Cikal Bakal Sarjana dari Batu Kucing

Kepala Desa Batu Kucing memberikan sambutan pada acara pembukaan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Terbuka Negeri Rawas Ilir TKB Batu Kucing (Dok. Pribadi)

Tahun 2001 adalah tahun kedelapan aku bertugas dan mengabdikan diri di SD daerah terpencil, SD Negeri 1 Batu Kucing. Setiap tahun menamatkan siswa. Anak-anak yang tamat sekolah hampir semuanya tidak melanjutkan sekolah. Hanya beberapa orang kaya yang menyekolahkan anaknya ke kota. Itu pun jariku tidak habis untuk menghitungnya.

“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi ujungnya kembali lagi dusun,” begitu kilah para warga.

Sedih aku mendengarnya. Tetapi yang mempunyai hak menyekolahkan adalah mereka, para orang tua. Karena tidak mleanjutkan sekolah, anak-anak tamatan sekolah kami mulai mengenal dunia orang dewasa. Mereka mulai bekerja, mendapat uang, dan menyukai lawan jenis. Menikah pada usia muda tidak terelakkan lagi. Dua tahun atau tiga tahun tamat, satu demi satu mereka menikah  dengan sesama teman sekolah atau dengan pasangan dari desa tetangga.

Baca:  Tugas Pertama Menjadi Guru di Desa Terpencil

Di tengah kerisauan hati, suatu hari kepala sekolah pulang dari kota kecamatan. Beliau membawa kabar bahwa SMP Negeri Bingin Teluk, satu-satunya SMP Negeri di kecamatan kami pada waktu itu, berniat menyelenggarakan SMP Terbuka. SMP Terbuka itu belajar melalui modul-modul yang dikirimkan. Sebulan sekali Guru Pamong akan melakukan kunjungan dan memberikan pembelajaran.

Persiapan Mendirikan SLTP Terbuka Rawas Ilir TKB Batu Kucing

Dengan semangat empat lima aku sambut rencana itu. Orang tua dan wali murid kelas enam, baik SDN 1 maupun SDN 2 Batu Kucing dikumpulkan. Bersama seluruh dewan guru dari kedua sekolah, para orang tua/wali murid diberi pengarahan dan penjelasan perihal pendirian sekolah. Selain itu dicapai kesepakatan bahwa mereka bersedia menyekolahkan anak-anak mereka tetapi penyelenggaraan sekolah seperti sekolah SMP pada umumnya. Berseragam putih biru, dan masuk setiap hari sesudah anak SD pulang. Guru yang mengajar adalah guru SD dari kedua sekolah. Untuk membayar mereka orang tua/wali bersedia iuran BP3 (Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan). Dengan pertimbangan geografis, tempat belajar di gedung SDN 1 Batu Kucing, gedung sekolah kami.

Kesepakatan itu dilaporkan kepada kepala desa. Pada hari yang ditentukan rombongan guru SMPN Bingin Teluk dipimpin kepala sekolah datang berkunjung. Mereka datang membawa papan nama sekolah. Upacara pembukaan dilakukan sekaligus penyerahan berkas pendaftaran. Jarak dari SMP induk ke dusun kami sekitar satu jam perjalanan sekoci (speedboat). Oleh karena, itu kami sangat senang jika berkas pendaftaran yang dikumpulkan pada map merah dibawa sekalian oleh guru-guru pamong dari sekolah induk.

Upacara sederhana dilakukan. Lihatlah betapa jauh kesan formal. Bertempat di halaman sebelah ulu rumah kepala sekolah, upacara peresmian pendidirian SLTP Terbuka Negeri Rawas Ilir TKB Batu Kucing dilakukan. TKB adalah singkatan dari Tempat Kegiatan Belajar.

Kepala desa menyambut baik dan memberikan dukungan dengan adanya sekolah lanjutan tingkat pertama tersebut. Setelah papan nama sekolah dan berkas pendaftaran diserahkan terimakan, dengan itu pula secara resmi SLTP Terbuka di desa kami resmi didirikan. Kami bersyukur memiliki lembaga pendidikan setingkat lebih tinggi dari sekolah dasar.

Harapan Baru Pendidikan Lebih Maju

Risau hatiku terobati.  Kegalauan akan kelanjutan pendidikan anak-anak berangsur menghilang. Bayangan anak-anak akan menikah pada usia muda mulai sirna. Setidaknya sebelum anak-anak menamatkan pendidikan, mereka belum berpikir untuk kawin, istilah warga dusun untuk berumah tangga. Apalagi jika kelak mereka melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, MA, atau SMK tentu kawin muda semakin tertunda.

Selesai upacara, kami mengantar rombongan kepala sekolah dan guru SMPN Bingin Teluk ke rakit. Kami mengiring keberangkatan mereka ke arah hulu dengan doa dan harapan. Semoga hari ini menjadi hari bersejarah. Harapan baru agar pendidikan di desaku lebih maju membuat mimpiku malam ini terasa indah.

#Day10AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Cikal Bakal Sarjana dari Batu Kucing

  • 16/10/2020 at 17:05
    Permalink

    Saya angkatan k-3 dari sekolah itu..
    Alhamdulliah berkat sekolah itupun saja jadi sarjana muda..
    Dan k-2 adik saya lulusan dari sekolah itu juga, alhamdulillah mereka jg sdah jd sarjana..
    Kami sarjana bukan karena mampu ataupun orang kaya tetapi orang tua kami telah di doktrin oleh para guru yang hebat sehingga pemikiran orang tua kami lebih maju dari sebelumnya..
    Terima kasih pak guru,
    Terima kasih ibu guru,

    Reply
  • 16/10/2020 at 13:46
    Permalink

    Terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah berkunjung dan berkomentar.

    Reply
  • 16/10/2020 at 13:20
    Permalink

    Saya juga pernah dengar curahan pengalaman teman sejawat yang pertama kali mengabdikan diri di tempat kami bertugas saat ini. Sekitar tahun 1983 beliau memasuki daerah transmigrasi. Luar biasa perjuangannya, sama luar biasanya dengan Bapak. Salut Pak. I’m pround of you, Sir!

    Reply
    • 16/10/2020 at 14:42
      Permalink

      Pengalaman luar biasa dari orang yang super keren

      Reply
  • 16/10/2020 at 06:18
    Permalink

    Cerita nya selalu menginspirasi…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *