Ikan Mudik, Serunya Menikmati Karunia Tuhan

Menikmati Ikan Mudik

Berbagai macam cara Tuhan memberikan karunia kepada manusia. Penduduk desa yang tinggal di tepi Sungai Rawas, tidak terkecuali. Sungai yang masih menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat menjadi media Sang Penguasa memberi rejeki kepada makhluk-Nya. Ikan sungai dengan beraneka jenis, udang, dan air sungai itu sendiri adalah karunia Tuhan yang tiada terperi. Air Sungai Rawas adalah sumber air minum terbesar, tempat mandi, mencuci, dan sarana transortasi.

Salah satu karunia Tuhan yang besar lainnya adalah setiap tahun Dia mengirimkan Ikan Lambak. Ikan itu mudik dari hilir ke hulu. Kata orang-orang desa, ikan itu akan “kawin” atau akan melepaskan telur di “kampung halamannya” di daerah hulu. Ikan yang melakukan perjalanan itu disebut ikan mudik. Kosa kata “mudik” juga kami gunakan untuk mengatakan perjalanan dari arah hilir ke hulu.

Jutaan ikan seperti berbaris melewati dusun kami. Para lelaki dewasa segera mempersiapkan perahu. Mereka menyebar di berbagai tempat. Tidak lupa mereka membawa pesap, sejenis serok ikan yang panjang. Setelah sampai di tempat yang nyaman, perahu atau biduk ditambatkan. Mereka duduk menghadap ke hilir sungai. Mulailah mereka menyerok ikan. Satu kali serok, puluhan bahkan ratusan ikan terperangkap. Ikan-ikan itu dituangkan ke dalam biduk.

Serunya Merut Ikan

Setelah dirasa cukup, ikan itu dibawa pulang ke kampung. Para ibu menyambut, mengambil ikan  dan memasukkannya ke dalam ember.  Sang Bapak pergi lagi ke tempat semula untuk kembali “mengambil” ikan. Begitulah seterusnya.  Beratus-ratus kilo ikan hari itu berhasil ditangkap para nelayan.

Selama ini aku dan keluarga hanya menjadi penonton. Kami menikmati pemandangan dari hulu sampai hilir dusun, orang sibuk menyiangi perut ikan. Dalam bahasa setempat disebut “merut ikan” yakni mengeluarkan isi perut ikan.  Hari itu, kami ingin juga mencoba  membantu merut ikan. 

Aturan main membantu merut ikan  sederhana sekali. Banyaknya ikan yang berhasil disiangi perutnya dibagi menjadi tiga bagian. Dua bagian akan diambil pemilik ikan, satu bagian lagi menjadi hak pekerja.

Baca juga: Desa Terpencil Langganan Banjir

Belajar Membuat Pundang

Aku berdua dengan istri, disaksikan bujang kecil kami, ikut berpartisipasi membantu tetangga menyiangi ikan. Jika ikan tidak segera disiangi, mereka akan cepat membusuk. Pisau yang digunakan tidak perlu tajam. Jika pisau terlalu tajam, ikan akan terpotong menjadi dua bagian. Wah, seru sekali. Mereka yang sudah terbiasa, meskipun anak-anak, kelihatan cepat sekali mereka bekerja. aku baru dapat satu, mereka sudah berhasil menyelesaiakn dua atau tiga ikan. Haha… alhasil, satu ember ikan terasa lama sekali baru diselesaikan.

Mungkin pemilik ikan kasihan, jika orang “normal” pemilik ikan membagi menjadi tiga bagian. Kepada kami mereka ikhlas membagi dua bagian. Separuh hasil kerja kami mereka ambil, setengahnya lagi menjadi upah. Aku sebenarnya sungkan, tetapi pemberian itu tidak bisa kami tolak.

Mau diapakan ikan sebanyak ini? Digoreng semua jelas tidak mungkin. Akhirnya, mau tidak mau belajar kepada tetangga bagaimana mengawetkan ikan dengan dibuat pundang. Pundang  adalah istilah untuk ikan lambak yang diasinkan. Setelah dicuci bersih, ikan lalu digarami selapis demis selapis kemudian didiamkan sehari semalam. Keesokan harinya ikan dijemur. Setelah dijemur beberapa hari, ikan asin sudah jadi.

#Day8AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

15 thoughts on “Ikan Mudik, Serunya Menikmati Karunia Tuhan

  • 05/01/2021 at 14:32
    Permalink

    Mantap. Klo kirim ikan ke lebak, busuk di jalan nih. Hahhaha

    Reply
  • 14/10/2020 at 15:58
    Permalink

    Ikannya sebesar apa rata rata. Rasanya bagaimana. Bisa ngga buat bahan dasar krupuk arau empek empek

    Reply
    • 14/10/2020 at 18:31
      Permalink

      Ikannya segede “dua jari dijejerin”.
      Semua ikan bisa dijadiin bahan empek-empek,krupuk, kemplang.
      Dipanggang untuk teman ngopi juga OK.

      Reply
  • 14/10/2020 at 01:04
    Permalink

    Seneng sekali, bisa merasakan suasana perikanan, aku iri lo pak…bisanya hanya ke pasar tukar koin dengan ikan.

    Reply
  • 13/10/2020 at 22:25
    Permalink

    Seru banget Pak D…
    Nangkep ikan…
    Ngolah ikan…
    Lalu diproses agar bisa Masukkan ke dalam perut…
    Terimakasih untuk tulisan yg keren….

    Reply
  • 13/10/2020 at 22:14
    Permalink

    Pindang itu istilah untuk ikan lambak yang dibuat ikan asin (iwak masin).
    Beda lagi dengan pindang.
    Sahabat literasi, terima kasih sudah merapat.

    Reply
  • 13/10/2020 at 20:39
    Permalink

    Wah jadi tahu proses membuat ikan asin..
    Terimakasih ilmunya bapa…

    Reply
    • 14/10/2020 at 16:08
      Permalink

      Pegel tapi seru ya pakk..nyiangin ikan sebanyak itu

      Reply
      • 14/10/2020 at 18:32
        Permalink

        Hahaha, dapat upah sepertiga bagian. Tapi pemiliknya kasihan, jadi dapat bagian separuh.

        Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *