Baca, Baca, Baca, Tulis, dan Terbitkan!

Jika ingin lancar menulis cerpen, banyak-banyaklah membaca cerpen.  Jika ingin lancar menulis puisi, maka banyak-banyaklah membaca puisi.

(Emi Sudarwati)

 

Guru Penulis dan Motivator

Lagi, seorang guru lulusan Pendidikan Bahasa Daerah IKIP Negeri Surabaya yang sekarang bertugas sebagai guru SMPN 1 Baureno menjadi motivator para calon penulis di kelas belajar menulis besutan Om Jay dan Pengurus Besar PGRI serta Penerbit ANDI. Berawal dari kegemarannya menulis cerita ketika bersekolah di SMA dan mahasiswa membawanya menjadi penulis dan editor handal ratusan buku karya guru dan siswa.

Sempat terhenti menulis semenjak menjadi PNS, tahun 2013 semangat menulisnya tumbuh kembali setelah berjumpa dengan penulis-penulis hebat di Bojonegoro, Jawa Timur. Jika motivasi menulis ketika sekolah atau menjadi mahasiswa adalah uang karena ia piatu sejak SMP kelas satu, kali ini motivasinya adalah keinginan untuk sukses bersama siswa. Dengan semangat membara akhirnya tahun 2014 berhasil menerbitkan buku karya pertama bersama siswa.

Keikutsertaan dalam perlombaan keguruan kadang bukan keinginan diri sendiri sebagai guru. Namun tiupan semangat dan dorongan yang tinggi dari kepala sekolahnya,  Bapak Edy Dwi Susanto, akhirnya tahun 2015 dengan setengah hati mengikuti lomba inovasi pembelajaran (inobel).

Meskipun setengah hati, siapa sangka malah mendapat panggilan sebagai finalis inobelnas, Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional! Selanjutnya bersama 102 guru dari seluruh Indonesia, ia diundang ke Jakarta untuk presentasi.  Ternyata bukan hanya presentasi, tetapi ada ujian tulisnya juga.  Juara? Tidak. Banggakah? Pasti! Kebanggan yang utama adalah bisa bersama-sama guru hebat dari belahan bumi nusantara. Bukan main!

Pada  tahun yang sama (2015) ia berpartisipasi dalam sayembara BBJT (Balai Bahasa Jawa Timur).  Lembaga tersebut rutin setiap tahun mengadakan sayembara seperti: pemilihan sanggar sastra, karya sastra Indonesia, karya sastra Jawa, dan guru bahasa berdedikasi.

Hal yang patut disyukuri adalah ketika itu Bu Emi Sudarwati mendapat anugerah sebagai guru Bahasa Jawa Berdedikasi karena sudah menerbitkan beberapa buku karya sastra siswa.  Sebagai guru berdedikasi ia merasa memiliki tanggung jawab moral, agar lebih giat menularkan virus literasi di manapun juga.  Bukan hanya untuk siswa, namun juga untuk sesama guru.  Bukan hanya di Bojonegoro saja, tetapi sampai ke luar daerah.

Berbekal pengalaman mengikuti lomba inobel dan sayembara di BBJT, pada tahun 2016 ditugaskan mengikuti seleksi guru prestasi tingkat Kabupaten Bojonegoro.  Keengganan teman-teman guru untuk mengikuti lomba tersebut menyebabkan ia untuk kedua kalinya mengikuti seleksi tersebut dan berhasil mendapat juara ke tiga dari tiga puluhan peserta. Hebat, bukan? Makanya jangan enggan kalau disuruh ikut kegiatan!

Pengalaman dan penguasaan materi membuat guru penulis novel berjudul Ngilon (2014), Novel Kinanthi (2017), Rona Hidup (2018), Petualangan Siswa Indigo (2019), Novel Sujud Sangisore Talang Mas ini membongkar ulang karya lamanya dalam inobel tahun 2015 untuk diikutkan dalam Lomba yang sama pada tahun 2016. Sesuai  saran dari dewan juri ketika mengikuti lomba pada tahun 2015, karyanya kali ini memenangkan lomba inovasi pembelajaran kategori SORAK (Seni, Olah Raga, Agama, bimbingan Konseling dan Muatan Lokal) sebagai JUARA PERTAMA.

Anugerah

Tidak lama seusai lomba, Bu Guru Pengelola Taman Bacaan Masyarakat Kinathi ini mendapat panggilan untuk mengikuti short course di Negeri Belanda. Sungguh pengalaman tidak terlupakan dapat ikut belajar sistem pendidikan di negara bekas penjajah kita itu. Di sana mereka berkunjung ke sekolah terbaik, Van Der Capellen dan juga berwisata ke Volendam, menyusuri Kanal Amsterdam serta mampir ke Brussel-Belgia.

Rejeki dari Tuhan tak kan ke mana. Pulang dari Belanda mendapat panggilan mengikuti workshop menulis jurnal di Kota Bali. Sambil menyelam minum air, sambil belajar tidak melewatkan berwisaya keliling kota di pulau destinasi wisata internasional itu. Materi pokok pada saat itu adalah mengubah naskah inobel menjadi jurnal.  Hal yang sangat prestisius karena naskah tersebut akan dimuat dalam jurnal berkelas nasional, DEDAKTIKA (sebagaimana ditulis dalam chat WA Bu Emi).

Lagi-lagi, Guru Ahli di Pusat Belajar Guru Kabupaten Bojonegoro ini masih mendapat keberuntungan di tahun 2017. Tidak lama setelah kembali dari workshop penulisan jurnal di Bali, ia mendapat undangan untuk mengikuti Workshop Literasi di Kota Batam.  Tidak ingin melewatkan kesempatan, bersama beberapa peserta menyempatkan mampir ke negara tetangga, yaitu Singapura.  Dasar kutu literasi, sehari di kota singa berhasil melahirkan sebuah buku berjudul Dag Dig Dug Singapura.

Paska menyandang predikat juara I Inobelnas, ia belum boleh lagi mengikuti lomba yang sama, tentu dalam waktu yang belum bisa diprediksi.  Oleh karena itu, agar tidak kesepian ia mengajak teman-teman alumni finalis inobelnas untuk menulis bersama dalam satu buku.  Ia menyebutnya dengan istilah Patungan Buku Inspiratif.

Bukan hanya karya yang bersifat ilmiah.  Namun dalam grup tersebut juga menerbitkan kumpulan cerita inspiratif,  berbagi pengalaman mengajar, kumpulan puisi, kumpulan pantun, dan masih banyak lagi buku-buku lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan bukan hanya menerbitkan buku-buku patungan.  Saat ini lebih banyak menerbitkan SBGI (Satu Buku Guru Indonesia) dan SBSI (Satu Buku Siswa Indonesia).

Sejak itu ratusan buku lahir dari grup Patungan Buku Guru Inspiratif, karena sejak tahun 2018 ini lebih banyak menerbitkan SBGI dan SBSI, maka nama grup diubah menjadi Penerbit Buku Inspiratif (PBI).  Akhirnya undangan dari  berbagai daerah lain pun berdatangan.  Undangan tersebut berasal dari  kota Bogor, Sampang, Tuban, Blitar, Lamongan, Yogyakarta, dan lain-lain. Disebabkan banyaknya undangan akhirnya ia berinisiatif hanya menerima undangan sebagai narasumber pada hari Sabtu-Minggu atau Jumat sore.

Di Bojonegoro sendiri, Guru SMPN 1 Baureno yang juga pimpinan Grup Patungan Buku Inspiratif serta sudah menerbitkan lebih dari 500 buku ber ISBN itu, setiap saat harus siap menerima panggilan sebagai pemateri seminar maupun pelatihan. Selain itu juga sebagai juri dalam lomba-lomba guru baik di PBG pusat maupun PBG kecamatan.

Ada hal lain yang membanggakan, selain di PBG sebagai guru ia aktif juga di PGRI.  Keaktifan di PGRI diwujudkan misalnya sebagai juri lomba Guru Menulis dan Pelatihan Menulis Buku, memotivasi guru-guru Bojonegoro agar lebih inovatif dalam mengajar dan lebih kreatif dalam menulis. Selain itu, menghimbau agar guru-guru lebih sering mengirimkan hasil karya ke media.  Memotivasi mereka agar bersabar karena tidak sekali mengirim naskah pasti tayang atau dimuat.  Jangan berputus asa namun terus-menerus mengirim naskah.  Lama kelamaan pasti dimuat juga. Bukan karena penerbit merasa kasihan, tetapi memang pengalaman menulis itu sangat diperlukan.  Dengan terus-menerus mengirim naskah, berarti sudah terus-menerus belajar menulis. Dari proses tersebut kita belajar termasuk belajar meminimalkan kesalahan.

Pada tahun 2019 Bu Emi mengawali terbitnya buku Kado Cinta 20 Tahun dan Haiku (sebagaimana ditulis dalam dialog chat).  Karya itu ditulis  berdua dengan sang suami.  Harapannya dengan lahirnya buku tersebut, ikatan pernikahan dengan tambatan hati belahan jiwa semakin bahagia. Romantis sekali ya, Pembaca!

Selanjutnya, di tahun yang sama, kembali menerbitkan 2 buku tunggal dan beberapa buku patungan.  Buku tunggal yang pertama berbahasa Jawa, yaitu pengalaman selama haji dan umrah sedangkan buku tunggal yang kedua adalah adalah kumpulan esai Menulis dan Menerbitkan Buku sampai Keliling Nusantara dan Dunia.  Alhamdulilah impian ini bisa menjadi nyata. Adapun untuk patungan, seperti biasa saja, yaitu menulis bersama siswa SMPN 1 Baureno dan bersama grup Penerbit Buku  Inspiratif.  Selain itu menulis bersama penerbit Pustaka Ilalang dan Penerbit Majas Grup.  Yang paling banyak menerbitkan buku di Penerbit Majas. Penerbit ini memiliki 3 penerbitan, yaitu Majas itu sendiri, Praktek Mandiri, dan Dwi Putra Jaya.

Pada tahun 2020, Bu Emi lebih berkonsentrasi untuk mengelola Perpustakaan Pribadi menjadi Taman Bacaan Masyarakat.  Taman Bacaan Masyarakat itu diberinya nama TBM Kinanthi. Kegiatan rutinnya adalah mengadakan pelatihan dan lomba menulis.  Lomba di TBM Kinanthi tentu berbeda dengan lomba-lomba di tempat lain.  Karena bertujuan memotivasi, maka semua peserta lomba pasti juara, yaitu juara 1, 2, 3 dan yang lainnya juara harapan. Hingga saat ini TBM Kinanthi sudah mengadakan 5 kali pelatihan menulis, 4 kali pelatihan langsung dan yang sekali webinar. Selain itu, taman bacaan tersebut sudah melahirkan 3 buku hasil lomba dan 1 buku masih dalam proses di percetakan.

Bulan Oktobr adalah bulan bahasa Indonesia. Dalam rangka menyambut Bulan Bahasa Oktober tahun 2020, TBM Kinanthi mengadakan Lomba Membaca Geguritan untuk siswa SD/MI.  Hal ini bertujuan untuk menanam kecintaan siswa sejak dini terhadap sastra Jawa, khususnya geguritan (Puisi Jawa Modern). Selain itu, masih bayak lagi agenda kegiatan yang kami gagas di tahun 2021 nanti.  Kabar gembiranya adalah bahwa kegiatan semacam itu didukung oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Penerbit Majas, KBM Bojonegoro, Pramuka Jaya Vlog, Sanggar Baca SUMILAK dan lain-lain.

Pada sesi tanya jawab, Aam Nurhasanah sang moderator membuka pertanyaan tentang kiat khusus untuk memperkaya kosa kata dan memperluas topik menulis. Kadang bagi penulis pemula, banyak yang beranggapan bahwa menulis itu masih terasa sulit. Ternyata jawabannya sangat singkat. Apa itu? Baca, baca dan baca. Perbanyaklah membaca. Jika ingin lancar menulis cerpen, banyak-banyaklah membaca cerpen.  Jika ingin lancar menulis puisi, maka banyak-banyaklah membaca puisi, demikian juga yang lain.

Ketika saya mengalami kebuntuan dalam menulis, segera jalan-jalan mencari bahan bacaan baru, Hal penting lainnya adalah bergaul dengan penulis. Dengan begitu adrenalin untuk menulis akan meningkat drastis.  Hal yang tidak kalah pentingnya untuk mengembangkan kemampuan menulis adalah masuk ke grup-grup pelatihan menulis.

Bu Emi Sudarwati, dari awal sudah menceritakan bahwa anak didiknya banyak menjadi penulis dan menerbitkan buku. Tentu hal ini membuat penasaran dan  pertanyaan bagi teman-teman kelas menulis. Rasa penasaran peserta terjawab ketika Bu Emi menerangkan tentang kiat-kiat membimbing siswa untuk menulis yang dilakukannya.

Biasanya Bu Emi meminta siswa menulis ringkasan ceritanya.  Salah satu siswa ditunjuk secara acak membacakan ringkasan ceritanya.  Semua harus siap jika ditunjuk.  Jawaban siswa yang lain cukup ditandatangani. Jika itu dilakukan 15 menit sebelum pelajaran dimulai.  Lama kelamaan siswa terbiasa menulis. Pada lain kesempatan, Bu Emi  membuat pertanyaan pancingan. Misalnya tema hari itu tentang kisah lucu. Pertanyaan yang diajukan misalnya: 1) Apakah kamu pernah mengalami kisah yang sangat lucu, 2) Kapan dan di mana kamu mengalami kisah lucu tersebut. Jawaban yang diberikan harus berupa paragraf, bukan jawaban pendek. Jawaban-jawaban siswa tadi kemudian disusun menjadi cerita. JADILAH SEBUAH BUKU.

Adakah kendala dalam menerbitkan buku? Hampir tidak ada, kata ibu inspiratif ini.  Jika ingin menerbitkan buku secara gratis bahkan sesudahnya mendapat royalti dari tulisan yang diterbitkan, bisa saja. Tetapi seleksinya sangat ketat.  Naskah harus benar-benar bagus, rapi, dan diprediksi LAKU karena penerbit mayor tentu tidak mau merugi. Jika dikatakan penerbitan buku tidak mengalami kendala yang berarti karena tulisan yang akan diterbitkan sudah benar-benar siap dan penerbit yang dimaksud adalah penerbit Indi.  Jadi, penulis yang membiayai dan menjual sendiri buku karyanya. Menurut guru pegiat literasi ini, hal seperti itu mengasyikkan.

Agar memiliki tabungan tulisan, Bu Emi menceritakan bahwa ia MENULIS SETIAP HARI. Pekerjaan itu hanya membutuh waktu 10 sampai 20  menit saja. Masa sih tidak bisa? Sementara kita mempunyai waktu 24 jam sehari semalam.  Tidak ada kata lain selain paksakan diri untuk menulis. Ia menyarankan paling tidak 10 menit dalam sehari gunakan untuk menulis. Waktunya terserah sang penulis itu sendiri.

Saya lalu teringat. Jika Bu Emi menyarankan menulis minimal 10 menit sehari, Om Jay Sang Guru Blogger Indonesia bahkan menyarankan menulis 1000 kata per hari.

Bagi ibu yang produktif menulis ini, buku adalah bukti sejarah.  Buku merupakan catatan bahwa kita pernah hidup di dunia ini. Oleh karena itu ia mengajak agar guru menulis sejarah sendiri.  Jangan menunggu orang lain menulis tentang kita. Untuk mewujudkan hal ini, ia mengajak para guru untuk menulis SaGuSaBu (Satu Guru Satu Buku) & SaSis SaBu (Satu Siswa Satu Buku). Ia menawarkan kepada para guru untuk menerbitkan buku ber-ISBN dengan mudah dan murah. Ia mengajak para guru mengikut program tersebut dengan cara mengirimkan naskah buku Bapak/Ibu Guru atau Siswa. Tentang apa saja sesuai bakat dan minat. Misalnya: Kumpulan Puisi, Kumpulan Cerpen, Kumpulan Esai, Novel, PTK, Naskah INOBEL, Kumpulan Pantun, Kumpulan Resep, Kumpulan Cerpen Misteri, dan sebagainya. 

Ketentuan lainnya adalah karya ditulis dengan huruf Time New Roman dengan besar font 12, spasi 1,5 dan diketik di atas kertas ukuran A5 dengan margin kiri, atas, kanan, dan bawah masing-masing 2 cm. Jangna lupa naskah sudah lengkap dengan kata pengantar, biografi, dan foto dalam 1 file. Nama file yang dikirimkan adalah SaGu SaBu spasi Nama atau SaSis SaBu spasi nama. 

Biaya penerbitan tergantung jumlah halaman. Jumlah halaman sebanyak 50-56 halaman membayar 480.000 rupiah. Ongkos kirim buku bisa bayar di tempat. Biaya sebesar itu penulis mendapat 10 eksemplar buku, piagam penulis, dan beberapa buku terbitan Majas Grup. Alamat Pengiriman naskah: emiime2011@gmail.com disertai Konfirmasi ke WA 082132206671.

Jika naskah dinyatakan lolos kurasi, penulis dipersilakan transfer ke nomor rekening BRI 001101005862531 atas nama Emi Sudarwati. Bukti transfer dikirimkan ke nomor WA di atas. Buku akan terbit paling cepat 3 bulan setelah mengirimkan naskah dan melakukan transfer pembiayaan.

Itu ajakan Bu Emi. Tertarik tapi belum punya kumpulan tulisan? Ayo, mulai menulis, SEKARANG!

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

8 thoughts on “Baca, Baca, Baca, Tulis, dan Terbitkan!

  • 02/10/2020 at 19:17
    Permalink

    Kalau saya jadi teringat mengenai kata -kata beliau bahwa tidak harus semua yang ditulis menjadi buku nanti tulisan itu akan menemui takdirnya….kata ini memotivasi ana untuk free writing

    Reply
  • 02/10/2020 at 09:42
    Permalink

    Sangat menginspirasi crtnya pak de, ditambah aturan cara dalam penulisan dan jika ingin menerbitkan, kisah yg sangat bermanfaat dan selamat jg crt ini mendapat juara juga pak de. Sukses sll pak

    Reply
  • 02/10/2020 at 01:26
    Permalink

    hebat pak D, sy jd ingat masih sekolah dulu ada istilaj calistung sekarang diubah mnjadi calisbit siip

    Reply
  • 02/10/2020 at 00:25
    Permalink

    Luar biasa resumenya .. detail dan runtut.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *