Benci dan Dendam

Pisang Ambon (Dok. Pribadi)

Pagi tadi, pada salah satu meja guru terdapat dua buah pisang. Kemarin ada rekan yang membawa sesisir pisang untuk dinikmati bersama. Rupanya pisang tersebut tidak habis. Hari ini bentuk fisik pisang mulai lembek dan berair. Bau asam pun mulai menyengat. Khas bau buah yang mengalami fermentasi.

Melihat itu saya teringat akan sebuah video di twiter. Mumpung belum lupa, segera saya ambil kertas dan gunting lalu membuat label huruf A dan B. Hanya dua huruf karena pisang yang ada hanya dua. Setelah teman-teman berkumpul segera saya katakan kepada mereka.

“Bapak Ibu, ada cerita. Pada suatu waktu, seorang guru meminta kepada para muridnya untuk menuliskan nama orang-orang yang dibencinya. Ada yang berhasil menulis sepuluh, lima, ada pula yang hanya menuliskan tiga nama,” kata saya.

“Keesokan hari, sang guru membawa pisang sebanyak potongan kertas berisi nama-nama orang yang mereka benci. Lalu memasukkan pisang-pisang itu ke dalam plastik dan mengikatnya dengan tali yang cukup panjang,” kata saya selanjutnya.

“Hari ini, kita akan belajar dengan menggantungkan pisang pada leher masing-masing,” kata sang guru.

Para murid pun patuh hingga pelajaran berakhir. Hari kedua, sang guru masih meminta hal yang sama. Kali ini si anak yang  pada lehernya tergantung sepuluh pisang mulai merasakan berat. Namun karena patuh ia pun diam saja. Pada hari ketiga, pisang mulai melembek. Bau pisang yang asam mulai terasa. Sang anak yang lehernya tergantung sepuluh buah pisang dalam kantung mulai gelisah. rasa berat dan bau yang mulai menyengat terasa sangat tidak nyaman. Demikian pula anak-anak yang di lehernya tergantung hanya beberapa pisang, merasakan hal yang sama.

Hari Terakhir

Pada hari keenam, sang guru lalu berkata,” Apakah kalian merasa berat? Apakah pisang yang berisi nama-nama orang yang kalian benci makin hari makin membusuk?”

Para murid pun tertunduk malu.

“Anak-anakku, rasa benci dan dendam yang dibawa setiap hari ternyata sangat membebani. Ia akan membusuk di dalam hati dan akan meracuni. Mulai sekarang, buang rasa benci, hilangkan dendam!” kata sang guru menutup pelajaran.

 

#Day17AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

15 thoughts on “Benci dan Dendam

  • 23/10/2020 at 19:58
    Permalink

    Wah luar biasa sekali pelajaran yg bsa dipetik dan nyata bisa d praktekan contohnya yaaa.. sangat mengena.. Luar biasa Pak Susanto sdh berbagii

    Reply
  • 23/10/2020 at 17:17
    Permalink

    Para rekan dan suhu menulis, terima kasih sudah singgah dan memberikan komentar.

    Reply
  • 23/10/2020 at 14:38
    Permalink

    Pelajaran hidup yang sangat berarti pak Guru. Matur nuwun sanget

    Reply
  • 23/10/2020 at 10:19
    Permalink

    Kisahnya inspiratif pak D.
    Biar gak tambah benci dan dendam..pisangnya dimakan aja..banyak vitaminnya✌

    Reply
  • 23/10/2020 at 08:15
    Permalink

    Jngan pwrnah mmenci orla apalagi sampi dendam…buang jauh2 rasa itu.ga ada untungnya sm skli.. Justru rasa dendam akan mnyakiti kita sndri…

    Reply
  • 23/10/2020 at 01:47
    Permalink

    Buang saja benci dan dendam, agar tidak memberati hati dan tidak menimbulkan bau

    Reply
  • 23/10/2020 at 00:15
    Permalink

    Mantap Pak D..karena Benci dan Dendam menggelayuti hati.membuat pintu berkah dan Pintu Ide tertutup..
    Hatur Nuhun Pak D

    Reply
  • 22/10/2020 at 23:04
    Permalink

    Benar sekali Mas..jangan biarkan benci dan dendam ada dalam diri kita

    Reply
  • 22/10/2020 at 22:57
    Permalink

    Inspiratif sekali kisahnya dan sebuah pisang bisa menjadi pembelajaran yg sangat berharga.

    Reply
  • 22/10/2020 at 22:26
    Permalink

    Ceritanya bagus bngt jadi bahan untuk refleksi diri … sederhana tapi mengena

    Reply
  • 22/10/2020 at 22:19
    Permalink

    Nama Bunda kanjeng TIDAK MUNGKIN saya tulis di pisang, hahahaha

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *