Gadis itu Bernama Mila

Pergelangan tangannya masih terbalut. Selang infus pun masih menancap di tangan. Perlahan Jaka membuka matanya. Semua terlihat putih. Samar-samar terlihat wajah seorang gadis. Wajah gadis yang sangat dikenalnya. Gadis itu tinggal di seberang warung Bu Aam, tempatnya ngopi dan sarapan pagi. Kata Bu Aam namanya Mila. Gadis pendiam yang selalu dilihatnya menyapu halaman dan membuang kotorannya di kotak sampah tidak juah dari rumahnya. Bu Aam bercerita, gadis itu makin pendiam semenjak Ayahnya meninggal, belum lama. Sedangkan ibunya lebih dulu meninggal ketika ia masih sekolah.

 

Setiap pagi, Jaka selalu menyempatkan ngopi dan sarapan pagi di warung sederhana milik Bu Aam. Warung milik wanita paruh baya itu berada di tepi jalan, tempat Jaka berlalu lalang. Warung Bu Aam selalu buka pagi-pagi. Tersedia lontong, nasi uduk, juga gorengan. Sarapan pagi tersedia bagi mereka yang terburu-buru bekerja atau untuk para bujangan seperti Jaka yang lebih suka beli makanan ketimbang memasak. Dari warung itulah Jaka selalu penikmati pemandangan pagi yang selalu berulang, gadis penyapu halaman.

 

“Terima kasih,” ucap Mila sambil menjabat tangan ketika Jaka sudah siuman. Ia meninggalkan kamar rumah sakit bersama Bu Aam dan meninggalkan secarik kertas ketika mengenggaman tangan Jaka yang sedang terbaring terluka. Luka Jaka tidak terlalu parah. Ada beberapa lecet di tangan kirinya dan shock karena terbanting. Andai saja ia terlambat, nyawa Mila mungkin melayang terhantam mobil lepas kendali, pagi tadi. Kalimat pada kertas pendek terbaca: Terima kasih. Orang yang aku sayangi dan menyayangiku dipanggil pulang oleh Sang Pemilik. Aku menunggu kapan giliranku. Cerita Bu Aam, hari ini orang yang menyukaiku mencegahku menghadap Yang Mahakuasa. Masih bolehkah aku berharap? Mila.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *