Bau Melati

Melati: pixabay.com

Melati itu bunga yang baunya menakutkan. Setiap kali aku berjalan di malam gelap dan mencium bau melati, pasti hatiku berdebar. Aku merasa ada seseorang yang tidak kasat mata mengawasi.

Seperti malam ini. Aku terpaksa berjalan kaki ke rumah Neng Aam. Seperti biasa, sebagai pemuda saya ikut bersama anggota Karang Taruna membantu rekan yang hajatan. Neng Aam, sahabat dan tetanggaku akan menikah. Kami bergotong royong merias panggung dan pelaminan. Berbagai bentuk hiasan janur dipasang. Tidak lupa bunga-bunga segar dan buah-buahan. Bunga melati perlambang kesucian tidak ketinggalan. Baunya harum, kata teman-teman perempuan.

Tanpa kuketahui, Yusni mengambil segenggam. Ia memasukkan ke kantong baju batikku yang berlengan panjang. Ya, aku pemuda lajang yang berpenampilan dewasa. Suka berkemeja batik seperti Pak Indra. Guru SD yang dua tahun lagi pensiun.

“Manto tu, paling takut bau melati, loh!” kata *Yusni* tiba-tiba.

Aku terkejut. Andai ada cermin untuk berkaca, barangkali wajahku merah merona. Menahan malu.

“Ah, siapa bilang? Melati itu ‘kan bunga suci,” timpalku beralasan.

Padahal dalam hati mulai merayap rasa takut. Degup jatungku pun mulai tidak beraturan.

“Hmm…. Neng, kayaknya hari udah agak larut. Saya pulang dulu, yah!” kata saya kepada calon pengantin perempuan.

“O, iya. Makasih ya, Tok. Yus, kamu nggak nemenin Manto pulang, tuh?” goda Aam.

“Huh, bisa diculik nggak diantar pulang ntar. Hati-hati ya, Tok. Lewat bawah randu di ujung jalan suka ada bau yang aneh-aneh,” kata Yusni setengah meledek dan menakuti.

“Huh. Aku lelaki, Yus. Enak, aja!” kataku memberanikan diri.

Aku pun melangkah pulang. Rumah-rumah para tetangga sudah banyak yang tutup pintunya. Kulihat jam di tangan.

“Pantas, sudah jam sebelas,”gumamku dalam hati.

Melewati rumah Pak Haji Cipto, langkah kupercepat. Tidak ada lagi rumah menuju pertigaan jalan. Apalagi sesudahnya ada pekarangan. Di sana berdiri tegak pohon kapuk randu tua seperti dikatakan Yusni tadi.

Benar saja, mendekati pohon randu, bau melati mulai tercium. Lama-lama semakin menyengat. Lampu jalan di depan rumah Haji Cipto sudah tidak mampu lagi menerangi jalan di pekarangan ini.

“Dug…dug…dug…,” jantungku berirama cepat berdegub.

Hidungku kembang kepis. Dadaku naik turun. Pikiran pun membayangkan yang aneh-aneh. Bau bunga melati pun semakin tajam. Ingin rasanya berlari. Tetapi rasa malu sebagai lelaki yang dua tahun lagi kepengin berbini menahan keinginan itu. Apalagi jalan bebatuan pasti akan menimbulkan bunyi kemeratak. Jika didengar Yusni, bisa habis kejantananku di mata gadis tomboy itu.

“Ya, Allah. Kuatkan hamba. Jauhkan aku dari hantu,” doaku lirih.

Bau melati semakin kuat ketika badanku tepat di bawah pohon kapuk randu tua itu. Badanku gemetar. Perasaan takut menjadi-jadi. Persetan dengan kejantanan. Aku harus lari hingga ke pertigaan jalan.

“Ada apa, Jang?” tanya Mang Ujang penjual siomay ketika kami berpapasan.

“Oh, Mang Ujang. Gak papa, Mang!” sambil menghentikan langkahku malu-malu kujawab pertanyaan Mang Ujang. Napasku yang masih ngos-ngosan kutahan.

Dua ratus meter lagi aku sampai rumah. Yang mengherankan, bau melati semain semerbak. Tetapi anehnya, perasaan takut mulai surut.

Sampai di rumah, aku berganti baju. Ketika baju batik itu kulepas, tiba-tiba berhamburan bunga melati dari kantong sebelah kanan.

Ingatanku ku pun kembali ke atas panggung.

“Kampret, ini pasti kelakuan, Yusni. Awas, ya!” kataku geram.

Sambil memakai kaos Lagerunal, aku nyengir kuda.

“Huh, ternyata hanya bau. Tidak ada hubungannya dengan hantu.”

 

Mendadak Cerpen

Pak D Sus

blogsusanto.com

 

#Jan05AISEIWritingChallenge

#Lagerunal

#SelasaBerbagi

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

10 thoughts on “Bau Melati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *