Angkat Jari Manismu, Bisa?

Berkunjung ke Sekolah Tetangga

Pada suatu waktu, aku berkunjung ke sekolah tetangga. Berbagai alasan kami berkumpul sesama guru dan berpindah tempat untuk menyegarkan suasana. Selain itu, dengan berkunjung ke sekolah lain boleh jadi ada hal-hal yang bisa diduplikasi atau dimodifikasi untuk kepentingan pembelajaran.

Setiap kali berkunjung ke sekolah tetangga, selalu aku sempatkan untuk bercengkerama dengan para siswa di sana. Sekedar menyapa kelas berapa, sudah makan atau belum, kesukaannya apa, dan sebagainya. Ada kebahagiaan tersendiri jika merasa dekat anak-anak karena itu selalu aku sempatkan bercengkerama dengan mereka.

Bermain Lipat dan Angkat Jari

Pada suatu hari aku berkunjung ke salah satu SD tetangga di kecamatanku, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Musi Rawas. Sambil menunggu acara resmi dimulai, aku dekati beberapa anak, kebanyakan perempuan. Mereka ada yang sudah kelas enam, kelas lima, ada juga yang masih duduk di kelas empat. Kepada mereka aku berikan permainan. Permainan sederhana saja. Mereka aku suruh memasangkan kelima jari tangan kanan dan kiri mereka. Satu jari yaitu jari tengah, aku suruh mereka melipatnya ke dalam dengan menyentuhkan ruas tengahnya.

Permainan dimulai! Aku meminta mereka menggerakkan satu demi satu jari yang berpasangan agar saling bersentuhan. Jempol kiri dengan jempol kanan diangkat lalu disentuhkan. Telunjuk kiri dan telunjuk kanan diangkat dan kembali disentuhkan. Syaratnya, jari tengah tetap terlipat dan ruas tengahnya saling menempel dengan erat. Dengan riang mereka melakukannya. Perintah berikutnya adalah meminta mereka mengangkat kelingking dan menyentuhkannya kembali. Dengan berbinar-binar mereka juga berhasil melakukannya. Terakhir, aku merogoh kantong. Uang pecahan sepuluh ribuan aku tunjukkan kepada mereka sambil berkata.

”Siapa bisa mengangkat jari manis dan menyentuhkannya kembali Pak Guru beri uang sepuluh ribu!”

Sampai di sini suasana mulai riuh. Satu demi satu dari mereka berteriak.

“Bisa! Aku bisa, Pak!” teriak gadis kecil berkerudung coklat dengan riangnya.

Aku hanya tersenyum karena yakin pasti jari tengahnya tidak lagi bersentuhan dengan erat.

“Ha ha ha, kenapa jari tengahnya lepas?” tanyaku sambil tertawa.

Gadis kecil berkerudung coklat itu pun tersipu.

Iyo, Pak! Nek gak lepas gak iso, Pak!” (Iya, Pak! Kalau tidak lepas, tidak bisa, Pak!) dengan tersipu ia beralasan. Teman-temannya yang lain pun mengiyakan tentang alasan jari tengahnya terlepas ketika mengangkat jari manis.

Akhir Permainan

Mereka, para gadis kecil penerus bangsa, bertutur sehari-hari dengan bahasa Jawa. Sebagian besar penduduk di kecamatan kami memang bertutur sapa dengan bahasa Jawa. Bahasa itu adalah bahasa daerah utama setelah bahasa Melayu Musi Rawas. Bahasa Melayu Musi Rawas mirip dengan bahasa Melayu Palembang tetapi memiliki dialek beragam. Misalnya kata ke mana, dalam bahasa daerah setempat diucapkan ke mano. Di kecamatan lain diucapkan ke mane dengan bunyi vokal “e” seperti pada kata sore.

Para gadis desa yang masih belia itu sekuat tenaga berusaha mengangkat jari manisnya dengan asyik. Mereka tidak menghiraukan lagi hadiah sepuluh ribu yang saya janjikan. Setelah sekian lama mereka gagal, aku pun berkata.

“Nah, karena sebentar lagi saya masuk dan tidak ada yang menang, berarti tidak ada yang dapat hadiah. Nanti kalau saya datang lagi dan ada yang bisa, hadiahnya akan saya beri.”

Dua Bulan Kemudian

Dua bulan kemudian saya datang lagi untuk sebuah urusan. Ketika aku pulang, tiba-tiba ada suara kecil memanggil.

“Pak Susanto!”

Rupanya ada gadis kecil berseragam sekolah yang sedang berkumpul bersama temannya memanggilku. Kulihat ia sambil tertawa kecil menggerak-gerakkan jari tangannya di depan dada. Gerakannya persisi seperti dua bulan lewat kami bermain.

Laju motor kuhentikan. Setelah menoleh, aku tersenyum dan memberi isyarat ”suka” dengan jempol ke atas. Setelah itu aku meninggalkan sekolah mereka sambil bergumam, masih ingat rupanya.

#Day2AISEIWritingChallenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

14 thoughts on “Angkat Jari Manismu, Bisa?

  • 08/10/2020 at 21:47
    Permalink

    Wah seru sekali pengalamannya pak Susanto, terima kasih telah berbagi!

    Reply
  • 08/10/2020 at 08:31
    Permalink

    Luar biasa pak…anak2 sampai terkesan begitu, kedatangan guru seperti bapak pasti dirindukan.

    Reply
  • 08/10/2020 at 08:21
    Permalink

    Anak-anak akan selalu ingat dengan orang yg berkesan bagi nya,

    Reply
  • 08/10/2020 at 08:07
    Permalink

    Lucuu..ngebayangin anak2 itu coba praktikin yg bpk minta..

    Reply
  • 08/10/2020 at 06:10
    Permalink

    Pada dasarnya anak-anak menyukai hal-hal baru, apalagi yang sifatnya eksperimen. Rasa ingin tahunya tinggi.
    Itung2 melatih gerak motoriknya ini y Pak.

    Reply
  • 08/10/2020 at 05:48
    Permalink

    Dan saya pun yakin, anak-anak murid bapak pasti selalu merindukan bapak untuk selalu bercengkerama dengan mereka. Bener-bener luar biasa bapak…membangun karakter dengan penuh perhatian dan kasih sayang, dalam hal kecil sekalipun. Semoga saya bisa mencontohnya..

    Reply
  • 07/10/2020 at 22:29
    Permalink

    keren pa, permainan ini masih belum terbayang di kepala say, namun nanti coba sy praktekan dg anak2 sy di rumah, sepertinya mereka akan sangat suka sprti anak2 SD itu. cerita bapa seperti cerpen dan mengalir begitu saja sepertinya, semoga bisa seperti bapa, salam kenal dar bogor. kapan2 mampir ke sekolah saya jika ke berkunjung ke bogor ya pa Susanto

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *