Kenangan Lebaran Idul Fitri di Batu Kucing Tahun 1995

Lebaran atau perayaan Hari Raya Idul Fitri di dusun kami disebut bebuko atau babuko. Makna harfiah dari babuko adalah berbuka setelah sebulan penuh berpuasa. Keseruan perayaan lebaran sudah dimulai dua hari sebelumnya. Para ibu sibuk mempersiapkan berbagai makanan “penghias” meja, para bapak membantu menyiapkan bambu untuk membuat lemang. Anda suka lemang? Makanan berbungkus daun pisang terbuat dari ketan dan dicetak dalam bambu adalah sajian yang wajib ada pada hari lebaran.

Sehari sebelum lebaran, para emak menyiapkan adonan lemang. Batang bambu sepanjang dua jengkal dicuci bersih bagian luar dan dalam. Daun kelapa juga begitu, dibersihkan. Daun digulung lalu dimasukan ke dalam bambu. Sementara itu, beras ketan dicuci bersih kemudian dituangkan ke dalam cetakan bambu.  Kelapa yang sudah dikupas, diparut dijadikan santan. Para bapak menyiapkan kayu bakar dan besi panjang. Besi panjang digunakan sebagai sandaran lemang yang hendak dipanggang.

Setelah semua siap, air santan yang diberi garam dituangkan sedikit demi sedikit. Para bapak yang selesai membakar kayu di tungku segera memadamkan api. Batang-batang bambu disusun berjejer rapi di atas bara. kayu diatur sedemikian rupa agar api tidak berkobar terlalu besar. Jika tidak, bambu akan terbakar tetapi lemang tidak matang.

Malam hari kami menonton menonton TV. Menteri Agama berpidato bahwa  1 Syawal jatuh pada esok hari. Sesudah yakin hari lebaran ditetapkan pemerintah, keesokan harinya kami bersembahyang di masjid. Masjid kami terletak di hilir dusun. Selesai khotbah, kami pulang ke rumah. Di sinilah serunya. Setiap rumah yang kami lewati, tuan rumah memanggil mengajak singgah. Wow jika dituruti, sampai bedug zhuhur baru sampai ke rumah.

Masjid di dusun dilihat dari kampung seberang (Dok. Pribadi kiriman teman)

Catatan: Pada saat itu belum ada jembatan gantung.

Baca: Serunya Ekskul di SD Terpencil

 

 

#Day9AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

3 thoughts on “Kenangan Lebaran Idul Fitri di Batu Kucing Tahun 1995

  • 14/10/2020 at 23:22
    Permalink

    Jadi teringat istri saya yg ngidam lemang saat hamil anak kedua…

    Reply
  • 14/10/2020 at 14:03
    Permalink

    Saya jadi kepengen tau asal usul nama desa Batu Kucing Pak. Unik namanya. Saya tunggu ceritanya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *