Serunya Ekskul di SD Terpencil

Berolahraga

Jika ditanya, “Apa pelajaran yang paling kalian sukai, Anak-anak?”

Mereka akan kompak menjawab, “Olahragaaaa!” Lantang dan tegas.

Pelajaran olahraga, tepatnya kegiatan olahraga adalah adalah kegiatan yang paling disukai. Dua benda yang paling ditunggu untuk dipinjamkan kepada mereka adalah bola kaki dan bola voli. Bola kaki disukai laki-laki, perempuan lebih menyukai bola voli. Mereka akan berebut kegirangan jika kedua benda tersebut dipinjamkan.

“Pyan, ambil bola kaki ini!” kataku kepada anak bernama Sopyan.

Maka si Piyan dengan cepat dan sigap akan menerimanya. Bahkan sering lupa ia mengucapkan terima kasih.

Lain waktu aku berkata kepada para siswi, “Sunarti, ajak teman-temannya main voli!”

“Horeee….!” seketika mereka kegirangan dan segera memasang jaring untuk bermain.

Bertaruh

Meskipun tidak semua anak menikmati atau mendapat giliran, memberinya kesempatan bermain adalah teknik termudah ketika rangkap mengajar. Bayangkan jika harus merangkap tiga atau empat kelas ketika tidak ada guru yang bertugas.

Di balik keceriaan dan terbantunya guru jika merangkap banyak kelas ada hal yang sangat “mengganjal” hatiku.  Mereka acapkali bertaruh ketika bertanding, anak lelaki maupun perempuan. Mereka bermain dengan taruhan. Misalnya satu anak mengumpulkan uang Rp500,00 maka dua regu voli akan terkumpul  uang enam ribu rupiah. Uang itu akan dimiliki oleh regu pemenang. Pada kesempatan lain mereka bertaruh dengan pensil atau barang lainnya. Tidak heran ketika giliran menulis ada anak yang diam saja karean alat tulisnya sudah melayang menjadi barang taruhan.

Tidak jarang karena memperebutkan taruhan pertengkaran tidak terelakkan. Ujung-ujungnya adalah berkelahi. Tidak puas berkelahi dengan tangan, pensil tajam pun kerap menancap di lengan.

“Pak, ado budak keno tujah mentelut!” teriak seorang siswa bermaksud melapor. ¹)

Kontan aku segera berlali keluar. Lalu mereka yang bertikai kami bawa ke ruang guru dan didamaikan. Sejak itulah aku tahu ternyata di balik serunya berolahraga, mereka bertaruh dengan uang atau barang taruhan. Alasan utama adalah untuk penyemangat.

Melihat kenyataan itu, tak ayal membuatku memutar otak mencari jalan keluar agar mereka tidak bertaruh lagi.

Pramuka dan Hiking

SD kami berada di hulu dusun. Jika dilihat dari arah mata angin, letaknya di ujung barat dusun. Setelah anak-anak bersekolah pada pagi hari, sore harinya mereka belajar agama di madrasah yang letaknya di hilir dusun atau ujung timur dusun kami. Jika diukur, jarak sekolah ke madrasah barangkali tidak lebih dari 1000 meter.

Oleh karena itu, ekstrakurikuler yang kami pilih hanyalah pramuka. Pramuka dilaksanakan pada setiap Jumat sore, saat anak-anak libur belajar di madrasah. Sekali waktu kami ajak berkemah di siang hari. Pada saat lainnya seperti pada bulan Agustus  kami ajak berkemah pada hari Sabtu dan Minggu, Persami (Perkemahan Sabtu Malam Minggu).

Hiking ke Rompok Sungai Petai

Kegiatan seru lainnya adalah hiking. Awalny sih karena aku kepengin tahu keadaan hutan di sekitar dusun tetapi tidak berani pergi sendiri, akhirnya berunding dengan rekan guru bagaimana kalau kita hiking. Setelah bermusyawarah, disepakati pada hari Minggu anak-anak kelas lima dan enam akan hiking ke rompok Sungai Petai. Rompok adalah perkampungan kecil para peladang dan petani yang berbagi hasil menyadap karet milik seorang juragan kaya.

Rompok Sungai Petai kami pilih dengan pertimbangan:

  • Di sana ada sekolah
  • Di tengah perjalanan, banyak pondok penduduk

 

Gambar tangkapan layar dari Kemdikbud

Pada saat itu kami belum mengenal Google Map. Oleh karena itu kami mengandalkan pemandu yang sudah biasa menempuh jalan ke sana. Dengan demikian, kemungkinan tersesat sangat kecil.

Pada pukul 6 pagi kami sudah bersiap-siap. Karena lokasi yang hendak dituju berada di seberang sungai, kami berombongan diseberangkan oleh pemilik perahu getek ke seberang dusun. Setelah berbaris, berdoa, dan mendengarkan pengarahan dari kepala sekolah, seluruh guru dan siswa kelas lima dan enam mulai berjalan ke Rompok Sungai Petai.

Sampai di Sungai Petai

Baru kali ini setelah empat tahun di dusun berjalan menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Kebun karet yang kami lalui tidak seperti kebun yang dikelola PTP (PT perkebunan), tumbuh berjajar rapi. Kebun karet di sini adalah hutan. Batang/pohon karetnya besar dan tinggi-tinggi. Semak belukar pun cukup menyeramkan. Bersyukur hingga tempat tujuan kami tidak bertemu ular atau binatang buas lainnya.

Pukul dua belas siang kami sampai ke Rompok Sungai Petai. Perkampungan itu masuk wilayah Desa Ngunang, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin. Wow, ternyata perjalanan sudah lintas kabupaten. Kami diterima salah seorang tokoh di sana. Kemudian kami dibawa ke gedung sekolah yang ada di sana untuk istirahat dan makan siang. Bukan main! Ternyata di tengah hutan pun apa gedung sekolah. Sayang sekali tidak ada guru yang bisa ditemui karena mereka sedang pulang ke kampung. Tokoh yang menerima kami juga seorang guru, tenaga honorer.

Kembali ke Dusun

Setelah beristirahat lebih kurang dua jam di gedung SDN Sungai Petai, kami bersiap-siap pulang. Perjalanan pergi lebih kurang empat jam. Sebenarnya tidak sampai empat jam tetapi karena di tengah perjalanan ada rombongan yang salah jalan, akhirnya kami harus menunggu mereka berkumpul kembali dan melanjutkan perjalanan. Pukul 14.00 kami pulang dan sampai dengan selamat pukul lima sore. Dengan dijemput perahu getek, kami sampai di rakit. Anak bujang kesayangan sudah menunggu. Sebelum naik ke tebing kami sempatkan berfoto dulu.

 

#Day6AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

¹) Pak, ada anak yang kena tusuk pensil. 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

12 thoughts on “Serunya Ekskul di SD Terpencil

  • 12/10/2020 at 05:51
    Permalink

    “Awalny sih karena aku kepengin tahu keadaan hutan di sekitar dusun tetapi tidak berani pergi sendiri” mengutip kalimat dari Pak D, untuk ide menulis challenge Pagi ini… Hehehe

    Itu yg ketusuk pensil beneran Pak D? Ada foto pensilnya gak…. Hehehehe

    Ayo Terus Menulis

    Reply
  • 12/10/2020 at 05:44
    Permalink

    Jadi ingat juga waktu dulu bertugas di desa tahun 80 an

    Reply
    • 12/10/2020 at 09:09
      Permalink

      Begitu, Bu hajjah? Alhamdulillaah kaya dengan pengalaman.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *