olah bertanya, ”Apalagi ya…apalagi yaa? Tadinya apa saja yang kita lihat dan kita alami tidak terpikir untuk kita bagikan apalagi untuk ditulis dalam bentuk karya tetapi setelah pecah telur buku pertama terbit semakin termotivasi untuk menghasilkan karya-karya lainnya. Berkah rasanya selalu datang. 

Pembaca, tidak berhenti kisah haru nan hebat dari Bu Guru Eva dalam menulis dan menerbitkan buku. Ia pun menambahkan bahwa mereka, para penulis buku, diminta Prof. Eko agar ada dua atau tiga pengantar atau testimoni dari orang orang yang dianggap penting. Lalu, siapa orang yang Bu Eva anggap penting? Tepat! Orang pertama yang ia minta adalah Om Jay. Bukan hanya dia. Hampir semua buku yang terbit di akademi EKOJI ada pengantar dari Om Jay. Luar biasa. Semangat berbagi ini juga yang mengantarkan Bu Eva mendapatkan kata pengantar dalam buku pertamanya dari Bapak Gogot Suharwoto, Kepala Pustekkom 2017-2020. 

Judul Buku kelas Maya ini ia posting di akun FB-nya dan tidak disangka berbagai apresiasi dan doa tulus dari teman teman dan sahabat menjadi semangat baru yang semakin menggerakkannya. Bahkan, Bapak Gogot juga memberikan apresiasi itu melalui inbox. 

“Ya Allah. Senangnya tak terkira. Siapa saya? Saya hanya seorang guru yang baru belajar, guru yang masih sangat minim pengalaman bisa berkolaborasi dengan seorang guru besar dan mendapatkan apresiasi dan kata pengantar dari orang yang luar biasa,” katanya.

Pembaca, demikian kisah haru dan seru dari Bu Eva yang dapat saya tuliskan. Pada akhir paparannya ia berpesan agar menghilangkan keraguan yang ada, menghargai potensi kita sebagai mahluk ciptaan Allah yang sempurna dan memiliki bakatnya masing masing, serta menanamkan keyakinkan dalam diri bahwa batu hambatan harus bisa kita pecahkan.

“Bu Eva, cita-cita itu harus dikejar seperti laskar pelangi”. Kalimat dari Prof. Eko yang diucapkan beliau kepadanya membuatnya terharu dan benar benar menggugah untuk lagi dan lagi mencoba membuktikannya. Siapa sangka ia pun mendadak suka dengan lagu Laskar Pelangi, katanya berseloroh.

Musi Rawas, Sumatera Selatan

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

16 thoughts on “Kisah Haru dan Seru Bu Guru Eva

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *