Surat Cinta Tya

#Pentigraf

Selesai pembelajaran jarak jauh, Tya menutup laptopnya. Capek juga ternyata. Beda dengan mengajar tatap muka. Capeknya terobati dengan bercengkerama, Tya bergumam dalam hati. Seperti biasa, setelah laptop, giliran gawai yang jadi mainan. Satu demi satu grup diperiksa, satu demi satu pesan dibacanya. Ada yang baru puluhan, ada yang sudah ratusan. Tiba-tiba ia tertegun pada sebuah gambar dengan ucapan selamat pagi dan sapaan kepada anggota grup. Pikirannya menerawang puluhan tahun lalu. Selembar kertas dengan lipatan khas. Bandung dulu sebelum Jakarta, senyum dulu sebelum dibaca, pantun tulisan tangan itu. Seketika beberapa wajah melintas, termasuk wajah temannya sekelas. Wajah yang tidak asing. Wajah yang kadang tersenyum manis, kadang sinis. Tidak jarang senyum menggoda berubah garang, karena anak gadisnya jam lima sore belum pulang. Teman itu, suaminya.

Sambil memandang gambar surat di HP, Tya menyobek buku tulis, mengambilnya selembar. Sambil tersenyum ia lipat-lipat lembaran itu. Angannya berkelana ke masa lalu. Uf… ternyata kelihatan sederhana, lipatan itu rumit juga. Sambil sesekali mengetik pesan di grup, ia bongkar pasang lipatan hingga mirip dengan gambar di layar. Bibirnya yang merah tersenyum. Lucu, katanya dalam hati. Senyum dikulum makin mengembang. Tya telanjur jujur kepada seluruh teman. Ia adalah pelaku sejarah, cinta monyet yang berubah menjadi cinta beneran.

“Mamah!” Suara Ai, putri sulung Tya mengagetkannya. Tya pun buru-buru melempar lipatan kertas itu. Ai penasaran dan menanyakan kertas apa yang dilipat mamanya. Tya adalah ibu moderen. Ia pun berterus terang kepada anaknya bahwa itu lipatan itu bentuk surat cinta masa dulu. Jauh sebelum anak-anak kenal dengan jajan pulsa. Bahkan Tya bercerita bahwa Papa Ai adalah temannya sewaktu SMP. Mendengar penuturan mamahnya, wajah Ai berbinar-binar. Anak gadis yang beranjak dewasa, siswa kelas dua SMP itu, lantas komentar. Ketika mamahnya menceritakan sewaktu SMP terima surat cinta, Ai pun tidak ragu bercerita. Ai sudah membalas cinta Iyan, teman seberang kelasnya, yang disampaikan melalui instagram. “Ai,  teteh sudah pacaran?” tanya Tya dengan dahi berkerut.

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

15 thoughts on “Surat Cinta Tya

  • 19/01/2021 at 11:01
    Permalink

    Berasa kembali ke masa lalu saat dapat surat berbunyi “empat kali empat enam belas, sempat tidak sempat harus dibalas”

    Reply
  • 17/01/2021 at 10:19
    Permalink

    Pentigraf yg paling aku suka. Makasih pa D. Ditunggu karya-karyanya.
    Boleh deh ntar curhat lagi..he..he…

    Reply
  • 16/01/2021 at 13:29
    Permalink

    Halo Bang, salam kenal. Dari kebumen ya Bang? Salam kenal. Salam blogger dari blogger Kebumen juga.

    Reply
  • 15/01/2021 at 15:49
    Permalink

    Pelsku sejarah ya pak D. Kalo aku gak berani kasih surat. Cukup hanya dengan memandangnya.

    Reply
  • 15/01/2021 at 13:45
    Permalink

    Terbawa dalam lantunan kata yang mengalir menjadi sebuah cerita

    Reply
  • 15/01/2021 at 13:41
    Permalink

    Membacanya saya ikut tersenyum. Ingat masa lalu. Cuma bedanya orang tua saya galak. Jadi surat cinta monyet hanya menumpuk tak di balas

    Reply
  • 15/01/2021 at 13:40
    Permalink

    Luar biasa… Master Susanto tulisannya. Perasaan ibu menerawang nun jauh di sana waktu sekolah smp. Suka kiriman surat menyurat lucu juga hi…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *