Persiapan Menerbitkan Buku Antologi Kedua

 

Berkat mengikuti kelas online menulis melalui Grup WA bersama Om Jay Gelombang 15, semangat menulis selalu ada. Semua dilakukan dalam rangka membelajarkan diri. Usia hampir setengah abad tetapi urusan belajar tidak boleh ada kata terlambat. Belajar apa pun, termasuk belajar menulis. Guru blogger selalu mengatakan menulislah setiap hari, buktikan apa yang terjadi. Menulislah setiap hari, setidaknya 1000 kata, demikian nasihat lainnya. 

Puluhan motivasi menulis dari para praktisi. Puluhan kiat yang dipaparkan tidak akan ada artinya jika tidak dilakukan. Kekhawatiran akan tulisan jelek, belepotan, tidak runtut, tidak mengalir, tidak renyah kata seorang kawan tidak perlu dirisaukan. Itulah proses belajar. Ingatlah ketika seorang anak di taman kanak-kanak mengenal gambar huruf dan mencoba membunyikannya. Dilanjutkan di kelas satu gambar huruf dibaca dan dituliskan kata demi kata. Naik ke kelas dua belajar merangkai kata menjadi kalimat bermakna. Di kelas tiga mulai belajar dalam arti sesungguhnya. Di kelas empat mulai dikenalkan dengan gagasan pokok. Mengidentifikasi gagasan pokok dari paragraf yang disajikan mulai dilatihkan. Berlanjut terus hingga kelas enam dan di jenjang pendidikan selanjutnya. Semua berproses. 

Menulis tak ubahnya seperti bicara. Ia menyampaikan gagasan melalui tulisan. Berbicara tidak boleh sembarangan demikian pula menulis tidak boleh juga sembarangan. Pilihan kata perlu diperhatikan. Ejaan dan pungtuasi  tidak boleh diabaikan. Pemakaian berbagai kata sambung, kata depan, dan imbuhan dengan berbagai aturan adalah upaya penulis untuk membantu memperjelas pesan.

Pembicara yang berhadapan langsung dengan kawan bicaranya memiliki anggota tubuh yang membantunya menyampaikan pesan. Hanya dengan satu kata dibantu gerakan jari, tukang bakso tahu jika ia memesan dua mangkok, seorang istri tahu suaminya menyuruh menghampirinya, atau anggota pasukan patuh kepada komandan untuk melakukan push-up karena melakukan kesalahan. 

Penulis tidak bisa seperti itu. Sang pembaca tidak ada di hadapannya. Kalimat yang dibacanya harus dia pahami. Bayangkan betapa lucu dan repotnya seorang pembaca harus menghubungi si penulis untuk menanyakan maksud tulisannya. Alih-alih meminta penjelasan, sang pembaca bahkan lari tanpa mengacuhkan. Lalu, apa yang harus dilakukan? 

Yang harus dilakukan adalah membaca. Ya, membaca! Membaca apa saja. Jika kita blogger, harus mau membaca tulisan teman di blog mereka. Istilah dalam dunia blog adalah blog walking, berkunjung dan membaca tulisannya. Selain mendapat pengetahuan kita dapat memperoleh ide tulisan. Selain itu, dengan membaca tulisan di blog teman berarti juga belajar gaya penulisan. Jangan lupa, tinggalkan jejak digital berupa komentar. Berkomentar di blog memiliki dua keuntungan. Pertama, memberi semangat kepada blogger pemula untuk terus berkarya. Kedua, sebagai wahana latihan menulis. Om Jay, blogger kawakan Indonesia sering berpesan melalui blog yang dikelolanya agar berkomentar tidak dengan kalimat pendek seperti: mantap, mantul, keren, jos, lanjutkan, dan sebagainya. Meskipun tidak salah tetapi akan lebih baik berupa kalimat lengkap, ada subjek, predikat, objek, dan keterangan. Oleh karena itu, membiasakan berkomentar setelah membaca secara utuh sangat dianjurkan. 

Penulis pemula, sering terjebak pada kalimat yang panjang. Bisa dimaklumi karena bersemangat ingin menyampaikan pesan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Oleh karena itu, setelah tulisan jadi, disarankan untuk dibaca kembali. Jika perlu membaca dengan suara keras seperti anak SD diberi tugas ke depan kelas. Jika Anda merasa ngos-ngosan, tersengal bakan kehabisan nafas, pertanda tulisan masih sangat panjang. Memenggal menjadi kalimat-kalimat tunggal, membuang kata-kata yang overlapping atau tumpang tindih adalah tindakan bijaksana agar kalimat menjadi efektif. 

Selanjutnya mau dan berani menulis. Mau artinya menulis tanpa ada keterpaksaan, sukarela, dan sukahati. Menulis pentigraf (cerpen tiga paragraf), menulis pengalaman, atau menulis apa saja yang kita sukai dan kuasai dapat dilakukan sebagai latihan keterampilan. Jika  dua hari sekali mengisi blog, dalam satu bulan akan ada setidaknya 15 tulisan. Atau konsisten seminggu sekali, maka sebulan akan lahir minimal empat atau lima tulisan. Sambil menulis pelajari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) agar kalimat yang ditulis efektif dan benar sesuai kaidah. Bukankah guru selalu berpesan dalam soal ulangan: Jawablah dengan singkat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar?

Setelah mau, langkah selanjutnya adalah berani untuk mengikuti kegiatan literasi. Yang menilai tulisan kita baik atau tidak, benar sesuai tema atau tidak adalah orang lain. Orang lain bisa saja teman, saudara, panitia lomba penulisan, atau kurator buku antologi. Oleh karena itu ketika ada tawaran berpartisipasi mengikuti lomba, ikutilah! Jangan mikir juara, biarkan panitia yang memikirkannya. Jika ada tawaran menerbitkan buku antologi di penerbit indie, ikuti! Harus mau memberanikan diri. Kapan lagi “menitipkan” nama dalam buku yang dicetak dan ber-ISBN bersama rekan-rekan guru se-Indonesia jika tidak melalui kegiatan seperti itu? Jangan bicara nilai finansial, atau nilai angka kredit yang bakal diperoleh. Tujuan pertama adalah menerbitkan buku dan nama kita tercantum sebagai salah satu kontributor penulisan. Jika sudah terampil dan terasah tujuan lain akan mengiring. 

 

 

Buku Indi Pertama Penulis (Dok. SS Grup WA)

Dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional Tahun 2020, Pegiat Literasi Nusantara dikomandoi oleh Ibu Rita Wati mengajak membuat buku antologi dengan tema Terima Kasih Guruku. Sekali lagi ada kesempatan. Kesempatan ini pun tidak saya sia-siakan. Segera syarat dan ketentuan pengiriman naskah saya perhatikan. 

 

  • Peserta seluruh Pegiat Literasi Nusantara, jumlah peserta maksimal 45 penulis.
  • Pengalaman menarik yang pernah dialami bersama guru/kisah menarik guru kepada siswa.
  • Naskah maksimal 5 halaman A4. Naskah ditulis dalam format: TNR 12, spasi 1.5, rata kanan kiri, margin normal.
  • Silahkan klik pendafataran melalui link https://bit.ly/2HzWX1b paling lambat tanggal 7 Oktober  2020 untuk mendapatkan cover dan template ISBN. 
  • Deadline pengumpulan naskah  21 Oktober 2020 pukul 23.59 WIB.
  • Kirim naskah ke e-mail catatangurumilenial@gmail.com dengan subjek: All About Teacher _Judul_Nama Penulis.
  • Tulis biodata singkat dalam bentuk narasi, maksimal 100 kata
  • Naskah tidak mengandung unsur SARA dan LGBT
  • Naskah merupakan karya sendiri dan orisinil, belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan apapun.
  • Penulis mendapatkan 2 buku, 1 buku  Anotologi All About Teacher dan 1 Buku Karya Bu Rita Wati
  • Program buku Antologi ini berada di bawah pengawasan ibu Sri Sugiastuti.
  • Produktif menulis bersama pegiat literasi nusantara

Buku antologi yang dibuat secara “keroyokan” tersebut akan diterbitkan secara indie. Karena diterbitkan secara indie maka biaya penerbitan ditanggung pemilik naskah. Lebih lanjut tentang penerbit indie silakan browsing di internet. 

Dengan prinsip mau dan berani, segera saja saya persiapkan naskahnya dan menyerahkan kepada pengelola. Berikut cuplikan awal naskah saya yang saya kirimkan untuk ikut berperan serta dalam buku antologi tersebut. 

 

Sepenggal Kisah Pengukir Ilmu

Menjadi guru adalah cita-citaku sejak kelas lima sekolah dasar. Bukan tertarik menjadi pegawai negeri melainkan karena rasa kagum kepada para guru yang mengajar kami. Kami adalah murid SD pinggiran. SD yang tidak diperhitungkan, cenderung dilecehkan.
 
Nama sekolah dasar tempat kami belajar adalah SD Negeri Srampadan. Sebuah SD yang pada waktu kami sekolah hanya ada empat ruang kelas dengan satu ruangan yang dipakai guru untuk ruang kantor. Bangku sekolah adalah bangku yang siluetnya seperti tergambar pada logo salah satu ormas Islam besar di Indonesia, tebal, besar, dan tentu saja berat.
 
Nama SD kebanggaan kami kadang dipelesetkan teman bermain menjadi srempedan. Kadang kami tersinggung, marah, dan diam. Tetapi tidak jarang kami akhiri dengan perkelahian. Selain nama yang kadang diplesetkan, prestasi akademik kami memang jauh di bawah teman-teman kami. Kami kalah dengan mereka yang berada di sekolah favorit para priyayi dan orang-orang yang memiliki status sosial yang tinggi di.masyarakat. Lomba siswa teladan, lomba gerak jalan, lomba pramuka, dan lomba-lomba lainnya belum pernah kami menangkan dengan predikat membanggakan. Meskipun sekolah kami sekolah pinggiran dengan prestasi pas-pasan kami memiliki guru-guru yang membuat kami kagum dan menumbuhkan minat menjadi pendidik seperti mereka. Mereka bapak dan ibu guru hebat yang begitu membekas di hati.
 
Selanjutnya, tunggu bukunya terbit. 
 
 
 
Salam blogger persahabatan
Pak D Sus
Guru Blogger (dari) Musi Rawas

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Persiapan Menerbitkan Buku Antologi Kedua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *