Galau Hati Jelang Hari Ibu

“Selamat pagi, anak-anak!” tulisku di grup belajar kelas.

“Sebelum penerimaan rapor, saya ingin kalian menulis. Membuat karangan,” tulisku lagi.

“Nulis apa, Pak? Wah, sudah mau libur masih ada tugas juga?” Deci yang pandai bicara dan paling berani itu pun berkomentar.

Sambil tersenyum kecut, aku teringat sesuatu. Aku lupa mengunci grup. Jika grup tidak dikunci, dengan cepat mereka akan berkomentar tanpa terbendung.

“Mohon maaf, grup saya kunci dulu, ya. Hal ini agar informasi dari Pak Guru tidak tertimpa komentar kalian. Nanti kalau sudah selesai, akan saya buka lagi,” demikian pesan kutulis setelah grup WA kukunci.

Selanjutnya, agar mereka lebih paham aku pun merekam suara.

“Jadi begini, Anak-anak. Saya minta kalian menulis dengan tema “Ibu”. Kalian tahu, kan? Tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu. Kalian bisa bercerita tentang kehebatan ibu kalian masing-masing. Kekaguman kalian terhadap ibu, atau bercerita tentang jasa ibu. Tulislah pada selembar kertas folio bergaris!”

Demikian pesan suara yang aku rekam. Aku berharap didengarkan oleh anak-anak, para siswa dalam grup WA. Grup yang sudah satu semester ini menjadi media belajar mereka.

“Jika ada yang ingin bertanya, silakan tulis pada kolom chat. Nanti, tulisan atau karangan yang paling baik menurut Bapak dan Ibu Guru akan saya beri hadiah,” tambahku lagi.

Dua hari kemudian, mereka mengantarkan hasil pekerjaan mereka ke sekolah. Aku tersenyum bahagia. Ternyata mereka antusias mengerjakan tugas. Sengaja pekerjaan mereka tidak kubaca di sekolah. Pekerjaan mereka akan kubaca di rumah. Sampai di rumah, malam harinya, aku baca satu demi satu karya mereka.

Debi menulis tentang pujian terhadap ibunya. Eva menulis tentang kekaguman terhadap ibunya. Nah, ada yang menarik. Lini menulis sebuah puisi.

Ibu

Ibu ceritakan padaku
tentang indahnya bunga
Ibu ceritakan padaku
tentang isi dunia

Ibu jangan pernah kaubosan
menemani aku
Ibu jangan pernah kaulelah
Menuntun langkahku

Aku hanya bisa, meraba
Tanpa bisa melihat indahnya bunga
aku hanya mendengar tentang cerita
keindahan dunia, ooo

Aku hanya mengenal dengan meraba
tentang semua benda di dunia
terima kasih ibu
engkau yang selalu, mengasihi aku

Ibu engkaulah mataku
Ibu engkaulah malaikatku
Ibu engkaulah segalanya di dalam hidupku

Sebentar, sepertinya aku pernah membaca puisi tentang ibu seperti puisi yang ditulis Lini. Aha, pintar anak ini. Ia mengutip syair sebuah lagu!

Ingatanku melayang beberapa tahun silam. Kalau tidak salah, lagu itu pada sebuah acara pencarian bakat di stasiun swasta nasional. Penasaran, kutinggalkan lembaran kertas milik Lini dan membuka laptop. Segera aku browsing channel youtube. Pada kotak pencarian kutulis kata “ibu”. Muncul sederatan video bertema ibu. Akhirnya pandanganku tertuju pada sebuah video bergambar anak tunanetra dengan lagu berjudul ibu. Tidak salah lagi, pasti lagu ini yang disalin si Lini. Lagu berjudul “Ibu”, penyanyinya Azzam Nur Mukjizat.

 

Gambar Tangkap Layar: https://www.youtube.com/watch?v=K8hqETUXMfs

Sejenak aku pun terlarut dengan lagu yang dilantunkan anak SLB di Jawa Timur itu. Setelah memberikan komentar pada tulisan Lini, aku pun melanjutkan pada kertas tugas lainnya.

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan salah satu tulisan. Seorang anak menulis:

Aku tidak punya cerita tentang ibuku. Aku menganggap ibuku telah mati. Wassalaam: dari Alam.

Aku mengernyitkan alis dan dahi. Jantung pun berdegub lebih kencang. Ada apa dengan anak ini? Segera kuselesaikan membaca tulisan anak-anak lainnya lalu fokus dengan tulisan pendek si Alam.

“Alam, mengapa kamu menulis seperti itu?” kataku dalam hati.

Ada rasa sesal. Ternyata aku belum mengenal secara utuh para siswa di kelasku. Dengan menarik napas panjang, segera kubereskan karangan anak-anakku. Berkecamuk perasaan di dalam dada. Pada saat banyak orang memuji sosok ibu, mengagumi ibunya, kamu malah menulis kalimat seperti itu.

Andai malam ini belum larut, ingin rasanya menelepon teman guru satu-satu. Memberitahu kegalauan hati akibat membaca tulisan Alam. Sayangnya hari telah larut. Namun aku bertekad, besok harus kuketahui jawabannya.

Musi Rawas, 17 Desember 2020

#Kamismenulis #Lagerunal

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

6 thoughts on “Galau Hati Jelang Hari Ibu

  • 18/12/2020 at 10:02
    Permalink

    Saya langsung menuju channel Youtubenya, dan menyaksikannya, Haru!!
    Ada apa dengan Alam Pak D??
    Terimakasih tulisnnya Pak D

    Reply
  • 18/12/2020 at 09:50
    Permalink

    Selalu ada yang mengejutkan dari siswa-siswa kita.

    Reply
  • 17/12/2020 at 22:18
    Permalink

    Ikutan galau jika anak tidak menghargai ibunya

    Reply
    • 17/12/2020 at 22:20
      Permalink

      Terima kasih Bu Hajjah. Tidak ada asap jika tidak ada api.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *