Tak Ada Rotan Akar pun Jadi

Tenaga Pengajar dan Murid SLTP Terbuka Negeri 1 Rawas Ilir Angkatan I

 

Pada cerita sebelumnya Cikal Bakal Sarjana dari Batu Kucing, SLTP Terbuka Negeri Rawas Ilir TKB Batu Kucing terbentuk. Hal itu tidak lepas dari peran kepala sekolah dan juga kepala SMP Negeri di kota kecamatan, SMPN Bingin Teluk. Bagaimana kisah selanjutnya?

Setelah berkas pendaftaran diterima dan diproses, tibalah saatnya pengumuman. Teryata, semua berkas yang diajukan ke SMP Induk dapat diterima. Dengan demikian, sejarah pendidikan tertoreh dengan dibukanya lembaga pendidikan setingkat lebih tinggi di atas sekolah dasar. Seharusnya proses pembelajaran menggunakan modul dan belajar jarak jauh. Namun sesuai permintaan para orang tua/wali murid, proses pembelajaran berlangsung secara reguler seperti layaknya sekolah lanjutan pertama. Modul digunakan tetapi buku-buku paket juga dipakai.

Pendidik di SMP kami seadanya. Kami, pendidik dari dua sekolah dasar bergotong royong. Secara bergantian sesuai mata pelajaran yang diampu mendampingi mereka dari jam 13.00 – 17.30. Prinsip kami, yang penting bisa melayani hausnya anak akan pengetahuan.

Guru Pamong rencananya sebulan sekali memantau perkembangan pembelajaran. Namun karena mahalnya transportasi, beliau meninjau kami dua kali dalam satu semester. Jangan Anda bayangkan pembelajaran seperti di sekolah negeri di kota. Kami hanya berbekal silabus/GBPP (Garis-garis Besar Program Pengajaran) dari guru pamong. Namun demikian kami berusaha memberikan pelayanan minimal semampunya. Oleh karena itu, bersyukurlah anak-anak Anda mendapat pendidikan terbaik dari lembaga pendidikan yang terbaik. Meskipun berada di desa terpencil, mereka adalah warga negara  Indonesia. Sebagai warganegara berhak mendapatkan pendidikan.

Ibarat pepatah tidak ada rotan akar pun jadi. Lebih baik makan ubi tetapi barangnya ada dari pada makan roti tetapi dalam mimpi. Kami berusaha menjadi akar dan menjadi ubi, tidak terlalu bergizi tetapi mengenyangkan.

 

#Day12AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

 

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Tak Ada Rotan Akar pun Jadi

  • 17/10/2020 at 16:36
    Permalink

    Guru yang sangat mencintai muridnya..2 jempol gak cukup deh

    Reply
  • 17/10/2020 at 16:04
    Permalink

    Ikut mencerdaskan kehidupan bangsa ya Pak, trutama anak-anak Musi Rawas

    Reply
  • 17/10/2020 at 15:55
    Permalink

    Benar pak, saya setuju.
    Anak2 sekarang terutama yang di kota, kurang menghargai kesempatan yang diberikan kepadanya
    Terimakasih selalu memberikan inspirasi dan pengalaman berbeda di setiap hari.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *