Hati-hati dengan Data Pribadi

 

“Mas tolong, ya! Jika ada postingan aku di FB jangan dihiraukan. Itu bukan aku. akun aku di-hack,” tulis seorang teman yang mengadu bahwa akun FB-nya katanya diretas orang lain.

Pada laman facebook miliknya pun ada akun baru yang juga “terika-teriak” bahwa akun dengan gambar profil foto dirinya bukan lagi miliknya.

Saya pun membalas pesannya tersebut dengan kalimat singkat: Ya. 

Namaun tidak lupa saya menanyakan apa yang sudah dilakukan orang tersebut dengan akun miliknya.

Ia pun berccerita bahwa beberapa orang saudaranya di-inbox bahwa ia meminjam uang beberapa ratus ribu hingga beberapa juta untuk bermacam alasan.

Tadinya ia tidak tahu. Jika tidak ada salah satu saudaranya yang mengingatkan untuk membayar hutang bulan depan, ia tidak tahu bahwa ia sudah berbagi akun dengan orang tidak dikenal.

Kontan saja, darahnya mendidih. Lalu saat itu juga ia mengklarifikasi bahwa jika ada orang yang mengatasnamakan dirinya meminta atau meminjam uang, itu bukan dirinya.

Selain tidak tahu caranya dan dalam keadaan kalut, ia lupa melaporkan dan memulihkan. Dia punkeluar dari akun FB-nya itu. Keesokan harinya, ia sudah tidak bisa masuk (login) kembali. Pada saat itulah ia baru tersadar bahwa akunnya sudah diretas orang.

Ia pun menangis. Apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Ia pun hanya bisa mengutuk dan menyesal. Tidak bisa berbuat apa-apa, selain gencar memberi tahu agar tidak meng-add orang dengan gambar profil dirinya itu.

Mengapa Akun FB Teman Saya Diretas?

Melalui telepon, saya bertanya. Apakah kata sandinya diketahui oleh orang lain? Beberapa orang menuliskan kata sandi pada catatan kecil dan menyelipkan di antara punggung HP dengan selimutnya. Ia menjawab, tidak. 

Saya pun menanyakan lagi apakah kata sandinya mudah ditebak. Kata sandi yang mudah ditebak misalnya NIP, tanggal lahir, nama anak sulung, makanan kesukaan, dan lain-lain. Ia pun menjawab bahwa kata sandinya cukup rumit. 

Ketika ditanya apakah gawai pernah hilang atau dipakai orang tanpa ketahuan, atau lapotopnya dipinjam orang lain? Ia pun mengatakan tidak.

Saya pun bertanya kembali. Apakah pernah membuka laman FB di warung intenet (padahal warnet kan sudah jarang tetapi bukan tidak ada lagi). lagi-lagi ia menjawab tidak. 

Terakhir saya bertanya. Apakah Ibu pernah buka aplikasi yang seolah-olah ditawarkan oleh facebook seperti: Ingin tahu siapa yang kepoin profil kamu? Yuk kita lihat caranya di sini. Lalu Ibu pergi ke sana lalu diminta masuk dengan mengetik nama pengguna dan password?

Teman saya itu pun menjawab pernah. 

Saya menduga si Ibu, teman saya itu, boleh jadi, teman saya adalah korban phising. Phising adalah taktik berpura-pura menjadi orang lain untuk mengelabui korban agar menyerahkan data pribadi.  Sebenarnya ini merupakan teknik lama yang marak digunakan pelaku serangan siber.

Jadi, jangan pernah memberikan detail login akun media sosial Anda kepada siapa pun. mari kita jaga privasi kita masing-masing. Salam literasi gital sehat.

#Jan11AISEIWritingChallenge

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

2 thoughts on “Hati-hati dengan Data Pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *