Penerapan Disiplin Positif kepada Anak, Ini 5 Posisi Kontrol Guru (Pendidik)

Sumber: AISEI

Kata disiplin pasti tidak asing lagi di telinga kita masing-masing. Disiplin selalu berkonotasi dengan kepatuhan. Orang yang patuh diatakan sebagai orang yang disiplin dan sebaliknya. Oleh karena itu, kadang kata disiplin dihubungkan dengan ketidaknyamanan bukan dengan sesuatu yang seharusnya kita lakukan.

Seperti sekarang ini. Disiplin memakai masker, misalnya. Sebagian orang memakai masker karena ada operasi yustisi atau karena aturan protokol kesehatan yang diberlakukan. Sebagian lagi memakai masker karena ia sadar bahwa ia harus melakukan. Demi dirinya bahkan demi orang lain agar selalu terjaga kesehatannya. Terhindar dari kemunginan terkena virus korona. Virus yang telah “memorakporandakan” tatanan kehidupan kita sepuluh bulan terakhir.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Apa sih motivasi seseorang melakukan sesuatu? Inilah kajian inspiaction AISEI yang dapat Anda ikuti siaran tundanya atau tonton secara tuntas acara yang dipandu Mba Dita pada kanal youtube AISEI pada kahir tulisan ini.

Motivasi Perilaku Manusia

Menurut Mbak Andri Nurcahyani, Kepala SMP SMA Sekolah Bogor Raya yang menjadi speaker pada acara tersebut, ada tiga hal yang mendorong seseorang melakukan sesuatu.

Hal pertama yang mendorong seseorang melakukan sesuatu adalah untuk menghindari hukuman. Apa yang terjadi apabila saya tidak melakukannya? Itu pertanyaan yang keluar dari benak orang tipe pertama ini.

Contoh mudah misalnya Anda diasumsikan bekerja di sebuah kantor lalu ditanya: Apa alasan Anda datang ke kantor tepat waktu?

Orang tipe pertama ini akan menjawab misalnya: takut dipotong gaji, khawatir Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaannya nilainya kecil, dan alasan-alasan sejenis. Mereka khawatir sesuatu akan terjadi jika ia tidak melakukannya.

Hal kedua yang mendorong seseorang melakukan sesuatu adalah untuk mendapatkan imbalan dari orang lain. Pertanyaan yang muncul untuk orang tipe kedua ini adalah: Apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya?

Misalnya ia diberi pertanyaan seperti pertanyaan pada tipe pertama dan institusinya memberikan hadiah atau penghargaan kepada pegawai yang disiplin. Maka kedatangannya tepat waktu akan membantunya memperoleh predikat sebagai pegawai teladan atau hadiah lainnya. Dalam konteks pendidikan di sekolah, misalnya guru memberikan stiker, tanda bintang, pujian, dan sebagainya.

Hal ketiga yang mendorong seseorang melakukan sesuatu adalah untuk menghargai diri sendiri. Pertanyaan yang muncul pada orang dengan perilaku tipe ketiga ini adalah: Saya akan menjadi orang seperti apa apabila saya melakukannya.

Berbeda dengan dua tipe sebelumnya. Orang berperilaku dengan motivasi tipe ketiga ini bukan karena motivasi dari luar (hukuman atau hadiah) melainkan karena dorongan dari dalam. Ia disiplin masuk kantor tepat waktu karena memang sudah seharusnya. Dengan datang tepat waktu berarti ia pribadi yang taat terhadap aturan, dapat melakukan banyak hal, atau menjadi pribadi yang bisa menjadi teladan bagi orang lain.

Jika ada reward dari institusi, itu adalah bentuk apresiasi terhadap apa yang dilakukan tetapi bukan motivasinya berdisiplin.

Disiplin dan Disiplin Positif

Kata disiplin dalam kamus berarti ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dan sebagainya). Dalam wikipedia disebutkan bahwa disiplin adalah setiap pelatihan yang dimaksudkan untuk menghasilkan karakter atau pola perilaku tertentu. Disiplin lazim diterapkan untuk mengatur perilaku manusia dan hewan terhadap masyarakat atau lingkungannya (https://en.wikipedia.org/wiki/Discipline). Lalu, disiplin positif itu apa?

Ahmad Susanto (2018) mengutip pendapat Hurlock (1989), menjelaskana dua jenis disiplin yaitu disiplin internal disebut sebagai disiplin yang positif dan disiplin eksternal yang disebut sebagai disiplin negatif.

Disiplin yang positif diterapkan melalui pendidikan dan bimbingan. Ini lebih menekankan pada perkembangan diri siswa yang dimulai dari diri sendiri dan mengarah pada perilaku pengendalian diri siswa itu sendiri. Disiplin negatif diterapkan melalui hukuman, siswa melakukan kedisiplinan karena unsur keterpaksaan.¹)

Berkaitan dengan motivasi perilaku yang diuraikan di atas, disiplin positif adalah disiplin yang terwujud akibat motivasi perilaku untuk menghargai diri sendiri.

Jangan “Rampok” Natural Reward yang Dimiliki Anak

Misalnya pada suatu hari anak atau siswa Anda melakukan perbuatan baik berupa berbagi mainan atau makanan kepada saudara atau temannya. Lalu, atas perbuatan baik anak tersebut, Anda sebagai orang tua atau guru memberikan hadiah. Hadiah itu misalnya berupa stiker, pujian, atau hadiah yang lain. Pernahkan Anda melakukan itu?

Jika itu dilakukan, sebenarnya Anda sudah “merampok” natural reward berbagi yang mestinya mereka dapatkan. Natural reward berbagi atau penghargaan alamiah berbagi itu apa sih sebetulnya?

Kalau kita berbagi kita akan senang melihat seseorang yang kita kasih sesuatu itu tersenyum. Kita akan merasa senang karena kita bisa membantu orang. Itulah sebenarnya reward natural yang sebaiknya tidak “dirampok” oleh orang dewasa. Sehingga motivasinya tidak dikecilkan dengan adanya reward itu.

Pemberian reward atas perilaku anak yang  secara alamiah ia lakukan karena ia senang melakukannya, dikahawatirkan berdampak buruk terhadap motivasinya dalam melakukan sesuatu tersebut. Lalu, bagaimana penerapan disiplin positif yang benar. Kelihatannya, begini tidak boleh, begitu juga tidak pas?

Penerapan Disiplin Positif dengan Lima Posisi Kontrol

Disiplin positif pada diri siswa perlu dikembangkan. Bagaimana penerapan disiplin positif? Strategi apa yang perlu dilakukan orang tua atau pendidik agar disiplin positif pada diri siswa tumbuh?

Mbak Andri, melalui tayangan video Diane Gossen, mengemukakan setidaknya ada lima posisi yang sering dipakai oleh guru, orang tua, atau pihak yang punya otoritas lebih terhadap murid, anak, atau orang-orang yang bertinteraksi dengannya.

Posisi Pertama: Punisher (Penghukum)

Pada posisi ini perbuatan guru berupa menghardik, menunjuk-nunjuk, menyindir, dan menyakiti. Hasilnya siswa akan memberontak, menyalahkan orang lain, dan berbohong. Itu dilakukan agar tidak dihukum. Siswa meletakkan guru di luar dunia berkualitas. Karena siswa benci atau tidak senang, guru seperti ini bukan seseorang yang difavoritkan.

Posisi Kedua: Guilter (Pembuat orang lain merasa bersalah) 

Pada posisi ini, intonasi guru lebih halus. Misalnya, “Aduh, kamu kok telat lagi. Kamu kan sudah bilang mau tepat waktu. Kok sekarang telat lagi, sih?”

Guru banyak berceramah dan mengeluarkan kata-kata yang mengaduk-aduk perasaan sehingga murid merasa bersalah. Hasilnya, siswa akan menyembunyikan, menyangkal, dan berbohong untuk menutupi kesalahannya. Siswa menjadi rendah diri, perasaan dirinya jelek dan sang anak akan berkata,”Maafkan, saya.” Siswa menganggap dirinya jelek dan bukan anak yang baik. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berakibat buruk.  akan bisa menggerogiti anak.

Posisi Ketiga: Buddy (Teman)

Guru mengambil posisi sebagai orang yang dekat dengan anak-anak. Ia menjalin hubungan pertemanan dengan humor dalam mempengaruhi siswa. Tutur katanya ramah, kadang bercanda, dan sok kenal sok dekat dengan anak.

Kalimat seperti: “Nancy, kamu kan anak paling cepat berlari? Besok lagi jangan terlambat, ya? Harusnya kamu baris paling depan, loh. Lakukan itu untuk saya, ya! adalah kalimat yang dilontarkan guru dengan mengambil posisi sebagai teman. Siswa bedisiplin untuk gurunya (motivasi eksternal).

Hasilnya, siswa memiliki ketergantungan dengan guru. Misalnya, ketika naik kelas. Anak-anak yang dulunya sikapnya baik, begitu naik kelas “bubar”. Hal ini terjadi karena mereka melakukan sesuatu motivasinya untuk menyenangkan. Ketika gurunya berubah ia pun berubah.

Berbahaya, bukan? Ketika guru, karena sesuatu hal harus memberi respon berupa sanksi tertentu, anak akan menganggapi: “Saya pikir Bapak/Ibu Guru itu teman saya, ternyata masih memeperlakukan saya seperti itu juga“.

Posisi Keempat: Monitor (Pemantau)

Sebelumnya, guru dan siswa sudah membuat aturan kelas. Aturan tersebut sudah disepakati, apa yang dilakukan dan konsekwensi jika tidak melakukan.

Pada posisi ini, jika siswa tidak disiplin, guru lebih santai. Ia tidak menghardik, berkata dengan intonasi datar saja, dan guru mengingatkan peraturan yang disepakati. Apa aturan kita, sih? 

Jadi, guru menghitung, mengukur, dan memberikan konsekwensi. Akibatnya, anak menyesuaikan diri bila diawasi dan ia menitiberatkan pada apa akibat atau hadiah untuk dirinya.

Posisi kelima: Manager

Pada posisi sebagai manager, guru akan bertanya tentang apa yang membuat mereka terlambat. Anak diharapkan jujur menjawab. Misalnya, saya terlambat karena semalam menonton youtube, main online game, dan sebagainya.

Terhadap jawaban murid, guru merespon dengan kata-kata, misalnya:

“Apa yang kau yakini tentang kesepakatan kelas kita bahwa anda akan menghargai waktu? Apa yang bisa kaukerjakan untuk memperbaiki kesalahan ini? Besok lagi harusnya seperti apa?”

Dalam hal ini anak dilibatkan mencari solusi dari kesalahan. Ia belajar belajar dari kesalahan. Anak diajak mencari solusi, mereka diajak “bicara” dan diarahkan pada nilai-nilai yag diyakini terutama pada kesepakatan kelas.

Hasilnya, hal itu akan menguatkan pribadi. Siswa akan meletakkan dirinya sebagai individu yang positif dalam dunia berkualitas.

Jika terlambat datang ke sekolah, ia diarahkan untuk menjadi anak yang menghargai waktu. Bukan menjadi pribadi disiplin karena takut dihukum atau ingin menyenangkan orang lain. Tidak juga berbuat karena ingin mendapat pujian, atau sekedar menyepakati aturan yang sudah dibuat.

Sebelum saya tutup, saya kutip dua paragraf pembuka pada realrestitution.com tentang Restitution in Schools sebagai berikut:

Restitution is a philosophy of discipline that is based on intrinsic motivation. It is created by
Diane Gossen and based on William Glasser’s Control theory principles. Restitution
Helps students to develop self -discipline and helps teachers to become better managers and
mentors. We learn to become the student or the teacher we want to be even in difficult
situations.

Restitution focuses on how people can creatively correct their mistakes emphasizing positive solutions. Mistakes are viewed by all as opportunities to learn and grow. We learn to make things right with people.

 

 

Bacaan lain:
¹)Bimbingan dan Konseling di Sekolah: Konsep, Teori, dan Aplikasinya, oleh Dr. Ahmad Susanto, M.Pd.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

21 thoughts on “Penerapan Disiplin Positif kepada Anak, Ini 5 Posisi Kontrol Guru (Pendidik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *