Tugas Pertama Menjadi Guru di Desa Terpencil

Guru di Desa Terpencil

Foto bersama siswa kelas 6 (Dok. Pribadi)

Hari Pertama di Batu Kucing, Desa Terpencil

Tugas pertama menjadi guru dimulai. Perjalanan dari pelabuhan sekoci (speedboat) pada hari itu memakan waktu dua jam lebih sedikit. Hari masih agak tinggi ketika kami sampai di rakit Sobir. Rakit Sobir adalah rakit yang di atasnya adalah rumah terapung. Rumah itu milik Pak Sobir. Mungkin karena itulah rakit itu dijuluki rakit Sobir.

Sebenarnya aku tidak sendiri. Guru yang mendapat SK mengajar di SDN 1 Batu Kucing ada dua orang. Teman satu angkatan, seorang perempuan, dan masih gadis. Pada foto di atas terlihat di latar belakang sedang berjalan. Ia lebih dulu sampai karena berangkat sehari sebelumnya. Kebetulan, ketika aku sampai di rakit Sobir, ia sedang mandi. Seperti layaknya perempuan di desa tepian Rawas, ia berkain kemben, kain sarung motif bunga-bunga sebagai kain basahan penutup bagian tubuh yang vital.   Guru gadis sesama lulusan D2 PGSD FKIP UNS itu berasal dari Sragen itu bernama Sri Rejeki. Kami memanggilnya dengan panggilan akrab Bu Jeqi.

Hari pertama di Batu Kucing adalah hari Sabtu tanggal 4 September 1993. Malam itu malam minggu. Kami bersama kepala SDN 2 Batu Kucing, SD kecil yang ada di seberang sungai, bercengkerama dan berkenalan. Suasana cukup ramai di ruang tamu berlantai semen itu. Lampu TL yang dinyalakan mesin genset cukup terang menemani kami bertukar cerita.

Rumah itu, rumah kepala sekolah kami. Beliau bernama Bapak Kholid Kalingi. anak-anak memanggilnya Pak Kholid. Bapak lima orang anak (pada waktu itu) terhitung masih muda, berusia 39 tahun. Namun demikian beliau sudah mempunyai menantu dari anak pertamanya. Tokoh masyarakat kelahiran desa setempat cukup lama menjabat sebagai pimpinan sekolah tertua di desa yang berjarak satu setengah jam perjalanan speedboat dari ibukota kecamatan Rawas Ilir, Bingin Teluk.

Bercengkerama di Malam Pertama

“Selamat datang di desa kami. Ko lah dusun kami, mungkin jauh sekali dibandingkan tempat kamu di Jawo sano,” kata Pak Kholid membuka percakapan malam itu.

Sebagai rumah tokoh masyarakat yang saudara dan kerabatnya lumayan banyak, hampir setiap sore rumah dan sekitarnya ramai sebagai tempat “nongkrong”. Sekedar ngobrol atau bermain catur. Apalagi malam perdana kami di sana banyak warga berkerumun. Kami bagaikan tontonan. Seluruh mata tertuju seolah tanpa berkedip. Awalnya agak risih, namun sebelum berangkat kami dibekali peribahasa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Mungkin inilah bentuk penyambutan kepada warga baru.

Hari pun semakin malam, perbincangan seperti sudah kehabisan bahan. Mulut disibukkan dengan kudapan ala kadar. Tiba-tiba lampu berkedip. dari belakang suara mesin disel muai tidak stabil pertanda solar dalam tangkinya mulai menipis. Satu demi satu para tamu berpamitan. Tinggallah kami bersama tuan rumah yang mulai berbenah, menutup pintu, menyalakan lampu minyak pengganti penerangan listrik yang tidak lama lagi akan padam. Setelah kami ke kamar masing-masing, kusempatkan melongok keluar. Kampung terlihat gelap karena satu demi satu lampu-lampu listrik mulai dipadamkan pemiliknya. Kembali ke kamar, mata belum mau dupejamkan. Pikiran melayang membayangkan seminggu lalu masih di tanah kelahiran.

Menabur Tanah dan Air Pemberian Mamak

Lewat tengah malam, mata mulai terpejam. Keesokan harinya, meskipun mata masih mengantuk harus dipaksa bangun. Kewajiban menunaikan ibadah ditambah rasa malu diam di rumah orang mengalahkan kantuk yang masih bergelayut.

Hari masih gelap tetapi rakit sudah mulai ramai. Apalagi sekoci yang tersisa masih ada yang berputar-putar menunggu penumpang. Aku teringat sesuatu. Ada air dalam botol minuman dan sebungkus tanah galian samping rumah di dalam tas. Itu bekal dari mamak (ibu).

“Jika kamu sampai di tanah seberang, taburkan tanah sampng rumah kita dalam wadah ini dan siramkan air sumur dalam botol ini di mana saja agar kamu betah tinggal di sana,” katanya memberi nasihat.

Entah petuah dari mana, aku tidak tahu. Meskipun begitu, untuk menghormati dan menghargai mamakku. Dua benda pemberiannya itu aku jaga baik-baik. Pagi ini aku kutunaikan pesannya, menabur tanah dan menuang air sumur dalam botol.

“Apo tu, Tok. Tana jak mano, air apo?” tanya beberapa orang penasaran.  (Apa itu, Tok. Tanah dari mana, air apa?)

“Ini, Kak. Ibu aku memberi sangu tanah dengan air sumur. Katanya biar aku betah hidup di Sumatera,” jelasku sambil tersenyum. Lidahku belum fasih berbahasa dusun Batu Kucing.

“Kalu kami lain. Sapo bae makan betok Batu Kucing, dak balik lagi ke Jawo!” kata mereka. (Kalau kami lain. Siapa saja makan (ikan) betok Batu Kucing tidak akan kembali lagi Jawa)

Hari Pertama di Sekolah

Sedikit terkesiap aku mendengar penuturan mereka.Tapi kutepis dengan pikiran positif, ah itu hanya mitos saja. Kalau punya uang mengapa tidak?

Tibalah hari Senin, hari yang mendebarkan. Hari ini aku sebagai Calon PNS pertama bertugas karena sebuah Surat Keputusan dan Surat Perintah Perjalanan Dinas. Pada hari itu, kami melaksanakan upacara bendera. Kepala sekolah memberikan sambutan. Kemudian ia menjelaskan bahwa sekolah mendapat dua orang guru baru langsung dari Pulau Jawa. Satu orang bernama Pak Susanto, satu lagi Ibu Sri Rejeki.

Selesai upacara, kami berkumpul di ruang guru. Ruang guru adalah bangunan rumah dinas kepala sekolah. sebagian dinding penyekat dilepas sehingga kami dapat duduk dalam ruangan yang cukup lebar. Ada empat orang PNS: kepala sekolah, Ibu Surati (Guru kelas 2), Pak Bastari (Guru kelas 6), Pak Asubri (Guru kelas 4), Ibu Sri Rejeki (Guru kelas 3), dan aku mendapat tugas sebagai guru kelas 5. Guru kelas satu adalah guru honor, kemenakan kepala sekolah. Kedatangan kami melengkapi komposisi guru yang sebelumnya ada yang merangkap mengajar dua kelas.

Dari perbincangan di kantor diketahui bahwa belum pernah terjadi guru dengan komposisi seperti tahun ini, guru kelas 1 hingga kelas 6 lengkap terisi. Dari cerita kepala sekolah, waktu mengajar guru PNS di SDN 1 Batu Kucing paling lama 5 tahun. Setelah itu, kembali guru merangkap mengajar karena ada kelas yang ditinggalkan guru. Tragisnya nasib sekolah kami, hanya sebagai batu loncatan.

#Day4AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Tugas Pertama Menjadi Guru di Desa Terpencil

  • 05/01/2021 at 13:38
    Permalink

    Mantaaap Pak De… sangat kayak pengalaman batinnya ya Pak? Ternyata bukan batu loncatan krn sampai 12 tahun!

    Reply
  • 11/10/2020 at 17:41
    Permalink

    Berasa lagi baca novel “Laskar Pelangi”, mau lagi pak cerita yg kyk gini. Bahasanya lugas dan seperti ikut merasakan kejadian wktu itu. “Batu Kucing” tidak asing di telinga saya, tp asing di mata saya. Yg saya tanyakan, apa kabar dengan ibu Jeqi sekarang? Sudahkan makan ikan Betok?

    Reply
  • 11/10/2020 at 06:53
    Permalink

    Sungguh pengalaman yang sangat berharga, lembaran ini sebagai saksi sejarah masa sekarang.Tanpa melalui jalan seperti itu mungkin sekarang bukanlah apa-apa. Say

    Reply
  • 10/10/2020 at 20:56
    Permalink

    Hebat…
    Cakep banget pengalaman hidupnya Pak D…
    Terimakasih, lagi lagi menginspirasi saya…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *