Persahabatan Bagai Kepompong

  • Mengantre di depan pintu masuk ruang rawat jalan RSMH Palembang (Dok. Pribadi)

Telepon Minggu Pagi

Minggu pagi saya malas bangun. Menyelesaikan resume bincang edukasi ternyata selesai lewat tengah malam.

Pukul enam, tiba-tiba telepon berdering. Suara telepon dengan nada dering telepon jadul itu kontan membangunkan saya.

“Halo!” sapa si penelepon. Suara yang tidak asing di telinga. Dia adalah sahabat saya.

“Halo juga. Tumben pagi-pagi ngebel.Biasanya belum bangun?” tanya saya sambil bergurau.

“Ke Palembang, yuk! Jumat kemarin periksa ke RS Siti Aisyah. Hasil USG katanya ada sesuatu di ginjal kanan dan kiri. Supir yang biasa kuajak sakit,” terang suara di seberang sana.

Sejenak saya berpikir. Begitu mendadak. Terbayang mobil Ford Everest Diesel miliknya. Saya belum pernah membawanya. Tetapi demi sahabat, setelah memberitahu istri, saya iyakan ajakannya.

“Asal berangkat jam sepuluhan aku siap, Mas!”

Dengan malas saya turun dari tempat tidur. Setelah mandi dan mempersiapkan segala sesuatu segera berangkat ke tempat kawan tadi sambil bermotor. Pada jam yang ditentukan, kami pun berangkat. Awal mula ia yang menyetir. Setelah berhenti di toserba untuk membeli masker, setir mobil diserahkan kepada saya.

Lambat-lambat mobil mulai melaju. Aha, enak juga bawa mobil bagus meskipun bodinya cukup besar. Jauh lebih nyaman dibanding gerobak tua yang nongkrong di rumah.

Waktu sudah pukul 11.00. Agak mundur dari waktu yang direncanakan. Membujuk anak teman saya yang nomor 4 lumayan alot. Ia bersikeras ingin ikut ayahnya.  Setelah diiming-imingi pergi melihat burung dan beli jajanan, akhirnya luluh.

 

Perjalanan ke Palembang

Perjalanan berlanjut. Desa demi desa kami lewati. Perkampungan dan perkebunan kami lalui. Tepi rawa dan sungai Musi kami susuri. Hujan deras yang tidak kunjung berhenti, kami terjang tanpa berhenti.

Pukul 8 malam kami memasuki kota Palembang. Tepat pukul 9 malam mobil parkir ke penginapan, Kos Al Sutari.

Kos Al Sutari adalah penginapan milik kolega teman saya itu. Konsepnya adalah penginapan berbentuk rumah kos. Para tamu bisa menginap untuk jangka waktu harian, mingguan, atau bulanan.

Bangunan elegan bertingkat itu membentuk huruf U. Bagian tengah huruf “U” sebagai tempat parkir.

Kos Al Sutari memiliki 24 kamar, cukup nyaman. Kami beristirahat di kamar nomor 01.

Malam itu kami tidur nyenyak sekali. Setelah Subuh, kami menuju rumah sakit. Wow, antrian sudah mengular padahal waktu menunjukkan pukul 5 pagi sedangkan pintu pendaftaran baru dibuka pukul 6 pagi.

Di Rumah Sakit

Agar tidak kehilangan barisan bergantian kami mengantre. Sebenarnya, jika tahu, tidak perlu mengantre. RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang melayani pendaftaran online.

Pukul 6 pagi pintu pendaftaran dibuka Satpam. Dengan tertib kami pun masuk ke ruangan. Di dalam ruangan, untuk mengambil nomor antrean kami masih harus berdiri. Satu demi satu calon pasien dipanggil. Setelah bergantian dengan pengunjung lainnya, akhirnya kami memperoleh nomor urut pendaftaran 128. Estimasi pelayanan pukul 7.30 – 8.00.

Dengan sabar kami menunggu. Pukul 10.30 teman saya dipanggil menuju loket. Tidak berapa lama, berkas dari loket sembilan kami bawa ke poli bedah urologi. Selesai? Belum. Di sana masih mengantre untuk dipanggil dan mendapat pelayanan. Capek, bosan, dan sedikit khawatir. Maklum masih musim Covid-19. Semoga segera dipanggil ke ruangan dan mendapat pelayanan.

Makna Sahabat

Sambil menunggu, saya buka pesan dari Omjay di grup AISEI Writing Online 2.

Persahabatan Tidak Menghitung Untung Rugi.
Persahabatan berlandaskan Hati Yg MURNI & TULUS.
Persahabatan Tidak LEKANG Dimakan Zaman.
Pada Waktu Sebagian Besar Orang cuma memperhatikan KESUKSESAN kita, tapi ada Sebagian Kecil Orang yg peduli akan kondisi KESEHATAN kita, maka itulah PERSAHABATAN.

Anda punya sahabat?

 

Palembang, 26 Oktober 2020

 

#Day19AISEIWritingChallenge

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *