Naik Tangga

Tangga Lipat (Dok. Pribadi)

Semenjak mulai banyak hajatan, nasi berkat kenduri semakin banyak. Sayang jika dibuang. Istri dan anak bungsu bahu membahu membuat kerak nasi buatan. Ceritanya ada di sini: https://blogsusanto.com/2020/10/17/bukan-rengginang/.

Kerak buatan yang masih basah, oleh anak bungsu dijemur di atas atap. Agar sampai ke bagian atap teras rumah ia menggunakan tangga. Tidak sampai habis. Sampai anak tangga ketiga tangannya sudah sampai dan nyiru  berhasil ia letakkan di atap seng dengan baik. Ketia ia mau turun, saya perintahkan untuk berhenti.

“Stop! Coba naik lagi satu tangga!” kata saya. Ia pun naik satu tangga.

“Coba berdiri dengan dua kaki!” saya perintah lagi. Ia pun melakukannya.

“Sekarang kamu turun, Mas!” perintah saya. Sekarang kakinya sudah berdiri di atas tanah yang berumput.

“Dapatkah Mamas melihat kerak nasi yang ada di atas?” saya bertanya.

“Ya tidak, lah!” jawabnya.

“Coba naik satu anak tangga, lihat sekeliling! Bandingkan dengan waktu Mamas berdiri di tanah. Lebih banyak mana areal yang dilihat?” tanya saya. Ia diam saja tetapi melakukan apa yang saya suruh.

“Kembali naik ke bagian paling atas! Sebutkan apa saja yang Mamas lihat!” suruh saya lagi.

“Banyak!” jawabnya pendek.

“Nah, semakin tinggi kita naik. Semakin banyak sekitar kita yang dilihat. Ya sudah, lipat dan letakkan di tempat semula. Nanti tangganya diambil lagi jika hari mulai meredup,” kata saya kepada bungsu yang baru duduk di kelas delapan.

Itulah kehidupan. Hidup ternyata pertumbuhan pribadi. Ibarat naik tangga. Naik level, dari level satu ke level berikutnya. Cara pandang pada setiap mestinya berbeda. Ketika di level terendah, pandangan saya sempit. Saya tidak bisa melihat benda yang terhalang benda yang lebih besar. Apalagi benda yang berada di bagian atas. Ketika berada di level terendah, saya bingung menghadapi masalah. Ketika berada di level yang lebih tinggi, sekarang saya bisa melihat ternyata ada jalan keluar di sebelah sana.

Jadi, hidup itu bertumbuh. Dulu padangan saya sempit. Berpikiran negatif terhadap sesuatu hal. Boleh jadi karena saya belum bertumbuh naik ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi. Ternyata benar. Dulu, cara saya berpikir sempit, sekarang semakin luas. Dulu saya sering buntu tidak ada ide, berkat sedikit demi sedikit bertumbuh, sekarang saya jauh lebih kreatif. Ada perubahan yang positif yang saya rasakan.

Saya mencoba meluaskan wawasan. Belajar dengan orang berilmu. Mau membaca tulisannya. Mau menonton videonya. Saya mencoba meluaskan pergaulan agar diri semakin sadar. Di atas langit masih ada langit. Meluaskan wawasan dan pergaulan bagi saya merupakan proses bertumbuh. Anda, bagaimana?

 

#Day27AISEIWritingChallenge

#100katabercerita
#30hariAISEIbercerita
#AISEIWritingChallenge
#warisanAISEI
#pendidikbercerita

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

8 thoughts on “Naik Tangga

  • 02/11/2020 at 17:11
    Permalink

    tetap saja mantul pak Susanto. Hebat banget mengemas hulisannya terjejer rapi terbentuk paragraf inspirasi

    Reply
  • 01/11/2020 at 21:48
    Permalink

    Memotivasi sekali.. Terimakasih pak. Saya pengen naik tangga jg

    Reply
  • 01/11/2020 at 19:30
    Permalink

    Di atas langit ada langit, benar sekali Bapak

    Reply
  • 01/11/2020 at 18:29
    Permalink

    Keren pak, sy kira td endingnya anknya jatuh ternyta..

    Reply
  • 01/11/2020 at 15:33
    Permalink

    Pak D sang motivator.
    Terimakasih Pak D
    Naik level, good

    Reply
  • 01/11/2020 at 15:13
    Permalink

    Keren sekali penutupnya. Makin kagum dengan cerita bapak. Semangat!!!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *