Meningkatkan Kompetensi Diri

 

Semenjak menjadi “Guru SLTP” di SLTP Terbuka desa terpencil Batu Kucing aku merasa perlu meningkatkan kompetensi diri. Delapan tahun berbekal ijazah diploma merasa sudah sangat ketinggalan. Lain halnya ketika pertama kali datang tahun 1993 di desa ini. Aku dan rombongan dari Surakarta serta 8 Universitas lainnya di Indonesia adalah guru sekolah dasar dengan ijazah tertinggi, Diploma II FKIP atau Diploma II Jurusan Ilmu Pendidikan jika di IKIP.

Baca juga: 

https://blogsusanto.com/2020/10/12/cikal-bakal-sarjana-dari-batu-kucing/

https://blogsusanto.com/2020/10/12/tak-ada-rotan-akar-pun-jadi/

Berbekal alasan meningkatkan kompetensi diri, akhirnya meminta izin kepada kepala sekolah untuk mendaftar kuliah di sekolah tinggi di Lubuklinggau, Ibukota Kabupaten Musi Rawas. Setelah bertemu dengan Ketua STKIP PGRI Lubuklinggau disarankan untuk kuliah tahun depan. Alasannya kuliah sudah berjalan dan mendekati ujian semester gazal. Namun mempertimbangkan animo guru yang ingin melanjutkan, beliau mempertimbangkan membuka kelas khusus, hari Sabtu dan Minggu dengan kulian padat dari jam 08.00 hingga 18.00 petang.

Pulang dari Lubuklinggau melapor kepada kepala sekolah bahwa mulai tahun kademik 2001/2002 aku harus sudah melanjutkan sekolah jenjang S1 agar makin mantap mengajar di lembaga baru. Selain itu mencoba memotivasi siswa di SLTP Terbuka bahwa meskipun sudah tua, melanjutkan pendidikan bukan hal tabu bahkan hal yang perlu.

Akhirnya pada tahun akdemik yang dijanjikan, kami diterima di sekolah tinggi pencetak guru di kota kecil kami, Lubuklinggau. Mulailah kami harus belajar di Hari Sabtu dan Minggu secara intensif. Mulanya ada dua kelas, Jurusan Pendidikan IPS dan Jurusan Bahasa dan Seni. Setelah setahun berjalan, kawan-kawan dari IPS melebus menjadi program reguler. Tinggallah kami satu kelas khusus Program Pendidikan bahasa dna Sastra Indonesia.

Liku-liku Perjalanan dari Dusun ke Kampus

Untuk bisa mengikuti kuliah Sabtu pagi hingga petang dan Minggu pagi hingga petang, aku harus berangkat dari dusun di hari Jumat. Pagi-pagi buta harus berdiri di rakit untuk minta dijemput dan menumpang ke Rupit, desa pelabuhan tempat aku transit. Perjalanan selanjutnya disambung dengan mobil hampir dua jam lamanya. Turun dari terminal perjalanan dilanjutkan dengan naik angkutan kota menuju rumah kos yang berjarak 1 kilometer dari kampus.

Pagi-pagi sekali di hari Sabtu, kami siap menunggu dosen mengajar. Kampus begitu sepi. Kuliah reguler dimulai jam tiga sore hingga malam hari. Tepat pukul 08.00 kami mulai belajar. Tengah hari istirahat untuk ibadah dan makan siang. Makan ami bawa sendiri. Nasi bungkus dari warung atau nasi kotak hasil masakan sendiri. Meskipun lelaki, aku lebih suka membawa bekal hasil masak sendiri karena di tempat kos alat masak aku sediakan cukup. Kompor minyak, panci, penggorengan, tempat nasi, dan lain-lain. Tempat kos bukan hanya untuk tinggal mingguan melainkan jika  libur, keluargaku akan mengisinya hingga sekolah masuk kembali.

Pada hari Minggu hal yang sama terulang, hingga pukul enam petang kami pulang. Malam Senin selalu menjadi malam yang sibuk. Selain mengulang pelajaran juga mempersiapkan diri untuk kembali pulang. Pulang ke dusun, kembali ke keluarga dan murid-murid tersayang.

Sabar dan Tawakal

Setelah berhasil diterima sebagai mahasiswa kelas khusus program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Lubuklinggau, praktis sebulan empat kali, setahun lebih kurang delapan bulan, aku harus pergi-pulang dari dusun ke kampus menimba ilmu menambah pengetahuan. Setelah mengikuti kuliah dua semester, surat izin belajar pun diajukan. Dengan argumentasi meningkatkan kompetensi dan mengganti kekurangan jam yang ditinggalkan dengan menambah pembelajaran ketika di berada di dusun, akhirnya surat izin belajar pun keluar. Leganya proses belajarku legal. Jika aku lulus ijazahku dipastikan tidak akan bermasalah.

Suka duka mengikuti perkuliahan selama sepuluh semester aku jalani. Bangun pagi-pagi buta, kembali pada petang hari dua hari kemudian. Dukungan istri memberikan energi yang amat besar untuk menjalaninya dengan sabar. Biaya mudik milir sebenarnya tidak sedikit, belum lagi biaya buku, kos-kosan, rental komputer, dan fotokopi. Jika memikirkan biaya, pasti tidak akan berani memulai. Jalani saja sambil berdoa.

Semester pertama, kedua, dan ketiga belum seberapa tugas yang diberikan dosen. Memasuki semester keempat tugas mulai banyak dan ada syarat, harus diketik dengan komputer. Itu artinya, mesin tik yang kupinjam dari orang tua angkat hampir-hampir tidak berguna lagi. Sedangkan ngeprint atau mencetak hasil ketikan dengan printer masih lumayan mahal. Jika minta tolong dengan penjaga rental, mencetak satu lembar harganya 4000 rupiah. Ada juga yang meminta bayaran 3.000 rupiah per lembar. Itu pun harus menunggu giliran.  Bisa sih bayar 2000 rupiah per lembar, tetapi ngetik sendiri. Biaya sewa komputer satu jam sebesar lima sampai enam ribu rupiah. Sayangnya aku belum bisa menggunakan komputer.

Belajar Komputer di Jalan

Ingin kursus komputer, selain mahal, waktu luang hampir tidak ada. Hari Jumat baru datang, hari Senin harus pulang. Paling-paling ada waktu pada Jumat sore atau Sabtu malam. Akhirnya, pada suatu hari memberanikan diri mengetik sendiri. Aku pikir sekedar mengetik pasti tidak jauh berbeda dengan mengetik dengan mesin ketik biasa. Demikianlah, baris demi baris berhasil kukerjakan tanpa hambatan. Giliran harus berganti baris, keringat dingin mulai keluar. Sambil melirik teman di komputer sebelah, otak berputar berpikir. Bagaimana caranya agar ketika salah mengetik tidak sering bertanya dengan penjaga rental. Aha, akhirnya kutemukan akal. Bertanya dengan teman di komputer sebelah.

“Mas…, mas…!” bisikku kepada teman sebelah.

“Iya, Pak!” katanya.

“Ini ketikan kok jadi buyar barisnya tidak karuan?” tanyaku sambil menunjukkan layar monitor.

“Oh, klik Undo saja, Pak atau tombol kombinasi CTRL ditambah tombol Z,” terangnya.

Yes, kataku dalam hati, bertambah ilmu sore ini.

Komputer Pertama

Dosen bahasaku suaminya guru STM. Ia ikut juga mengajar di kampus kami pada jurusan matematika. Selain mengajar, suami istri tersebut membuka usaha penjualan komputer. Dari pada membeli di toko, apa salahnya membeli dengan dosen sendiri. Pertama, memberi rejeki kepada dosen sendiri. Kedua, jika ada apa-apa dengan komputer yang dibeli, aku tidak sungkan untuk berkonsultasi. Akhirnya komputer desktop terbaru saat itu, Pentium 233 dengan Operating System Window 98 berhasil kumiliki. Belum lama memakai, di pasar sudah keluar Komputer Pentium 3. Wah, betapa pesat perkembangan teknologi. Komputer baru seharga hampir 4 juta rupiah itu sekarang menjadi barang usang dibanding dengan komputer keluaran terbaru yang harganya tidak jauh berbeda.

Dengan komputer sendiri, dicetak sendiri, mengerjakan tugas menjadi semakin mudah. Dengan itu pula, pengetahuan dan keterampilan menggunakan komputer juga semakin terasah. Membaca buku dan berani bertanya adalah modal agar pengerjaan tugas kuliah tidak ada hambatan. Dengan keterampilan yang dimiliki,  bahagia rasanya jika ada teman seangkatan yang bertanya dan bertukar pikiran. Walaupun pengetahuan pas-pasan, ternyata mengetik di Ms. Word ada trik-trik yang tidak diajarkan di tempat kursus. Ketika berhasil membagikannya kepada teman, rasanya bahagia sekali.

Akhir Kuliah

Pada semester akhir, kami mendapat cobaan. Orang tuaku di Pulau jawa sakit. Beliau memintau pulang. Sementara atap rumah tempat kami tinggal sedang aku bongkar, tugas skripsi pun harus segera diselesaikan. Karema pikiran agak kacau, tugas skripsi aku tangguhkan. Kami pulang ke Jawa, menjenguk orang tua yang sakit lumayan parah.

Setelah kami pulang dan bertemu dengan cucu hasil pernikahanku dengan teman satu kampus dulu, ayahku seperti sembuh seperti sedia kala, meskipun tidak bisa bangun dari tempat tidur. Setelah dirasa cukup, kami kembali ke Sumatera lagi, skripsi yang tertunda aku lanjutkan. Teman-teman kelas khusus lainnya sudah diwisuda pada periode sebelumnya. Aku dengan dorongan dosen pembimbing yang ramah, segera menyelesaikan agar bisa ikut wisuda pada akhir tahun 2006.

Terima kasih istriku, terima kasih anak-anakku. Hari itu kalian datang menyaksikan ayahmu menyelesaikan pendidikan. Kelak kalian akan menyusul dan gantian kami yang datang menyaksikan.

 

#Day13AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Meningkatkan Kompetensi Diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *