Palu Sidang

Dok. Pribadi

Tanggal 19 Desember 2020 adalah hari terakhir anak-anak masuk sekolah. Pada hari itu, mereka menerima Buku Laporan Hasil Pembelajaran atau biasa disebut rapor. Tentu, sesudahnya mereka libur. Termasuk saya, ikut libur juga.

Jauh-jauh hari kami merencanakan untuk liburan ke kampung halaman, Gombong Kebumen Jawa Tengah. Kami berniat pulang karena ingin melepas rindu dengan kedua anak remaja kami. Dengan mereka, sudah satu tahun lebih kami tidak bertemu. Pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 memaksa kami menahan keinginan itu. Kami bertahan di kediaman masing-masing. Selain itu, kami ingin mencarikan kamar kos untuk adiknya.

Rencananya, kami pulang tanggal 21 Desember. Pada tanggal itu, PGRI Musi Rawas akan menyelenggarakan Konferensi Kabupaten ke-22. Sebagai Pengurus Kabupaten, saya pun tercantum sebagai panitia. Bersama tiga orang rekan, saya menjadi anggota seksi upacara, persidangan, dan notula rapat. Karena saya berniat pulang, saya minta izin kepada pengurus harian untuk tidak ikut dalam kegiatan tersebut.

Sambil memersiapkan segala sesuatunya, kami mengikuti berita dari media mainstream maupun media sosial. Berita apalagi jika bukan berita perkembangan virus Covid yang menyerang warga di kampung. Saya juga memantau cuitan gubernur Jawa Tengah tentang akan diberlakukannya tes Rapid  atau Swab Antigen bagi pendatang meskipun berkendaraan pribadi. Hal itu  ternyata membuat kami ciut nyali. Belum lagi kabar dari adik dan keponakan perihal bertambahnya pasien Covid di lingkungan RT-nya menambah daftar peringatan agar menunda dulu keinginan itu.

Akhirnya, keberangkatan ke tanah kelahiran dibatalkan!  Sebenarnya kecewa karena keberangkatan ke sana bukan untuk berlibur semata.

Memimpin Sidang Pleno

Karena tidak jadi pergi, pada hari Senin tanggal 21 Desember 2020 saya datang ke Konferensi Kabupaten XXII PGRI Musi Rawas. Sesuai keputusan Kongres PGRI XXII nomor V/KONGRES/XXII/PGRI/2019 tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, selambat-lambatnya dalam waktu 6 bulan sejak dilaksanakannya Konferensi provinsi PGRI, harus dilaksanakan konferensi kabupaten. Seharusnya, konferensi dilaksanakan pada bulan Juni. Namun karena pandemi, Pengurus  memersiapkan segala sesuatunya dan bersepakat. Mereka sepakat bahwa pelaksanaan Konferensi kabupaten PGRI Musi Rawas dilaksanakan bulan Desember.

Setelah upacara pembukaan selesai maka konferensi pun dimulai. Agenda pertama adalah pelaksanaan Sidang Pleno Pertama. Panitia Pengarah (SC) menetapkan bahwa saya yang memimpin sidang pleno pertama ini. Palu sidang pun diberikan kepada saya sebagai alat untuk mengatur jalannya sidang.

Saya masih ingat. Saya harus mengetuk palu tiga kali untuk memulai sidang. Mengetuk palu dua kali jika menskors atau menghentikan sementara jalannya sidang karena jeda istirahat. Untuk memberi tanda bahwa satu pembahasan telah disahkan, saya harus mengetuk meja dengan palu sebanyak satu kali.

Menjadi pemimpin sidang pleno harus percaya diri, selain menguasai substansi. Penampilan yang meyakinkan juga diperlukan agar peserta sidang merasa nyaman. Suara yang jelas dan lantang membantu memperjelas materi yang dibahas. Selebinya, pimpinan sidang tidak boleh larut dengan keinginan peserta. Untunglah saya pernah memiliki pengalaman pada pekerjaan yang sama lima tahun lalu.

Memimpin sidang pleno pada konferensi kabupaten lima tahun lalu dengan hari ini tidak ada bedanya. Yang berbeda adalah suasana dan kevokalan peserta. Peserta yang merupakan utusan dari cabang/cabang khusus pada sidang kali ini memiliki tingkat kevokalan yang cukup tinggi. Beberapa kali sidang diinterupsi. Beberapa kali juga aturan dalam tata tertib menjadi pembahasan peserta dengan cukup seru.

Pimpinan Sidang Harus Tegas

Suatu saat terjadi. Sebagian besar peserta sidang menyetujui sebuah keputusan. Pimpinan sidang pun memegang palu dan mengayunkan ke atas. Tiba-tiba, ada beberapa peserta yang belum puas sehingga menunjukkan tangan dan menyela serta meneriakkan kalimat. “Interupsi, Pimpinan Sidang!” Pada saat itu ketukan palu pun batal dilakukan.

Pada kondisi seperti ini, pimpinan sidang yang baik memberikan kesempatan. Namun, jika pembicaraan melenceng dari topik, atau bermaksud mementahkan kembali keputusan sebelumnya, pimpinan sidang harus tegas. ia dapat menghentikan dan mengembalikan pada pokok pembicaraan. Kemdian melanjutkan mengetuk palu. “Tok!”

Apa yang terjadi jika pimpinan sidang tidak tegas dan larut dalam banjir interupsi? Ia akan menjadi bulan-bulanan peserta. Pimpinan sidang akan lemah. Peserta yang vokal akan menguasai forum sidang. Kan lucu, ha ha ha.

Pada konferensi kali ini, saya memimpin sidang pleno dua kali. Pleno pertama dan pleno ketiga. Beruntung dapat menguasai keadaan dan ada Pengurus PGRI provinsi yang bisa menjadi rujukan. Akhirnya, sidang pleno yang saya pimpin dapat berjalan dengan lancar. Namun, tidak dipungkiri jika jantung berdegub lebih cepat. Oleh karena itu, selesai melaksanakan tugas saya pun berkelakar. “Mana thermogun,  apakah suhu kepala saya masih normal?”

Dok. Pribadi

 

 

Salam blogger!

#Des22AISEIWritingChallenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

14 thoughts on “Palu Sidang

  • 29/12/2020 at 19:46
    Permalink

    Barakallah fii ilmii Pak Susanto.

    Reply
  • 27/12/2020 at 07:02
    Permalink

    Cerita pengalaman mu, menjadi pengetahuan bagiku, semangatmu, cambuk kemalasan tabiat asli kemanusiaan ku, I just Ok for you pakdheku

    Reply
  • 22/12/2020 at 08:48
    Permalink

    Mantap pakde. Sukses selalu. Mudah -mudahan rencana mudik yang batal dapat diwujudkan di lebaran nanti. Salam sehat.

    Reply
  • 22/12/2020 at 06:34
    Permalink

    Saya merasakan hal yang sama pakde…rindu keluarga yang masih tertahan.

    Reply
  • 22/12/2020 at 06:05
    Permalink

    walau rencana untuk mudik batal namun ada kgiatan penting yg bisa dilakukan dan tentunya sangat bermanfaat.salam ongen untuk dua putrinya di kampung halaman.smg sll sehat.

    Reply
  • 22/12/2020 at 05:04
    Permalink

    Selalu ada cerita dari Pak D
    Tok!!!

    Reply
  • 22/12/2020 at 04:50
    Permalink

    tooop….nganggo bangeetttting…..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *