MALU (Menulis Aja Lupakan Umur)

Dok. Grup WA Menulis (jejak Digital Motivator Andal)

 

Bermula dari “gurauan” di grup menulis yang saya ikuti, memberi komentar terhadap seorang teman penulis (blog dan buku) yang merasa sudah “tua”, saya tulis MALU. Lalu saya beri keterangan (Maju Aja Lupakan Usia). Sang kurator yang fotonya terpampang pada halaman sampul buku di atas membalas.

Iyes gue iyong kuwee

Teman tersebut, Ibu Tini Sumatini dari Lebak Banten, pun bertanya, “Apa artinya Bun?”

Tidak menungu lama, saya pun menjawab.

“OMG, No no no its about me. Hahahahaha. Itu ngolok-olok saya, Ambu. Inyong itu aku-nya orang ngapak seperti saya,” tulis saya di kolom chat grup.

Dra. “Kanjeng” Sri Sugiastuti, M.Pd. pun menjawab dengan stiker sebagai berikut.

Stiker WA

Kontan saja si “Ambu” pun menulis komentar, “Oh? It’s about me too!

Berebut tua, ya?

Sebagian besar kontributor buku antologi berjudul Jejak Digital Motivator Andal, Antologi Artikel Gelombang 16 Menggali Potensi Penulis Pemula memang berusia tidak muda lagi. Masa kerja sebagai pendidik rata-rata juga sudah cukup lama. Paling hanya satu yang masa kerjanya baru satu tahun. Satu tahun menjelang pensiun! Siapa lagi kalau bukan pengirim stiker di atas. Ibu Kanjeng!

Gurauan tentang “malu” berlanjut lagi. kali ini di Grup AISEI Writing Club Batch 2. Ada teman yang “ngos-ngosan” menyetorkan tulisan #Day18 hingga #Day25. Berkomentar malu lantaran merapel “tugas” yang harus diselesaikan hingga hari ke-28 nanti. Kembali saya berkomentar dengan akronim “Maju Aja Lupakan Umur”.

Maju Aja atau Menulis Aja

Setelah saya berulang kali membaca percakapan pada kedua grup di atas, mungkin singkatan dari “M” bukan “Maju” tetapi “Menulis”. Konteks kegiatan kami adalah menulis. Belajar menulis. Saya alumni grup belajar menulis. Masih terus belajar dan terus belajar. Belajar menulis dan terus menulis. Saya pun lebih suka menyebut diri sebagai pemula. Selalu pemula, agar pikiran dan hati ini selalu mau menerima ilmu, saran, dan kritik dari guru dan orang lain.

Seperti cerita seorang anak muda yang ingin berguru kepada orang berilmu. Agar sang Guru terkesan, ia bercerita tiada henti. Sambil mendengarkan cerita si calon murid, sang Guru menuangkan air ke dalam gelas. Tidak berhenti menuang seperti si anak muda yang terus “nyerocos” bercerita. Ketika melihat sang guru menuang air ke dalam gelas hingga penuh dan terus menuang hingga air tertumpah, ia pun berhenti. Sang guru pun seketika berhenti. Lalu berkata, “Kembalilah. Kamu belum siap menerima ilmu.” Dari kisah itulah saya tetap memosisikan diri sebagai pemula (dan memang benar pemula, ha ha).

Saya adalah peserta Grup Menulis Bersama Omjay dan PGRI melalui WA Gelombang 15. Alhamdulillah dengan perjuangan yang lumayan akhirnya terbit sertifikat tanda berhasil “itiqomah” mengikuti tahapan-tahapan yang disyaratkan.

 

Sertifikat Peserta Pelatihan “Belajar Menulis” (Dok. Pribadi)

 

Buku Antologi yang sampulnya ada bagian atas tulisan ini ditulis oleh teman-teman anggota Grup Menulis Bersama Omjay dan PGRI melalui WA Gelombang 16. Meskipun begitu, saya merasa perlu untuk bergabung dan belajar membuat tulisan. Nama saya tercantum pada urutan kedua belas. Untung nama penulis tidak ditulis alfabetis. Jika demikian, pasti nama saya urutan belakangan. Apalagi mereka yang namanya berawal huruf Y atau Z.

Berbekal motivasi dari Bu Kanjeng dan semangat dari rekan-rekan anggota berbagai WAG Menulis, kata MALU saya terjemahkan sebagai Menulis Aja Lupakan Umur.

#Day27NovAISEIWritingChallenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

7 thoughts on “MALU (Menulis Aja Lupakan Umur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *