Tujuh Detik Mengalikan Enam Kali Enam

Gambar 1. Perkalian dengan jari (Dok. Pribadi)

 

Masih berkisah tentang pengalaman puluhan tahun lalu. Ketika itu,  perkalian menjadi hal yang paling sulit dikerjakan. Menghafal perkalian satu  hingga lima anak-anak tidak mengalami hambatan. Ketika sampai pada perkalian enam ke atas, banyak anak mengalami kesulitan. Peraga yang disarankan dalam buku maupun peraga dengan benda yang ada sudah dilakukan. Tetapi, ketika akan melakukan operasi hitung, tetap saja “perkalian besar” anak-anak itu belum hafal. Tidak semua anak, hanya beberapa saja yang tampaknya benar-benar kesulitan.

Ada seorang anak yang pada saat itu benar-benar membikin saya geregetan. Pasalnya perkalian enam ke atas sama sekali dia tidak hafal. Sementara, kakaknya adalah rekan guru di sekolah desa yang sudah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya.

Baca: https://blogsusanto.com/2020/10/11/serunya-ekskul-di-sd-terpencil/

Akhirnya saya teringat. Guru SMP pernah mengajarkan perkalian enam ke atas dengan jari tangan kita masing-masing. Mula-mula pak guru menggenggam tangan kiri dan kanan. Lalu ketika membuka jempol ia berkata enam. Setelah itu membuka telunjuk sambil berkata tujuh. Selanjutnya membuka jari tengah dan berkata delapan. Lalu membuka jari manis dan mengatakan sembilan. Ketika semua jari dibuka sang guru pun berteriak,”Sepuluh!” 

 

Tibalah Saat Peragaan Perkalian

Keesokan hari, anak-anak  saya ajak untuk meragakan perkalian dengan jari tangan mereka. Terutama “si anak bermasalah”  tadi. Ia saya minta memerhatikan betul-betul. Pada papan tulis hitam  saya tulis kalimat matematika: 6 x 7. 

Lalu anak-anak diminta meragakan dengan jari sebagai berikut:

Perkalian 6 x 7 (Dok. Pribadi)

“Ragakan tangan kiri bilangan enam dan tangan kanan bilangan tujuh seperti contoh!” saya memberi perintah kepada anak-anak.

Anak-anak pun serentak mengikuti.

“Setiap jari yang terbuka, disebut hidup, nilainya sepuluh. Jadi, berapa nilai semua jari yang hidup?” tanya saya.

Serentak anak-anak menjawab,”Tiga puluh!”

“Bagus,” kata saya memuji.

“Jari yang terlipat kita sebut jari yang mati. Kiri ada empat kanan ada tiga. Kita kalikan. Ayen, berapakah empat kali tiga?” tanya saya lagi.

Anak bernama Ayen pun menjawab,”Dua belas, Pak!”

“Bagus sekali. Lalu, jumlahkan dengan nilai jari yang hidup!” setelah memuji saya pun memberikan perintah.

“Dua belas ditambah tiga puluh, Pak!” jawabnya lagi.

“Hebat kau, Ayen!” kata saya memuji sambil tetap memeragakan jari perkalian enam kali tujuh.

“Nah, berapakah enam dikali tujuh?” tanya saya lagi.

Anak-anak menjawab,”Empat puluh dua!”

Segera saya tuliskan di papan tulis hasil dari enam dikali tujuh.

Ayen inilah anak paling bermasalah dalam perkalian bilangan enam ke atas. Oleh karena itu, pada kesempatan berikutnya ia saya minta untuk memeragakan tujuh dikali tujuh.

Segera ia membuka jari kirinya dua, yaitu ibu jari dan telunjuk. Demikian pula jari kanannya, ibu jari dan telunjuk dibuka.

Perkalian 7 x 7 (Dok. Pribadi)

“Berapa yang hidup?” tanya saya kepada Ayen.

“Empat,” jawab Ayen.

“Apa artinya?” tanya saya lagi.

“Empat puluh,” jawab Ayen.

“Mati kali mati, berapa?” tanya saya menanyakan jari yang terlipat pada tiap-tiap tangan.

Ayen dengan sigap menjawab,”Tiga kali tiga, sama dengan sembilan!”

“Bagus sekali, jadi tujuh kali tujuh hasilnya berapa, Yen?” tanya saya membesarkan hatinya.

“Empat puluh sembilan!” katanya mantap.

Setelah hasil perkalian itu saya tulis di papan tulis, anak-anak diminta untuk bereksperimen. Mereka melakukan perkalian enam ke atas lainnya. Tidak terkecuali Ayen. Setelah beberapa lama, permainan dihentikan karena bel pulang sudah dibunyikan.

Minggu berikutnya, saya mendengar kabar bahwa si Ayen sudah mulai paham. Tanpa menghafal tetapi ia tahu perkalian enam ke atas. Malah kabarnya ia menantang minta diuji perkalian enam hingga sembilan kepada kakaknya.

 

#Day16AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “Tujuh Detik Mengalikan Enam Kali Enam

  • 22/10/2020 at 07:38
    Permalink

    Terima kasih, para komentator yang budiman.
    Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dengan hal yang sederhana.
    Tetapi memiliki kepuasan yang sama manakala hal yang sederhana dapat dipahami oleh mereka yang kita ajari. Terlebih seorang yang memiliki kebutuhan lalu kebuthannya kita penuhi. Salam hormat untuk Anda semua.

    Reply
    • 22/10/2020 at 07:21
      Permalink

      Yeeeyy…ternyata Ayen anak yg penuh semangat

      Reply
  • 22/10/2020 at 04:58
    Permalink

    Pertama kali yang bikin menarik untuk membaca tulisan ini adalah judulnya. Bikin penasaran sama kontennya.
    Pengalaman yang banyak ditemui di sekolah. Kelihatan biasa-biasa saja, tapi sebenarnya punya arti yang sangat luar bagi guru yang mengalami. Ada kepuasaan tersendiri ketika kita berhasil menanamkan konsep yang ‘kata orang’ sederhana pada siswa.
    Terima kasih untuk cerita pengalaman luar biasanya.

    Reply
  • 22/10/2020 at 04:52
    Permalink

    Semakin PD saja si Ayen pada paragraf terakhir…
    Selamat Ayen, hebat Pak D

    Reply
    • 22/10/2020 at 06:42
      Permalink

      Kenangan saya waktu SD kelas 3 ini pak, di ajari perkalian pake jari. Nempel sampe sekarang, Alhamdulillah

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *