Tindakan Korupsi Terus Terjadi, Cegah Sejak Dini!

Ilustrasi korupsi: shutterstock

Indonesia adalah negara dengan banyak nilai-nilai (value): nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai adat budaya, dan nilai-nilai karakter bangsa. Tidak kurang dari 18 nilai karakter bangsa yang harus ditanamkan kepada siswa atau anak didik. Kedelapan belas karakter tersebut adalah: relijius, jujur, toleransi, disiplin,kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Betapa warga negara Indonesia akan menjadi manusia paripurna jika kedelapan belas nilai karakter bangsa itu dimiliki dan diterapkan.

Sebagai makhluk kita dibekali Tuhan dengan akal budi. Dengan akal budi kita dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Akal budi manusia inilah menjadikan dirinya tergolong sebagai makhluk Tuhan yang sempurna. Tidak seperti makhluk bumi lainnya seperti hewan yang hanya diberi napsu tidak dibekali akal.

Hawa nafsu yang dimiliki manusia yang dikendalikan oleh akal budinya, menyebabkan manusia menjadi makhluk yang sempurna. Dengan adanya napsu, dunia sebagai wahana kekhalifahan manusia menjadi dinamis. Contoh misalnya, awalnya manusia hanya menutupi sebagian anggota tubuhnya dengan dedaunan atau kulit kayu. Keinginan untuk tampil lebih baik karena akal budinya menghendaki keindahan, ia menciptakan pakaian dengan bebagai bahan, corak, dan desain. Demikian juga untuk hal-hal lainnya.

Tindakan Korupsi dan Budaya Permisif

Selain nafsu dengan kecenderungan baik atau positif, hawa nafsu juga mudah dibelokkan ke arah negatif. Satu di antaranya adalah nafsu untuk tidak mau rugi atau ingin mendapat keuntungan. Salah? Tidak juga. Jika ia memerolehnya dengan wajar dan menerimanya dengan wajar. Namun manusia juga berpotensi memiliki sifat serakah. Serakah adalah sikap selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki. Keinginan memiliki sesuatu lebih dari yang dimiliki melalui jalan yang tidak sah, itulah koprupsi.

Selain karena sifat serakah tersebut, korupsi juga terjadi akibat adanya kesempatan (oportunity). Kesempatan atau peluang yang terjadi disebabkan lemahnya pengawasan atau sistem keamanan. Pelaku mengambil kesempatan untuk memperkaya diri dengan memanfaatkan peluang yang ada. Selain itu, korupsi juga bisa disebabkan oleh adanya kebutuhan. Kebutuhan hidup yang lebih besar daripada penghasilan dapat memicu tumbuhnya sikap korup.

Mengapa korusi selalau saja terjadi?  Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS-RI) mengatakan bahwa salah satu akar penyebab berkembangnya praktik korupsi diduga berasal dari rendahnya integritas para pelakunya dan masih kentalnya budaya permisif terhadap tindakan korupsi. Permisif itu sendiri berarti serba membolehkan atau bersikap terbuka. Hal tersebut diketahui dari Survei Perilaku Anti Korupsi (SPAK) dilakukan oleh BPS. SPAK menanyakan pendapat atau persepsi responden terhadap beberapa kebiasaan yang terjadi di masyarakat yang diduga merupakan tindakan korupsi. Persepsi seseorang terhadap kebiasaan yang diduga merupakan tindakan korupsi ini dibagi dalam tiga lingkup, yaitu: keluarga, komunitas, dan publik.

Masyarakat Semakin Permisif terhadap Korupsi di Lingkup Keluarga

Hasil SPAK BPS tahun 2019 menunjukkan bahwa masyarakat semakin permisif terhadap korupsi di lingkup keluarga. Terjadi peningkatan anggapan wajar terhadap sikap-sikap sebagai berikut:

  1. Istri yang menerima uang tambahan dari suami di luar penghasilan tanpa mempertanyakan asal usul uang tersebut;
  2. Seorang pegawai negeri yang menggunakan kendaraan dinas untuk keperluan keluarga;
  3. Orang tua yang mengajak anaknya dalam kampanye pilkada/pemilu demi mendapatkan uang lebih banyak;
  4. Seseorang yang mengetahui saudaranya mengambil uang tanpa izin tetapi tidak melaporkan kepada orang tuanya; dan
  5. Seseorang yang menggunakan barang milik anggota keluarga lain tanpa meminta izin.

Masyarakat Semakin Permisif terhadap Korupsi di Lingkup Komunitas

Pada lingkup komunitas, ternyata masyarakat semakin permisif terhadap korupsi di lingkup tersebut. Hal yang didata adalah sikap memberi uang atau barang kepada ketua RT/RW/Kades/Lurah atau tokoh masyarakat lainnya pada peristiwa sebagai berikut:

  1. ketika suatu keluarga melaksanakan hajatan (pernikahan, khitanan, kematian, dsb);
  2. menjelang hari raya keagamaan;
  3. suatu keluarga melaksanakan hajatan (pernikahan, khitanan, kematian, dsb).

Masyarakat Semakin Permisif terhadap Korupsi di Lingkup Publik

Ada sebelas variabel yang ditanyakan oleh BPS pada survei perilaku anti korupsi yang mengindikasikan adanya korupsi pada lingkup publik. Kesebelas variabel tersebut adalah:

  1. Demi menjaga hubungan kekeluargaan dan pertemanan, seseorang menjamin keluarga/saudara/teman agar diterima menjadi pegawai negeri/swasta;
  2. Memberi uang/barang/fasilitas dalam proses penerimaan menjadi pegawai negeri/swasta;
  3. Memberi uang/barang/fasilitas kepada petugas untuk mempercepat urusan administrasi kependudukan (KTP, KK, SKTM, dan lain-lain);
  4. Memberi uang/barang/fasilitas kepada polisi untuk mempercepat pengurusan SIM, STNK, SKCK, dan lain-lain;
  5. Pelanggar lalu lintas yang memberi uang damai kepada polisi;
  6. Petugas KUA meminta uang tambahan untuk transport ke tempat acara akad nikah;
  7. Guru mendapat jaminan (jatah) anaknya diterima masuk ke sekolah tempat dia mengajar;
  8. Guru meminta uang/barang/fasilitas dari orang tua murid ketika kenaikan kelas/penerimaan rapor;
  9. Memberi uang/barang/fasilitas kepada pihak sekolah agar anaknya dapat diterima di sekolah;
  10. Membagikan uang/barang/fasilitas ke calon pemilih pada Pilkades/Pilkada/Pemilu; dan
  11. Mengharapkan pembagian uang/barang/fasilitas pada Pilkades/Pilkada.

Menurut BPS, semakin permisif pendapat masyarakat terhadap perilaku korupsi dapat diduga menggambarkan perilaku anti korupsi individu yang semakin rendah, dan sebaliknya.

Orang Tua dan Guru Berperan Menanamkan Perilaku Antikorupsi

Membaca laporan BPS tentang survey perilaku antikorupsi hendaknya menyadarkan orang tua dan guru untuk lebih masif dalam menanamkan nilai-nilai karakter dan membiasakan perilaku antikorupsi di lingkungan keluarga dan sekolah. Hal-hal sederhana yang dapat dilakukan misalnya membiasakan meminta izin jika memakai perabot atau barang milik anggota keluarga. Menghargai hak milik orang lain (meskipun saudara sendiri) perlu ditanamkan sejak dini. Demikian juga sikap untuk mau melaporkan atau menanyakan jika ada anggota keluarga membawa uang atau barang dari luar rumah. Keberanian untuk menanyakan bahkan menolak permintaan guru terhadap hal-hal di luar kesepakatan atau musyawarah juga perlu dilakukan. Ingat, korupsi  adalah perbuatan salah (dalam bahasa agama adalah dosa). Jika dilakukan terus-menerus akan enjadi “terasa biasa” dan seseorang merasa imun dari  rasaa bersalah atau rasa berdosa. Seperti peribahasa lama alah bisa karena biasa. Perbuatan buruk itu ibarat racun atau bisa yang jika sedikit-sedikit dilakukan, lama-lama membesar sehingga menjadi kebiasaan.

 

#Des10AISEIWritingChallenge

Bacaan:
Katalog 4407002, Indeks Perilaku Anti Korupsi 2019, BADAN PUSAT STATISTIK

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

2 thoughts on “Tindakan Korupsi Terus Terjadi, Cegah Sejak Dini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *