Mamas, Kapan Pulang?

Mas. Mamas, kapan pulang?

Itu lagi, itu lagi. Bapakku seperti tidak memiliki kosa kata selain menanyakan kepulanganku. Seperti hari ini, pesan tulisan itu kembali bergetar hadir di gawaiku. Tidak seperti biasa, hari ini aku hanya membacanya.

Aku tinggal berdua dengan bapakku. Ibuku harus mendahului kami ketika aku kelas dua SD. Beliau berjuang melawan kanker payudara. Setelah dioperasi penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Malah belakangan membuatnya menderita maag dan akhirnya hepatitis pun menyerang. Kami merelakan kepergiannya ketika aku menerima rapor kenaikan kelas. Seharusnya ibu gembira karena aku naik kelas tiga.

Setelah tamat SMA, aku melanjutkan kuliah di luar kota. Kotaku yang kecil hanya ada perguruan tinggi swasta. Itu pun sekolah guru. Sedangkan aku, sedikit pun tidak ada keinginan menjadi guru. Beruntung, ayahku yang kupanggil Bapak mengizinkan dan mendukungku kuliah di luar kota.

Kami pun tinggal sendiri-sendiri. Bapak di kampung. Aku di kota. Kami bertemu setiap libur. Telepon seluler menjadi media kami berkomunikasi. Hanya suara dan tulisan dalam bentuk short message sevice (SMS) cukuplah. Bapak membelikanku ponsel pintar setahun menjelang lulus. Itu pun kutambah dengan tabungan dari beberapa kegiatan yang aku ikuti. Bapak sendiri, masih setia dengan ponsel yang nada deringnya mampu membangunkan seisi rumah bangun pagi.

Tamat kuliah aku merantau ke kota lain. Berwirausaha. Sedikit demi sedikit, usahaku berkembang. Tenda tempatku berjualan sudah menjadi bangunan artistik tongkrongan anak-anak muda energik. Kepulanganku ke rumah pun semakin jarang. Ketika di kampus, setiap semester pasti aku kembali ke kampung. Bercengkerama dengan Bapak, orang tuaku satu-satunya. Hari ini sudah hampir dua tahun aku belum kembali.

Senja mulai menyapa, pertanda malam segera datang. Aku pun pulang. Di rumah, sambil rebahan aku buka gawai, membaca tulisan Bapak yang belum kuhapus.

Mas. Mamas, kapan pulang?

Sambil menarik napas, kutekan tombol panggilan.

“Tuuuuuut…….! Tuuuuuut…….! Tuuuuuut…….!”¬†¬†Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silakan coba beberapa saat lagi.

Berulang-ulang tidak ada jawaban.

“Bapak!”

Tanpa pikir panjang, bergegas kupergi ke garasi. Malam ini aku harus kembali!

 

#Kamismenulis #Rindu

Dok. Lagerunal

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

5 thoughts on “Mamas, Kapan Pulang?

  • 11/12/2020 at 20:52
    Permalink

    Kalimat terakhir selalu menggantung.
    Itu salah satu kenikmatan membuat cerita fiksi….
    Bikin pembaca nya penasaran

    Hehehhee
    Mantul Pak D

    Reply
  • 11/12/2020 at 14:00
    Permalink

    Mantap memainkan endingnya.

    Reply
  • 11/12/2020 at 04:24
    Permalink

    Trus…gmn keadaan bapak ya?
    Jadi kepikiran juga yak!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *