Media Sosial, Memang Penting?

Dok. Lagerunal

Saya ditanya teman. Memang media sosial penting? Saya balik bertanya, kamu punya media sosial, nggak? Dia menjawab, nggak punya. Aku cuman punya WA, katanya.

Teman saya, katanya, tidak memiliki media sosial. Tetapi di sisi lain, katanya, hanya memiliki WA (aplikasi WhatsApp) di ponselnya. Lho, WA itu media sosial, bukan sih? Daripada ngawur saya mencoba mencari jawabannya.

Media sosial, dalam bahasa Inggris disebut social media, terdiri atas dua kata: media dan sosial. Menurut kamus, kata “media” berarti alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Dapat juga berarti sesuatu yang terletak di antara dua pihak (orang, golongan, dan sebagainya). Arti yang lain adalah perantara atau penghubung. Dalam IPA berarti zat hara yang mengandung protein, karbohidrat, garam, air, dan sebagainya baik berupa cairan maupun yang dipadatkan dengan menambah gelatin untuk menumbuhkan bakteri, sel, atau jaringan tumbuhan. Sementara itu, kata “sosial” menurut kamus berarti berkenaan dengan masyarakat. Pada bahasa tutur/percakapan, sosial diartikan sebagai sikap suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya). Lalu, media sosial artinya apa?

Menggabungkan dua kata dan memberi makna berdasarkan makna asal katanya saja, media sosial diartikan sebagai menyangkut sarana penghubung masyarakat atau orang. Namun, makna media sosial tidak sesederhana itu. Bahkan pengertian sederhana itu pun malah dipandang memiliki pengertian terlalu luas. Akhirnya, pada tahun 2019, Merriam-Webster mendefinisikan “media sosial” sebagai “bentuk komunikasi elektronik (seperti situs web untuk jejaring sosial dan mikroblog) di mana pengguna membuat komunitas online untuk berbagi informasi, ide, pesan pribadi, dan konten lainnya (seperti video). Lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Social_media#Definition_and_classification.

Jenis-jenis Media Sosial

Thomas Aichner dan Frank H. Jacob menulis laporan tentang “Measuring the degree of corporate” (Mengukur tingkat penggunaan media sosial perusahaan) yang dimuat dalam International Journal of Market Research Vol. 57 Issue 2. Mereka mengatakan bahwa media sosial setidaknya mencakup 13 jenis media sosial, yaitu: blogs, business networks, collaborative projects, Enterprise social networking,
forums, microblogs, photo sharing, products/services review, social bookmarking, social gaming, social networks, video sharing, and virtual worlds. Dalam bahasa Indonesia 13 jenis media sosial itu ialah: blog, jaringan bisnis, proyek kolaboratif, Jaringan sosial perusahaan, forum, mikroblog, Berbagi foto, review produk/layanan, bookmark sosial, permainan sosial, jaringan sosial, berbagi video, dan dunia virtual. Saya makin penasaran. Bagaimana perkembangan media sosial sejak awal mula hingga sekarang?

Saya pun bersemangat mencari infonya di wikipedia. Perkembangan media sosial dimulai dengan platform sederhana. Layanan jejaring sosial paling awal adalah GeoCities (1994). Berikutnya adalah Classmates.com (1995). Kemudian SixDegrees.com (1997). Sixdegrees.com adalah bisnis online pertama yang dibuat untuk orang sungguhan, menggunakan nama asli mereka.

Selanjutnya adalah Open Diary (1998), LiveJournal (1999), Ryze (2001), Friendster (2003). LinkedIn (2003), hi5 (2003), MySpace (2003), Orkut (2004), Facebook (2004), YouTube (2005), Yahoo! 360° (2005), dan Bebo (2005). Layanan berbasis teks, Twitter (2006), Tumblr (2007), Instagram (2010), dan Google+ (2011). Di mana WhatsApp? Apakah WhatsApp (disingkat WA) termasuk media sosial?

Para pengguna WA, ketika membuka aplikasi tersebut tertulis pada jendela awal “from Facebook”.

 

Ternyata Facebook adalah pemilik sejumlah layanan populer. Selain WhatsApp, pengguna Instagram juga mengalami hal sama sebagai tanda bahwa IG adalah milik FB. Selain itu Oculus dan mata uang kripto Libra pun milik Facebook.

Jadi jelas ya, temanku. Meskipun hanya punya WA, Anda memiliki media sosial. Bahkan jika Anda memiliki ponsel pintar tanpa aplikasi WA maka kawan dan saudara Anda akan menuntut.Bahkan di musim pandemi ini WA seakan aplikasi wajib dalam pembelajaran jarak jauh. Bahkan Omjay dan PGRI memanfaatkan WA sebagai media utama Pelatihan Menulis. Grup-grup menulis seperti Lagerunal (Cakrawala Guru Bloger Nasional) yang logonya terpampang pada bagian awal tulisan ini juga memanfaatkan WA sebagai media sosial komunitas.

Kebebasan berpendapat, menyebar, dan mencari informasi di negara kita sedemikian terbuka. Media sosial menjadi wahana mengekspresikan perasaan melalui tulisan, gambar, maupun video. Media sosial yang bersifat bak belati bermata dua menyebabkan banyak hal baik bisa diraih dengan memanfaatkan media sosial. Di balik itu, ternganga jurang kehancuran disebabkan pemanfaatan media dengan tidak bijak. Media sosial digunakan sebagai media pengumbar ujaran kebencian, provokasi, menyebar isu sara, bullying, body shaming, dan sebagainya.

Manfaatkan media sosial dengan bijak. Tambahkan teman virtual sebanyak-banyaknya. Namun ingatlah, bahwa kita hidup di dunia nyata. Perbanyak teman nyata di sekitar kita, barulah merambah ke dunia maya jika jarak dan waktu menjadi kendala. Ingat, jika Anda meninggal, mayat tidak diantar ke kuburan oleh teman Facebook, anggota Grup WA, atau folloer instagram yang ribuan itu. Mereka yang mengurusi jenazah kita dan anggota keluarga adalah para kerabat dan tetangga dekat.

#Kamismenulis

#mediasosial

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

4 thoughts on “Media Sosial, Memang Penting?

  • 04/12/2020 at 10:43
    Permalink

    Selalu lengkap dan detail tulisan pak D

    Reply
  • 04/12/2020 at 07:25
    Permalink

    Mantap pak. Tambah kawan virtual lekatkan kawan nyata.

    Reply
  • 04/12/2020 at 04:16
    Permalink

    Cakeeeppp Pak D
    Tulisan media Social yg sesungguhnya… Heheheh

    Sehat terus Pak D

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *