Menjadi Guru di Dusun Pedalaman

Sekoci (Dok. Pribadi Kiriman Teman)

Kisah Perjalanan ke Desa di Pedalaman

Pada Tahun 1993 saya bertugas sebagai salah seorang tenaga pendidik di Desa Batu Kucing, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Desa Batu Kucing adalah desa di pinggir Sungai Rawas, salah satu anak Sungai Musi. Inilah pedalaman, kosa kata yang sebelumnya hanya ada dalam angan.

Perjalanan ke desa tersebut ditempuh dengan kendaraan darat dari ibukota kabupaten (saat itu masih berada di Lubuklinggau) sepanjang lebih kurang 89 kilometer. Setelah itu dilanjutkan dengan kendaraan sungai berupa speedboat bermesin 40PK. Orang setempat menyebutnya sekoci. Berangkat dari Kota Lubuklinggau pukul 10.00 pagi, sampai ke dusun petang harinya.

Berangkat pagi sampai ke dusun petang hari, sebenarnya bukan karena  jarak desa tersebut yang sangat jauh dari ibukota kabupaten melainkan para penumpang harus menunggu beberapa jam sebelum akhirnya speedboat berangkat pada pukul 15.00 WIB. Sebelumnya, para penumpang atau si sopir berbelanja kebutuhan rumah tangga atau niaga di pasar dekat pelabuhan perahu tersebut. Perjalanan ke hilir memakan waktu tempuh lebih kurang 2,5 hingga 3 jam. Belum lagi jika di tengah perjalanan ada gangguan mesin atau gangguan badan perahu maka waktu tempuh pun bertambah panjang.

Sampai di Dusun

Sebenarnya, speedboat bukan hal baru. Di Waduk Wisata Sempor, 7 kilometer dari desa kelahiranku, ada alat angkut air seperti itu. Bedanya, pada saat itu kami berwisata, kali ini speedboad adalah alat angkutan umum antardesa yang memiliki kecepatan tinggi dibanding perahu berukuran sedang bermesin disel.

Setelah duduk di perahu bermesin dengan kapasitas 12 orang kurang lebih tiga jam, akhirnya sampai di dusun tujuan. Setelah perahu memutar kepala agar buritan ada di hilir, perahu mesin itu pun ditambatkan. Satu demi satu penumpang turun dan naik ke rakit sebelum naik ke atas tebing. Rakit adalah kayu gelondong yang dirangkai menjadi satu. Kayu-kayu tersebut dirangkai dengan rotan dan pasak besi. Dengan demikian ia cukup kokoh dan mampu menampung beberapa orang dan perabotan. Di situlah para perempuan mandi, mencuci pakaian, dan perabot rumah tangga. Anak-anak mandi dan bermain air atau berenang. Para lelaki menambatkan karet hasil sadapan agar  tetap lembab. Di rakit itu pula mereka membuang hajat. Tempatnya di dalam kotak kayu di bagian hilir rakit. Plung! Hajat mereka pun hanyut dan menjadi santapan ikan-ikan.

Menjadi Guru Baru

Turun dari sekoci, lelaki lajang berusia 23 tahun itu untuk pertama kalinya datang ke tempat pengabdian. Dengan mengantongi ijazah diploma dua Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Surat Tugas dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi, ia memulai perjuangan. Mengabdi dan bekerja sebagai pendidik di desa terpencil dan berjuang menyesuaikan diri terhadap bahasa, adat istiadat, kebiasaan.

Bahasa, adat istiadat, kebiasaan MCK yang jauh berbeda dengan tempat tinggal asal cukup menyulitkan bagi guru muda itu menyesuaikan diri. Berkat keramahtamahan para penduduk dan juga sikap rendah hatinya, ia berhasil melewati masa-masa adaptasi. Sedikit demi sedikit kosa kata dikuasai, kebiasaan di dusun pun mulai diikuti.

 

#Day3AISEIWritingChallenge
#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

18 thoughts on “Menjadi Guru di Dusun Pedalaman

  • 17/10/2020 at 20:00
    Permalink

    Sungguh besar pengabdian seorang guru.. artikel bagus nih. pak susanto mmg jagonya

    Reply
  • 11/10/2020 at 17:58
    Permalink

    Pengabdian yg luar biasa pak.

    Reply
  • 11/10/2020 at 15:45
    Permalink

    Bangga kenal dengan bapak yang punya segudang pengalaman.

    Reply
  • 10/10/2020 at 20:14
    Permalink

    Mantap Pak Susanto, terus menginspirasii Pak!

    Reply
  • 10/10/2020 at 20:07
    Permalink

    Luar biasa pak Susantoo.. sangat menginspirasii

    Reply
    • 10/10/2020 at 16:11
      Permalink

      Ibu Komang, sedang merangkai memori yang mulai berserakan di luar kepala. Hahaha..

      Reply
  • 10/10/2020 at 10:03
    Permalink

    Dari tulisan ini saya mendapat pembelajaran lagi, terutama dalam penyusunan alur ceritanya.

    Reply
  • 10/10/2020 at 05:37
    Permalink

    Para sahabat yang sudah singgah saya ucapkan terima kasih.

    Reply
  • 10/10/2020 at 05:23
    Permalink

    Seru banget Pak D…
    Perjuagan Darat dan Sungai untuk sampai ditempat tujuan, sehingga bisa mengajar, itu seru dan luar biasa sekali.
    Sehat terus Pak D.
    Terimakasih tulisan untuk tulisan yang menarik dan seru inii

    Ayo Terus Menulis

    Reply
  • 10/10/2020 at 04:59
    Permalink

    Perjalanan mulia yang luar biasa pa yg dikemas dlm gaya bahasa yg menarik,, tetap semangat menginspirasi ya pa

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *