Amplop Kondangan

                                       amplop (Dok. Pribadi)

Saya harus menulis apa hari ini? Ibarat bicara, lidah saya terasa kaku. Tidak ada ide yang dapat saya bagi dan tuliskan di blog. Tetapi jika tidak menulis, hari ini blog saya kosong. Untunglah hari ini seorang teman sekaligus tetangga sedang hajatan. Ada bahan untuk bisa diceritakan.

Teman saya itu ngunduh mantu anaknya yang dinikahkan bulan belakang. Sebagai tetangga, dua malam sebelumnya saya diundang menghadiri pembentukan panitia sekaligus selamatan. Pada hari Minggu, hari “H” saya mendapat tugas menjadi pemandu acara, MC. Sebelum naik ke panggung, dari rumah saya selalu menyiapkan selembar kertas HVS, selain sebatang ballpoin untuk coret-coretan. Maklum MC kampung amatiran.

Biasanya kertas itu berguna untuk mencatat nama-nama anggota keluarga atau undangan yang ingin menyumbangkan suara. Tetapi hari itu tidak ada hiburan musik seperti organ tunggal. Hiburan yang ada adalah grup shalawatan. Alat musik pun hanya berupa rebana/banjari, bass/bedug kecil, tam/tung, dan marawis. Tidak banyak yang pandai melantunkan lagu-lagu shalawat. Setelah makan siang saya berpamitan pulang. Sebelum pamitan seperti biasa amplop sumbangan saya masukkan ke kotak yang tersedia di pintu gerbang.

“Ayah, amplop untuk siapa lagi ini? Perasaan undangan cuman satu!” ibunya anak-anak berteriak. Ia selalau memeriksa isi kantong celana sebelum dicuci.

Deg! Terus yang dimasukkan ke dalam kotak tadi apa? Saya membatin.

“Oalah, Bu. Keliruuuuuu..!”

Segera ambil langkah seribu. Kembali ke tarub dan memasukkan amplop berisi uang untuk membantu teman yang sedang hajatan.

#Day26AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

 

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

2 thoughts on “Amplop Kondangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *