Mendengar Aktif Membantu Peserta Didik Mengatasi Masalah

Gambar: freeimages

Peserta didik Anda pernah mengalami masalah? Dijahili temannya, uang jajannya diminta paksa, atau dipaksa membayar jajan di kantin? Buku/alat tulisnya dirusak teman, uang tabungan dicuri, dan sebagainya? Berkelahi, merajuk, atau mengalami pelecehan seksual? Jika tidak, Anda sebagai pendidik sangat beruntung. Namun jika pernah mengalami beberapa hal di atas, saya ingin bercerita tentang hal itu. Barangkali bermanfaat. Atau jika yang saya lakukan keliru, Anda dapat membetulkannya pada kolom komentar.

Beberapa masalah yang pernah saya temui dan saya coba atasi di antaranya siswa  dipajak atau dipalak. Seorang anak, selalu “memajak” istilah kampung untuk memalak teman-temannya secara bergiliran untuk membayar jajan makanannya di kantin. Tidak banyak hanya dua atau tiga ribu.

Masalah lainnya adalah siswa perempuan melapor bahwa si Kumbang (sebut saja begitu) melakukan pelecehan. Bagian tubuh terlarangnya acapkali disentuh sambil berlari, bahkan diremasnya. Si Kumbang tidak pernah mengaku. Dengan wajah meyakinkan bahkan mengatakan jika tuduhan siswa perempuan tadi hanya fitnah.

Peristiwa lainnya adalah, seringnya uang tabungan siswa yang hilang. Sepuluh atau dua puluh ribu. Pada masa itu, tabungan siswa kepada sebuah koperasi besar melalui sekolah kami sedang digalakkan. Hampir setiap hari, secara bergantian uang tabungan itu lenyap. Alih-alih menambah tabungan siswa di Koperasi, uang titipan orang tuanya hilang.

Kejadian terakhir pada tahun pelajaran ini adalah sesorang anak, sebut saja Bunga, merajuk. Ia tidak mau keluar dari kamar.  Tidak mau mandi, tidak mau belajar daring sendiri apalagi belajar bersama kelompoknya. Kakek dan neneknya, sebagai wali, bahkan hampir emosi menghadapi sikap bunga tersebut.

Membantu Mengatasi Masalah dengan Mendengar Aktif

Di sekolah dasar tidak ada guru bimbingan konseling. Guru kelas atau kepala sekolah adalah konselor di sekolahnya. Permasalahan yang terdeteksi seperti di atas, menjadi bahan konseling bagi guru/kepala sekolah. Oleh karena itu, sebagai konselor guru kelas/kepala sekolah perlu memiliki keterampilan untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Keterampilan itu di antaranya adalah mendengar empatik atau mendengar aktif.

Pada kasus Bunga di atas. Sebagai guru kelas, saya menanyakan kepada wali (kakek dan neneknya).

“Ada apa Bunga tidak belajar hari ini, Bu?” tanya saya ketika saya sudah sampai ke rumah Bunga.

“Tidak tahu, Pak! Sudah capek saya bertanya tapi dianya diam saja. Disuruh mandi tidak mau. Di suruh keluar kamar tidak mau!” alasan sang kakek.

Neneknya pun menimpali,” Mbah Kakung hampir emosi, Pak!”

“Boleh saya bertemu, Bu?” saya pun meminta izin.

“Silakan, mari! Barangkali kalau Pak Gurunya yang nanya mau menjawab,” kata si nenek.

Saya pun masuk ke ruang tengah. Ruang itu terletak di bagian belakang ruang yang dijadikan warung/toko manisan keluarga itu. Si Bunga adalah cucu mereka. Ayahnya tinggal tidak jauh dari rumahnya. Karena kedua orang tuanya bercerai, ia lebih menyukai tinggal di rumah neneknya.

“Bunga, ini Pak Guru. Mau ketemu!” kata si nenek sambil mengetuk pintu kamar.

Tidak berapa lama, kamar pun terbuka. Bunga dengan wajah sembab keluar kamar. Saya perhatikan wajahnya yang kusut. Habis menangis dan sepertinya memendam sesuatu.

“Boleh saya bicara berdua dengan Bunga, Bu?” saya minta izin kepada neneknya agar diperbolehkan berbicara empat mata. Sang Nenek pun mengiyakan dan meninggalkan kami berdua.

Saya mengubah posisi tempat duduk. Tadinya berhadapan, sekarang dalam posisi saya berada di samping kanannya.

Posisi duduk Bunga dan Saya

Posisi tempat duduk seperti ini saya ambil agar tidak seperti terlapor sedang proses verbal oleh polisi. Suasana pun menjadi tidak tegang. Bunga tidak langsung menatap wajah saya. Sebaliknya saya leluasa memandang dan melihat perubahan air muka Bunga.

Membangun Rasa Percaya

“Mengapa Bunga tidak belajar?” saya mencoba bertanya, meskipun saya tahu ia tidak akan menjawabnya.

Benar dugaan saya, Bunga tidak menjawab selain kalimat “tidak apa-apa”. Anak bermasalah tidak akan begitu saja rela membeberkan alasan. Apalagi jika orang itu belum ia percaya. Oleh karena itu, saya membangun rasa percaya pada diri Bunga bahwa saya bukan “guru”-nya pada saat ini. Saya adalah sahabatnya. Dengan demikian, saya berharap ia mau terbuka.

“Bunga, kamu tidak perlu takut. Saya tidak marah. Bunga hari ini tidak belajar. Mungkin capek. O ya, apakah pelajaran dan tugas-tugas dari Pak Guru sangat banyak jadi membikin Bunga jadi capek?” tanya saya.

Ia pun menggelengkan kepala, masih menundukkan kepala. Berarti bukan capek yang menjadi alasan ia tidak belajar.

“Alhamdulillaah. Tugas saya tidak memberatkan ya, Bunga?” tanya saya dan dijawabnya dengan anggukan kepala.

“Hei, Bunga belum mandi ya!” sambil tertawa saya seolah-olah kaget. Ia pun tersenyum dan menjawab.

“Iya, Pak.”

“Pak Guru menangkap ada rasa kesal dalam hati kamu, Bunga. Mudah-mudahan perasaan saya tidak salah. Ada WA dari teman yang bikin kesal. Bagaimana?” tanya saya seolah-olah saya tahu penyebab “kengambekannya”.

“Bukan teman, Pak!” jawab Bunga seolah memprotes.

Membuka Diri Setelah Ada Rasa Percaya

Yes! Hati saya pun kegirangan karena ia mulai mau membuka diri.

“Kalau bukan teman, mungkin Bapakmu?” tanya saya. Saya tahu bapaknya tidak tinggal satu rumah dengannya. Untuk ini pun ia menggeleng.

“Hmm, mungkin mbah satunya? Mungkin WA mbah sana bikin Bunga kesal? Begini saja. Pak guru kan janji, kali ini saya jadi sahabat Bunga buat menumpahkan semua perasaan. Gak usah takut. Yakin saja, Pak guru tidak akan bercerita dengan mbah di depan,” kata saya sambil berbisik.

Singkat cerita, Bunga pun menunjukkan WA di HP nya. Di sana ada pesan dari nenek pihak ibunya. Pesannya wajar saja, sebenarnya. Namun ia merasakan sebagai “intervensi” kehidupannya.

Bunga, mengapa tugas dari guru tidak dikirimkan? Nanti tidak mendapat nilai! Kamu kan cuman disuruh belajar, bukan kerja yang lain. Rajinlah, jangan malas begitu.” Kira-kira seperti itulah isi WA neneknya. Pesan yang wajar tetapi mungkin tidak pada waktu yang tepat.

Pesan singkat seperti itu telah membuatnya kesal. Ia marah dan ingin protes tetapi tidak berani menjawab melalui WA. Bercerita kepada nenek yang diikutinya juga tidak berani.

“Aku belum ngirim tugas karena paket habis, Pak. Maaf,” begitu alasannya.

“Ya sudah, nggak apa-apa. Sudah lama ya habisnya? Sekarang paketnya sudah ada? Boleh saya lihat?” ia pun menyodorkan HP dan bersama-sama kami memeriksa sisa paket datanya.

“Sudah lega, sekarang? Nanti cerita ke nenek kalau masalahnya sudah selesai. Senyum, dong! Nah, begitu. Sana mandi, busuk, tahu!” kata saya dengan nada penuh keakraban. Saya merasa masalah sudah selesai. Bunga pun beranjak dari tempat duduk. Pergi mandi. Saya kembali menemui nenek dan kakeknya.

“Sudah, Bu. Sudah beres, Pak. Si Bunga sudah pergi mandi. Tidak ada masalah apa-apa kok. Nanti dia akan cerita. Kalau tidak cerita juga, tidak usah ditanya “Mengapa”.  Beritahu saya besok kalau masih merajuk,” kata saya sebelum berpamitan.

 

Komunikasi Efektif Melibatkan Aktivitas Mendengar Aktif

Keesokan harinya, sambil berangkat kerja saya singgah sebentar ke rumah neneknya Bunga. Mereka bersyukur. Bunga sudah ceria kembali. Hari ini ia sudah ke rumah temannya untuk belajar daring. Paket data di HP nya sudah diisi secukupnya, katanya. Tidak lupa mereka mengucapkan terima kasih.

Dari kisah Bunga (bukan nama sebenarnya) di atas, pendidik perlu menghindari kalimat tanya sebab. Mengapa kamu, kenapa kamu, dan yang senada. Pendidik bukan interogator. Dengan demikian, pertanyaan yang diucapkan guru bukan untuk menginterogasi. Kalimat tanya sebagai pembuka agar tercipta suasana yang rileks, tidak kaku. Hal ini perlu untuk menumbuhkan rasa percaya atau trust dalam diri siswa.

Ketika terjadi komunikasi dengan anak bermasalah maka bahasa tubuh, anggukan, bergumam, dan aneka respon adalah usaha meyakinkan bahwa kata-katanya diperhatikan. Pengungkapan kembali jawaban atau respon peserta didik (sering dinamakan teknik parafrase) dimaksudkan untuk
mengonfirmasi apa yang kita dengar dan menghindari salah persepsi.

Pendidik, saya dan Anda, perlu belajar berkomunikasi dengan mendengar empatik. Yaitu berkomunikasi dengan menghubungkan orang lain dengan hati Anda. Mendengar empatik adalah tingkatan mendengarkan paling tinggi dalam berkomunikasi.¹ Mendengarkan empatik adalah tentang menempatkan diri pendidik pada posisi peserta didik. Melihat dunia dari sudut pandang mereka.

Mendengar empatik dan mendengar aktif bukan tanpa hambatan. Ada hambatan-hambatan yang dapat mengganggu proses mendengar aktif tersebut. Hambatan fisik seperti gangguan kesehatan, lingkungan sekitar, noise, tata letak ruang, temperatur, pencahayaan dapat diatasi dengan memanipulasi objek fisik tersebut agar mendukung proses komunikasi. Sedangkan hambatan mental seperti kecepatan berpikir,
keterbatasan wawasan dan pengetahuan, prasangka, dan ketidaksabaran diatasi dengan bersikap lebih sabar dan membangun rasa percaya.

 

¹) https://www.softskill.asia/komunikasi/apa-itu-komunikasi-mendengar/

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

9 thoughts on “Mendengar Aktif Membantu Peserta Didik Mengatasi Masalah

  • 22/12/2020 at 12:51
    Permalink

    Tulisan yang baik.
    Pesan tersampaikan dengan baik.
    Salam Literasi!

    Reply
  • 09/11/2020 at 12:16
    Permalink

    Terimakasih pak D. Harus banyak belajar saya

    Reply
  • 08/11/2020 at 20:36
    Permalink

    Memang benar di tingkat SD tidak ada guru BK sehingga wali kelas yg mengambil peran sebagai guru BK. Kebetulan sy seorang guru BK dan sy mengapresiasi apa yg sdh Bapak lakukan terhadap siswa tersebut. Karena sedikit banyak hal-hal yang berhubungan dengan BK sudah Bapak lakukan, misalnya saja membangun kepercayaan siswa dan menjadi pendengar yang baik pd saat siswa sudah mempercayai gurunya. Tetap semangat mendidik generasi penerus bangsa Bapak. Semoga perjuangan panjenengan mendapat balasan kebaikan dari Alllah

    Reply
  • 08/11/2020 at 19:42
    Permalink

    Pak Guru idaman, pasti banyak muridnya yang sudah pada kerja, bisnis atau pegawai pemerintah yang sering silaturahim ke rmh Pak Guru/Pak D San, karena sangat terkesan saat diajarin pak Guru dulu.

    Inspiratif

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *