Video Pembelajaran dengan Kinemaster, Tugas Akhir Pelatihan Aplikasi Daring

Thumnail video (Dok. Pribadi)

Beberapa hari yang lalu, untuk mengingat dan memperlancar cara membuat video pembelajaran menggunakan aplikasi Kinemaster, saya ikut pelatihan. Pelatihan itu diselenggarakan oleh Bidang GTK Disdik Musi Rawas dengan para fasisiltator anggota Forum KKG Kabupaten. Acara tersebut pun sudah resmi ditutup. Namun, namanya diklat (pendidikan dan pelatihan), syarat kelulusan peserta adalah mengumpulkan serangkaian tugas. Apalagi kegiatan yang dikemas dalam bentuk workshop, hasil kerja atau unjuk kerja menjadi bukti bahwa workshop dilaksanakan dengan baik.

Baca juga: https://blogsusanto.com/2020/11/27/berakhir-rangkaian-pelatihan-aplikasi-daring-2020-gtk-musi-rawas/

Pelatihan aplikasi daring disingkat PAD tahan ketiga sebagai pelatihan tahap terakhir di tahun kalender 2020, mengkhususkan memberi bekal guru membuat video. Aplikasi yang digunakan adalah aplikasi yang ada di playstore dan sangat umum dipakai yakni Kinemaster. Hanya saja, aplikasi standar pada Aplikasi Play Store yang telah diinstal sebagai aplikasi bawaan di perangkat Android yang mendukung Google Play menampilkan gambar tanda air atau watermark. Tanda itu menunjukkan bahwa aplikasi tersebut adalah aplikasi yang diunduh dan dipergunkan secara gratis atau cuma-cuma. Sebagian kalangan menganggap adanya tanda air pada video yang dihasilkan kelihatan kurang profesional.

Oleh karena itu, para konten kreator meningkatkan aplikasi gratisan mereka dengan yang premium (versi pro) dengan membeli lisensi atau membayar aplikasi kinemaster yang premium. Namun, sebagian lagi lebih suka mengunduh pada situs-situs penyedia aplikasi edit video tersebut yang versi modifikasi atau versi gratis dengan fitur secanggih pro. Anda bisa berburu atau mengulik di sini.

Mengapa Harus Kinemaster

Sebenarnya banyak sekali aplikasi pengedit video pada smartphone dan gratis. Infokomputer.grid.id menjabarkan beberapa aplikasi vloger smartphone yaitu:

  1. Adobe Premiere Clip
  2. FilmoraGo
  3. KineMaster
  4. PowerDirector
  5. Quick
  6. VivaVideo
  7. Movie Maker Filmmaker
  8. Inshot
  9. VideoShow
  10. iMovie

Di luar itu tentu masih banyak, silakan google play dieksplorasi.

Pelatihan kali ini mengkhususkan pada aplikasi Kinemaster. Kenapa, ya? Saya belum menanyakan kepada panitia. Yang pasti, para narasumbernya (teman-teman saya) sudah belajar aplikasi itu lebih dulu. Lalu mereka mengajarkannya kepada kami. Tetapi alasan lainnya barangkali karena aplikasi edit video ini memiliki tampilan yang mudah dipakai. Selesai menambah fitur,langsung bisa dinikmati lalu segera dihapus dan diubah jika kurang pas.

Jika elemen yang dibutuhkan untuk membuat video sudah tersedia pada android seperti: gambar latar belakang (background), video, gambar, audio non-copyright, maka dalam waktu singkat kreator dapat membuat video dengan mudah. Tambahan efek, filter audio, kunci kroma, transisi yang beragam, menambah keasyikan dalam berkreasi. Saya sebagai peserta dan seorang guru maka diwajibkan membuat video yang berguna dalam pembelajaran.

Mengekspor Video dengan Kinemaster

Setelah asyik mengutak-atik, mengedit, dan memutarnya untuk melihat hasil proyek video, konten kreator mengekspor agar menjadi video yang utuh. Sebelum mengekspor, kita diberi pilihan kualitas tertentu. Namun biasanya aplikasi Kinemaster sudah menyiapkan pilihan kualitas standar. Jika kita mau, maka langsung pilih saja tanpa mengatur ulang kualitas video yang akan dihasilkan.

Dengan melakukan praktik maka kita tahu bahwa proses ekspor kadang tidak seperti yang diharapkan. Bahkan kadang menemui kegagalan. Oleh karena itu, pastikan bahwa ruang penyimpanan internal HP Anda mencukupi. Jika memori  HP masih sangat cukup tetapi ekspor tidak berhasil, barangkali pengaturan awalnya yang tidak tepat. Resolusi video yang dihasilkan terlalu tinggi atau laju bit yang terlalu tinggi, tidak kompatibel dengan perangkat . Oleh karena itu, sebelum mengekspor pastikan pengaturan resolusi, laju bit, dan sebagainya yang ada pada layar sudah tepat dan sesuai dengan perangkat kita.

Hal yang sering dilakukan, terutama ibu-ibu di sekolah saya (maaf), waktu tidur HP terlalu singkat. Katanya sih, biar gawai aman dari diusilin orang lain. Boleh-boleh saja. Tetapi jika kita membuat proyek video dan melakukan ekspor, sebaiknya waktu tidur gawai diperpanjang. Rendering video di Kinemaster melarang kita menutup layar gawai. Sebab, jika proses rendering ketika mengekspor video layar gawai padam, hal ini dapat mengganggu. Ada kemungkinan proses export  akan gagal.

Menyimpan Video pada Channel YouTube

Jika proses ekspor sudah selesai, video yang sebelumnya kita edit atau diutak-atik, sudah jadi. Mau diapakan video tersebut? Dikirim ke teman melalui WA, FB, Blog, silakan saja. Yang paling disarankan adalah Anda unggah video itu pada aplikasi video blogger, YouTube. Satu akun Google, selain dipakai untuk membuat blog, dapat juga kita pakai untuk membuat kanal youtube.

Boleh saja kita bermimpi menjadi youtuber hebat dengan hasil ribuan dollar. Tetapi yang pasti channel youtube pribadi kita adalah penyimpan file video dengan kapasitas luar biasa besar. Selain itu, video yang dibuat dapat dinikmati oleh siapa saja.

Nah, tugas terakhir biar dinilai dan bisa lulus lalu mendapat sertifikat sudah saya kirimkan. Nih videonya.

 

#Day26NovAISEIWritingChallenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Video Pembelajaran dengan Kinemaster, Tugas Akhir Pelatihan Aplikasi Daring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *