Mengembangkan Karakter melalui Whatsapp

 

 

 
Adanya pandemi memaksa guru menghentikan kegiatan pembelajaran tatap muka di kelas. Pada daerah-daerah tertentu masih dimungkinkan bertatap muka melalui kelompok kecil atau orang per orang dengan guru. Media pembelajaran yang digunakan pun beragam. Ada media daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan) yang tidak membutuhkan akses internet. 

Media daring yang digunakan guru juga bermacam-macam, ada media daring sinkronus maupun media daring asinkronus. Pada pembelajaran sinkronus, pendidik dan peserta didik terlibat pada waktu yang sama, disertai maupun tidak disertai gambar atau video dari kedua pihak. Mereka terlibat secara aktif pada waktu yang sama. Cukup banyak aplikasi yang digunakan dalam bentuk kelas virtual atau kelas maya. Sementara itu daring secara asinkronus mengandung makna bahwa pendidik dan peserta didik tidak terlibat pada waktu yang sama. Pendidik memberikan tugas dan peserta didik melaksanakan tugas pada waktu yang berbeda, misalnya sejam berikutnya, sehari, bahkan beberapa hari. 

Pendidik dan peserta didik yang berada di daerah dengan infrastruktur internet yang baik dapat belajar dan menggunakan berbagai aplikasi yang disebutkan di atas. Namun bagi pendidik dan peserta didik yang berada pada daerah dengan infrastruktur jaringan data tidak memadai biasanya menggunakan aplikasi Whatsapp. Aplikasi media sosial masyarakat semua lapisan ini dipandang sebagai jembatan pendidik dan peserta didik melaksanakan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang mudah, murah, dan ramah sinyal. 

Meskipun melalui WA, tidak bertemu muka, bukan berarti terhalang untuk mengembangkan karakter siswa. Karakter seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab, dapat dikembangkan meskipun kedua belah pihak tidak bertatap muka seperti pengalaman berikut ini.

Setelah membaca postingan teman di blog tentang wordwallsebagai guru yang belum lama melek teknologi, ikut mencoba menelusuri apa dan bagaimana memanfaatkan aplikasi tersebut dalam pembelajaran. Dengan sedikit ekplorasi akhirnya ikut mencoba membuat sebuah game. Tanpa menunggu lama segera memosting pada blog pembelajaran kelas yakni blog DIKSI serta membagikan game tersebut di kelas virtual milik google, Classroom.

 

 

Tidak berapa lama, anak-anak pun mulai merespon. dan mengirimkan gambar tangkap layar sebagai bukti bahwa mereka sudah memainkan game tersebut. Untuk merangsang keterampilan mereka menggunakan Classroom, guru mengatakan bahwa tugas yang diselesaikan dikirim ke kelas yang sudah dibuat sebelumnya. Guru sengaja tidak memberitahu cara mengirim gambar tangkap layar karena pernah diberikan petunjuk meskipun sudah cukup lama. Hal ini tak ayal memunculkan pertanyaan. 

Tidak berselang lama mereka pun seakan berlomba “memamerkan” hasil permainan berupa melengkapi kata yang hilang itu ke grup belajar, termasuk seorang siswa bernama Nurohman.  Ia bertanya bagaimana cara mengirimkannya ke classroom.
 

Aha! Agar mudah dimengerti, gambar tangkap layar yang lebih populer disebut screenshot diucapkan apa adanya meskipun salah ketik menjadi skrin sit. Siswa bernama Nurohman pun berhasil mengirimkan ke kelas.

 
Ketika masih ada anak yang mengirimkan gambar hasil kerjanya ke grup WA, Nurohman pun memberikan komentar. “Kan sama Pak Santo disuruh ngirimnya ke classroom.”
 
 

 

Sebagai guru saya senyum-senyum saja. Akhirnya, untuk melatih keberanian dan menghargai keberhasilannya, Ia diperintahkan untuk menjelaskan kepada teman-temannya. Dengan sigap ia menjawab,”Oke pak.”

 

 

Tidak disangka, ia bahkan memberikan tutorial langkah demi langkah cara mengirimkan tugas ke Google Classroom kami.

 

 

 

 

 

 

Ternyata Nurohman bisa menjelaskan kepada teman-temannya cara mengirimkan tugas ke classroom. Sebagai penghargaan, guru memberikan apresiasi.

 

Akhirnya, semakin banyak yang mengirimkan tugas ke classroom. 

 

 

 
Itulah cerita kecil dialog pendidik dengan peserta didik. Tidak ada halangan untuk terus belajar. Tidak ada halangan mengembangkan kreativitas. Tidak ada alasan untuk tidak mengembangkan karakter mereka meskipun dialog di dunia maya, melalui WA.

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

11 thoughts on “Mengembangkan Karakter melalui Whatsapp

  • 25/09/2020 at 17:03
    Permalink

    Luar biasa pak,, siswanya juga mampu IT walau salah tulis tpi tetap mengerti Krn tidak semua siswa dpt seperti mas Nurohman, ditmpat kami kalau lewat pesan kurang mampu tetapi pada saat mensosialisasikan aplikasi mereka saling membantu, biasanya siswa akan lebih memahami apabila dijelaskan rekannya sendiri.

    Reply
  • 25/09/2020 at 08:27
    Permalink

    Mantap. Itulah inovasi yg dilakuakn guru di era pandemi saat ini. Semoga dapat menginspirasi guru lainnya. Ayo terus berbagi

    Reply
  • 25/09/2020 at 08:14
    Permalink

    Ditempat saya, khusus nya kelas saya blm bisa dilaksanakan Pak. Krn siswa kelas saya tidak ada yg mempunyai smartphone. Jadi untuk memberikan tugas, saya meminta bantuan grup alumni. Jadi tugas/materi disampaikan digrup, nanti disampaikan oleh anggota grup yg berdekatan dg siswa tsb.

    Reply
  • 25/09/2020 at 08:12
    Permalink

    Hebat Nurohman, bisa buat tutorialnya…
    Yg lebih hebat gurunya, yg memberikan kesempatan peserta didit untuk memgembangkan dirinya.

    Hebat Pak D

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *