Write Begins at Fifty


Hasil Belajar Menulis (Dok. Pribadi)

Pernahkah Anda mendengar ungkapan write begins at fifty? Bagaimana dengan ungkapan life begins at fourty? Untuk ini pasti Anda mengenalnya. Ungkapan terkenal itu bermakna, proses pendewasaan dalam kehidupan seseorang baru akan dimulai pada saat kita berusia 40 tahun.

Apa hubungannya dengan ungkapan pada judul tulisan ini? Ungkapan life begins at fifty  saya artikan sebagai proses menulis yang sebenarnya dimulai pada usia lima puluh. Apakah berlaku untuk semua orang? Tidak. Itu adalah ungkapan saya. Yang menggambarkan bagaimana saya belajar. Juga memulai kegiatan menulis pada usia sekitar lima puluh tahun.

Judul tulisan ini mirip dengan judul sebuah buku. Buku itu karangan Jeanette Martin berjudul Write Your Book at Fifty, A Call to Woman Discover Your Voice, open new doors, create your legacy. Menurut seorang pengulas buku tersebut, tidak ada kata terlambat untuk melakukan suatu hal. Jika Anda berusia lima puluh tahun dan ingin bermain untuk NBA, kemungkinan itu sangat kecil. Tetapi, menulis buku berbeda. Tidak ada kata terlambat dalam menulis.

Hal itulah yang saya alami. Saya tidak mungkin menjadi pemain sepak bola yang baik. Atau menjadi seorang petinju. Selain karena bakat, perlu latihan sejak usia muda. Sebenarnya menulis juga demikian. Karena banyaknya alasan, saya tidak melakukannya. Menulis sedari muda.

Menulis Ketika Sekolah Menengah

Saya tidak menyukai pelajaran mengarang. Sering saya bingung. Harus memulai dari mana? Pernah suatu waktu, ibu guru memberi tugas mengarang.

“Anak-anak, besok kita libur. Ceritakan pengalamanmu pada waktu liburan. Saat masuk sekolah nanti, tugas dikumpulkan!” perintah bu guru.

Kata pertama yang saya tulis adalah pada suatu hari. Kata hubung yang saya gunakan adalah lalu, kemudian, setelah itu, dan. Berulang-ulang. Baru jadi satu paragraf, tulisan saya baca kembali. Saya resapi. Ternyata malu sendiri. Kertas buku bagian tengah berubah bentuk menjadi ”bola”. Saya remas. Kemudian ia terbang melayang saya lemparkan. Begitu seterusnya. Kertas buku berubah menjadi bola. Karangan tidak jadi juga.

Tibalah masa remaja. Saya mulai mengenal bunga-bunga asmara. Getar hati kepada pujaan hati tidak mampu saya ungkapkan dengan lisan. Satu-satunya jalan adalah meminjam buku catatan. Sebelum saya kembalikan, saya menyelipkan tulisan pada kertas berwarna biru muda dengan ornamen berupa bunga. Tulisan itu tidak saya masukkan ke dalam amplop. yang terpenting terselip di buku yang saya pinjam. Saat itu, ternyata saya bisa menulis. Tanpa diperintah guru.

Menulis di Daerah Terpencil

Setelah tamat diploma dua pendidikan guru sekolah dasar, saya berangkat menjadi guru ke daerah pedalaman pulau Andalas. Desa terpencil di Sumatera Selatan. Selama 12 tahun di sana, hanya satu tulisan yang pernah saya coba kirimkan ke koran lokal, Sumatera Ekspres. Sayangnya guntingan klipingnya untuk disertakan pada tulisan ini, saya cari tidak ada lagi.

Tinggal di daerah terpencil, saya berpotensi ketinggalan berita dan ilmu pengetahuan. Meskipun ada televisi, ia menyala hanya pada malam hari. Lumayanlah, siaran Dunia dalam Berita di TVRI sesekali masih bisa diikuti di rumah tetangga. Radio transistor milik kepala sekolah menjadi teman setia. Gelombang AM RRI Jambi dan Pro 3 RRI Jakarta masih bisa ditangkap. Gelombang SW Radio Australia, BBC, dan Deutche Welle masih bisa dididengarkan dengan cukup bagus. Dengan demikian, berita ekonomi, budaya, dan politik masih bisa diikuti. Bahkan siaran wayang kulit pada malam Minggu sesekali menemani malam panjang saya.

Menyalin dan Menempel Koran

Untuk menambah pengetahuan, saya menitip pesan kepada kepala sekolah jika ke kota. Saya meminta tolong kepada beliau untuk membelikan koran. Setelah sampai ke dusun, saya mengutip aneka opini. Kemudian, saya tulis di buku kuarto tebal. Artikel dan berita di koran saya gunting dan tempelkan. Semua itu saya jadikan bacaan. Membunuh sepi.

Catatan Opini dari Harian Kompas 16 November 1993 (Dok. Pribadi)

Kliping Majalah Matra Bulan November 1995 (Dok. Pribadi)

Menulis di Perguruan Tinggi

Tahun 2001 saya berkesempatan mengikuti kuliah program S1. Saya kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Lubuklinggau. Mulai saat itu, kegiatan menulis menjadi suatu keharusan. Terutama membuat makalah. Mau tidak mau, saya harus belajar menulis. Saya juga belajar mengetik di komputer. Pada tahun 2006, atas izin Allah SWT, saya menyelesaikan kuliah. Pada tahun itu juga saya berhasil mutasi. Saya pindah tugas ke daerah yang tidak terpencil lagi, meskipun masih di pelosok. Saya tersenyum sendiri. Keluar dari SD terpencil, masuk ke SD pelosok.

Berkat kuliah dan memiliki komputer Pentium 233 saya ditugaskan mengikuti berbagai kegiatan di ibukota provinsi. Kegiatan pertama semenjak pindah ke daerah yang baru adalah Pemanfaatan Media Teknologi Informasi dalam Pembelajaran. Pada waktu itu belum banyak guru yang memiliki keterampilan mengoperasikan komputer. Selesai mengikuti kegiatan saya membuat laporan tertulis dengan sistematika seperti panduan kegiatan.

Pada tahun 2007, Balai Tek-kom Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan memanggil peserta untuk mengikuti kegiatan workshop. Temanya tentang pemanfaatan media pembelajaran. Saya tidak ikut kegiatan itu. Hingga akhirnya saya mendengar kabar bahwa rangkaian kegiatan workshop tersebut adalah lomba mengaplikasikan media dalam pembelajaran. Teman yang mengikuti kegiatan workshop ternyata tidak sanggup mengikuti lombanya. Dia beralasan belum bisa mengoperasikan komputer. Akhirnya staf Dinas Pendidikan mencari pengganti dan kepala sekolah meminta saya untuk bersedia mengikutinya.

Belajar Nge-Blog

Sejak saat itu, satu demi satu kegiatan pelatihan di tingkat provinsi saya ikuti. Hingga pada tahun 2009 saya membaca tentang blog dan guru seyogyanya mulai nge-blog. Guyon dan dijadikan jargon pada saat itu adalah Guru harus Go Blog. Oleh karena itu, secara otodidak, saya membuat blog di blogspot. Bulan Juli tahun 2009, tulisan perdana saya pubish. Postingan pertama di blog tersebut berjudul Guru SD dan Komputer. Hingga hari ini, postingan itu masih utuh. Sampai dengan 16 September 2020, tidak ada satu pun komentar pada laman itu.

Usia blog saya sudah cukup lama, ya? Tulisan yang ada juga tidak murni tulisan saya. Ada yang menyalin di sana-sini. Tetapi saya berusaha mencantumkan sumber tulisan. Tidak setiap bulan saya memostingan tulisan. Akan tetapi, hampir setiap tahun blog saya pasti berisi. Hanya pada tahun 2016 dan 2018 sama sekali tidak membuka blog apalagi mengisinya.

Mengisi Blog

Barulah pada tahun 2019 saya berhasil memublikasikan 10 buah postingan. Pada tahun ini, sampai dengan bulan Oktober 2020 saya berhasil menerbitkan 119 tulisan. Pada bulan Mei (7 tulisan), Juni (2 tulisan), Juli (2 tulisan), Agustus (38 tulisan), September (37 tulisan), dan Oktober (33 tulisan). Ada lonjakan jumlah tulisan pada bulan Agustus 2020. Pada bulan itu saya mengikuti kelas menulis dalam Grup WA Bersama Omjay. Saya tercatat sebagai anggota Gelombang 15.

Kuliah WhatsApp perdana pada tanggal 3 Agustus 2020 pukul 19.00 WIB. Narasumber pada kuliah perdana ini adalah seorang ibu, beliau bernama Sri Sugiastuti. Sering disapa dengan panggilan Ibu Kanjeng. Beliau  bercerita bahwa memulai menulis pada usia lima puluhan. Memenuhi tugas kuliah adalah alasan utama.

Saat ini, sebentar lagi saya pun berusia lima puluh tahun. Mengapa saya tidak mengikuti jejaknya? Akhirnya, saya mulai menulis. Materi pelajaran menulis saya susun lagi menjadi resume. Tulisan itu, saya publikasikan ke blog pribadi secara rutin. Hampir dua hari sekali resume tulisan diterbitkan di blog saya, susantogombong.blogspot.com. Sekarang, semua konten di blog tersebut saya impor ke blog saya yang sekarang ini.

Saya memiliki kebiasaan baru. Mengikuti pelajaran dan menuliskannya ke dalam resume. Beberapa resume di antaranya bahkan mendapat apresiasi dari sang narasumber. Saya diberi hadiah satu buah buku. Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd memberikan reward berupa buku kumpulan cerpen berjudul Lelaki di Ladang Tebu. Selain itu, Ibu Iin (Dra. Musiin, M.Pd.) memberikan buku hasil karyanya bersama Prof. Eko Indrajit berjudul Literasi Digital Nusantara. Penerbit Andi juga memberikan buku Ayo Belajar Informatika untuk kelas 4 SD.  

Belajar Menerbitkan Buku

Pada bulan Oktober 2020 kumpulan resume belajar menulis tersebut saya bukukan dan terbit menjadi buku ber-ISBN. Puji syukur, alhamdulillaah. Pada usia menjelang setengah abad saya berhasil menerbitkan buku solo pertama. Buku Antologi Ukir Prestasi dan Tebar Inspirasi (Antologi Kisah Guru Lejitkan Potensi Siswa) menjadi buku kedua yang diterbitkan.

Rasa percaya diri semakin menebal. Saya pun ikut menulis pada buku Senandung Guru (Antologi Bakti Guru untuk Negeri) bersama Bu Rita Wati dan bu Kanjeng. Kabar terakhir, sudah dalam proses cetak di pernerbit. Ini adalah buku ketiga. Rasa malu dan rendah diri makin tertepis. Ketika ada ajakan menulis antologi tentang semangat menulis, tidak disia-siakan. Bagi saya, tidak ada kata terlambat untuk memulai menulis.

#Day2NovAISEIWritingChallenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

14 thoughts on “Write Begins at Fifty

  • 11/11/2020 at 09:35
    Permalink

    Setuju Bapak, tidak ada kata terlambat, apalagi saya yang timbul tenggelam mengikuti kegiatan belajar menulis karena harus mengurus mertua yang sakit. Terima kasih tulisan yang menginspirasi.

    Reply
    • 07/11/2020 at 07:16
      Permalink

      Ha ha ha, Bu Wulan! Di sana membayangkan Bu Ndari.

      Reply
  • 06/11/2020 at 15:42
    Permalink

    Masya Allah Pakde, ceritanya benar2 membawa saya terbang ke Palembang, desanya terpencil tapi tidak di pelosok ……. Bikin senyum sendiri hehehe. ……

    Reply
  • 06/11/2020 at 09:58
    Permalink

    Pak D
    Terimakasih Banyak….

    Reply
  • 06/11/2020 at 01:43
    Permalink

    luar biasa pak capaian yg keren.. Gelombang 15 sdh berhasil mnjdi buku solo..

    Reply
    • 06/11/2020 at 19:37
      Permalink

      Top banget pak. Jadi pengen baca tulisan di blog yg udah 11 tahun itu

      Reply
  • 05/11/2020 at 22:44
    Permalink

    Mantap naskahnya pak.. Semangat terus ya

    Reply
    • 06/11/2020 at 11:21
      Permalink

      Setuju Bapak, tidak ada usia terrlambat untuk nenulis

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *