#KamisMenulis – Galau Hati Ibu Guru

By | 26/11/2020

Semua diam. Membisu. Ada apa ini? Apakah mereka tidak tahu jika hari guru ini juga hari lahirku. Hari ulang tahun istrinya, ibunya? Hingga umurku lima puluh satu tahun kemarin. Kalau tidak ayahnya, ya anak-anak bergantian mencium kening sembari mengucapkan selamat ulang tahun, Ma. Jangan-jangan mereka ingin memberi kejutan? Seperti cerita-cerita pendek tiga paragraf yang berakhir mengejutkan pada paragraf ketiga? Aku berharap begitu. Mudah-mudahan. Rasanya kok hampa. Setiap tahun di hari istimewaku selalu bertabur ucapan dan doa. Hari ini sepi mereka tidak berkspresi apa-apa. Suami sibuk menyiapkan diri ke kantornya. Anak-anak, Eka dan Rosita mendadak sibuk. Biasanya mereka daring dari rumah, hari ini mereka ke sekolah masing-masing. Eka ke SMA dan Rosita ke SMP.

Satu demi satu mereka meninggalkan rumah setelah berpamitan. Aku ingin bertanya, sebenarnya. Tetapi aku malu. Ucapan kan datangnya mesti tulus. Bukan diminta apalagi dipaksa. Lagi pula sakit, jika mereka memberi ucapan selamat ulang tahun setelah aku bertanya. Seperti tidak tulus dan terpaksa. Ya, sudah. Mungkin mereka lupa karena masing-masing sibuk dengan urusannya. Atau karena mereka tidak memedulikan aku lagi? Rasanya tidak. Karena aku ibunya. Sebagai istri, seingatku aku pun melayani Mas Antok dengan baik. Tidak mungkin mereka tidak peduli. Dengan menarik napas panjang, kejadian pagi ini aku ikhlaskan. Mencoba melupakan ulang tahunku yang kelima puluh dua.

Hari ini aku tidak piket, jadi aku tidak perlu ke kantor. Setelah mengunci pintu utama, aku ke ruang tengah. Menulis, mengisi blog. Blog yang sudah lama sekali terlantar. Aku membuatnya ketika dulu ada pelatihan. Isinya sedikit tulisan sebagai syarat menerima sertifikat. Setelah sertifikat di tangan, blog itu pun aku tinggalkan. Hari ini aku kembali menulis.  Menulis kegalauan hatiku karena anggota keluargaku tidak memedulikan hari istimewaku. Anakku dan anak mertuaku. Pembaca ada yang tahu dan bisa membantu ending ceritaku harus bagaimana?

#Kamis menulis #tahu  #bisa

12 thoughts on “#KamisMenulis – Galau Hati Ibu Guru

  1. Nurcholifah

    pasti happy ending pak. Biasanya cerita ulang tahun spt itu, penuh surprise dan prank yg berakhir menggembirakan

    Reply
  2. Momo DM

    Biarkan saja endingnya seperti itu, Pak D. Biarkan pembaca sendiri yang menebak-nebak endingnya seperti apa. Atau biarkan saja pembaca menulis ending maunya seperti apa. Tabik.

    Reply
  3. Suyati

    Ucapan selamatnya lewat blog itu pak. Cb dibuka.

    Reply
  4. indrakeren

    Endingnya terbangun dari Mimpi Pak D….
    gmn deal!

    Reply
  5. I Made Jimat

    Jangan niarkan mbisu ayo
    Aemoga ingat hari guru
    Tiada bangsa maju tanpa kehadiran guru

    Mantappppp

    Reply
  6. Hariyanto

    Ucapannya mungkin malamnya nggih, karena siang hari sudah banyak di sosmed. maaf bercanda. Tulisannya bagus, salam sukses

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *