Desa Terpencil Langganan Banjir (Cerita Lanjutan)

 

Menikmati Pekerjaan sebagai Guru SD Terpencil

Hari pertama di tempat tugas rasanya puas. Puas karena berhasil menunaikan tugas dari negara dan telah meminta bukti nyata melaksanakan tugas dalam bentuk surat perintah perjalanan dinas.  Tanggal 4 September 1993, hari pertama menginjakkan kaki, menitipkan hidup di desa yang belum pernah terlintas di dalam angan. Namun berkat keramahan penduduk dan kerendahan hati, hari demi hari terasa menyenangkan.

Sedikit demi sedikit kosa kata bahasa daerah Rawas logat Batu Kucing dikuasai. Mulai berani mengucapan beberapa kata. Demikian pula dengan kebiasaan hidup, sedikit demi sedikit beradaptasi. Makhluk hidup selalu beradaptasi untuk mempertahankan hidup. Demikian pula denganku. Oleh karena itu, di kandang kambing harus mengembik, di kandang sapi melenguh, dan seterusnya. Selain itu, standar hidup pun harus disesuaikan.

Kemampuan beradaptasi sangat diperlukan. Bukan semata-mata untuk mempertahankan hidup melainkan juga untuk memperlancar pekerjaan. Pendidik tidak hanya mengajar tetapi membelajarkan. Bagaimana agar anak belajar, itu lebih penting. Selain buku, guru pada saat itu adalah sumber belajar utama. Oleh sebab itu, jika kita tidak bisa beradaptasi dan menyelami budaya siswa tentu akan mengalami hambatan dalam melaksanakan pekerjaannya.

Ada Hal Menantang

Ada hal menantang pada tahun-tahun awal. Peserta didik hanya patuh kepada guru kelas. Jika diminta melakukan sesuatu oleh guru yang tidak mengajar di kelasnya, kelihatan ogah dan kurang ikhlas. Kerja bakti, misalnya. Mengapa harus begitu? Bukankah semua guru di sekolah adalah gurunya? Bukankah semua guru di sekolah adalah orang tuanya? Namun tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah lama.

Di ruang guru hal itu aku diskusikan. Kawan-kawan pun mengiyakan, merasakan hal yang sama. Jawaban yang kuterima bernada keluhan. Akhirnya aku mohon izin, untuk sesekali masuk ke kelas mereka. Apalagi ketika guru kelas berhalangan, dengan rela hati aku mengisi dengan satu misi: mereka harus menganggap guru di SD mereka adalah gurunya.  Tidak ada lagi kata-kata: guru aku Bu Murni, guru Bu Sri, dan seterusnya.

“Awak guru sapo, Nak?” tanyaku suatu ketika kepada seorang anak kelas dua. ¹)

“Kawan guru kelas limo,” jawabnya. ²)

“Bagaimana kalau kata kawan  diganti dengan Pak?Coba ulangi!” perintahku lagi.

“Pak, guru kelas limo,” jawabnya.

“Bagus. Apakah saya juga gurumu, Nak?” tanyaku kemudian.

“Iyo,” katanya.

Yes! Dia tahu siapa guru kelas lima, namun ia sudah mau menjawab bahwa aku juga gurunya. Usahaku sedikit demi sedikit berhasil

Desa Terpencil Langganan Banjir

Lazimnya desa di tepi sungai setiap tahun dilanda pasang. Tidak terkecuali desa kami, Desa Batu Kucing. Setahun bahkan bisa sampai tiga kali. Banjir pertama sekitar bulan Desember, kemudian sekitar bulan Januari, dan banjir terbesar biasanya sekitar bulan Mei.

Rumah-rumah penduduk kebanyakan rumah panggung. Rumah yang ditopang oleh tiang-tiang kokoh dari kayu pilihan. Ada kayu yang sudah diolah menjadi balok, ada pula kayu gelondongan sebagi tiang. Belasan tiang menyangga bangunan dari ruang tamu hingga bagian dapur.

Rumah Panggung di Batu Kucing (Dok. Pribadi-kiriman teman)

Tidak ada satu pun tiang yang ditanam di dalam tanah. Meskipun begitu, bangunan kokoh berdiri megah. Rumah panggung adalah warisan nenek moyang. Itu melindungi warga dari binatang buas pada waktu malam. Rumah itu juga melindungi perabotan ketika banjir datang. Lihatlah, betapa ketika banjir datang seluruh desa terendam. Aktivitas tidak lagi di sungai karena telah berpindah ke depan rumah.

 

Suasana Banjir (Dok. Pribadi-kiriman teman)

 

Mencari Teman Hidup

Menjadi guru lajang di dusun orang, meskipun sudah dianggap di desa sendiri, ternyata kesepian. Meskipun tidak terlalu percaya diri, aku yakin gadis-gadis di dusun ada saja yang mau diajak hidup bersama sebagai pasangan. Namun sebelum berangkat ke Sumatera, aku sudah bertunangan. Niatnya nanti pada umur dua puluh lima hubungan ini diresmikan. Hal ini juga aku sampaikan kepada kepala sekolah. Aku yakin, sebagai tokoh masyarakat beliau akan mengabarkan bahwa aku adalah bujangan yang sudah memiliki calon pasangan. Dengan begitu aku yakin tidak akan ada yang mau mengambil menjadi menantu. Ha ha ha, tertawa sendiri dalam hati.

“Oi, Santok la sudah betunang,”  pernah sesekali terdengar di telinga. ³)

Hal itu kulakukan karena aku tidak mau mengkhianati janji. Sebuah janji yang pernah aku ucapkan kepada seorang perempuan, teman sekolah yang ditugaskan di kecamatan tetangga, Rawas Ulu. Karena hulu dan hilir, ternyata bentang geografi yang memiliki jarak lumayan jauh, hal itu membuatku berubah pikiran. Yang semula dua tahun lagi, rasanya terlalu lama. Pada bulan puasa di bulan Februari aku mohon izin pulang ke kampung halaman. Singkat cerita, pada lebaran hari ketiga, 16 maret 1994 kami resmi menjadi suami istri.

Kebahagiaan kami pun bertambah. Ketika setahun kemudian kami mendapat lelaki lucu, penambah hangat rumah tangga kecilku.

Mendengar kami memiliki momongan, ibunda mertua ingin menengok kami. Bersyukur kami memiliki teman satu sekolah, ia teman sebangku istriku di bangku kuliah. Om Burhan bersedia mengajak Simbok ke Sumatera. Bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Selama ini kami hanya bercerita kehidupan di desa, beliau sekarang merasakan dan mengalami sendiri. Cerita tentang perahu yang hilir mudik di sungai pada musim banjir hilir mudik di halaman rumah.

 

#Day5AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

 

Keterangan:

¹) Saya guru siapa, Nak?

²) Anda guru kelas lima.

³) Oi, Santok sudah bertunangan.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Desa Terpencil Langganan Banjir (Cerita Lanjutan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *