Swasunting Sebelum Naskah Dipublikasikan

Swasunting Sebelum Naskah Dipublikasikan
Ilustrasi menyunting: pexels-burst-374720

 

Swasunting, apa sih artinya? Kata “menyunting” oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia disamakan dengan mengedit. Menyunting adalah menyiapkan naskah siap cetak atau siap terbit. Menyunting memerhatikan sistematika penyajian, isi, dan bahasa. Hal-hal yang menyangkut bahasa misalnya: ejaan, diksi, dan struktur kalimat.

Swa, adalah bentuk terikat yang berarti sendiri. Gabungan bentuk terikat swa- dengan kata kerja sunting dapat diartikan sebagai menyiapkan sendiri naskah yang siap cetak atau siap diterbitkan. Swasunting dilakukan sendiri oleh si penulis.

Fungsi Swasunting

Menulis adalah kegiatan bahasa produktif dalam bentuk tulisan. Maksud atau pesan penulis tersurat atau tersirat pada rangkaian kata dan kalimat. Jadi, bahasa sebagai alat penyampai pesan tidak bisa dipisahkan dari tulisan. Tulisan yang baik akan menyampaikan pesan dengan jelas dan sebaliknya. Dengan demikian swasunting berfungsi untuk meneliti apakah pesan yang hendak disampaikan melalui bahasa tulis akan akan tersampaikan dengan baik.

Papan ketik (keyboard) laptop atau komputer sangat sensitif. Sentuhan sedikit saja akan meninggalkan “bekas” karakter tertentu. Kurang huruf atau kelebihan karakter acapkali terjadi. Dengan melakukan penyuntingan, penulis memastikan bahwa kesalahan pengetikan tidak terjadi.

Menyunting berarti memperbaiki kata, kalimat, dan karakter-karakter tertentu yang mendukung tulisan. Oleh karena itu, menyunting berarti menyempurnakan tulisan. Dengan melakukan penyuntingan sendiri, penulis telah sampai pada tahap penyepurnaan tulisan.

Apa Saja yang Disunting?

Tulisan yang diajukan kepada  perusahaan penerbitan, akan diperiksa oleh tenaga khusus yang bertugas menyunting naskah. Bagaimana halnya jika mau menerbitkan tulisan di blog? Atau menerbitkan buku pada penerbit indi tanpa tambahan biaya editing? Tentu swasunting merupakan keharusan.

Berikut adalah hal-hal yang perlu disunting sebelum tulisan dipublikasikan.

1. Panjang Kalimat

Pernahkah Anda membaca tulisan pada suatu blog, paragraf yang terdiri dari beberapa baris hanya memiliki satu tanda titik? Artinya, paragraf tersebut hanya terdiri dari satu kalimat, bukan? Betapa kalimat itu panjang sekali.

Paragraf boleh saja terdiri dari satu kalimat. Namun kalimat yang baik seyogyanya tidak lebih dari 20 kata. Jika dalam suatu paragraf hanya terdiri dari satu titik (satu kalimat) ugas penyunting adalah “memecahnya” menjadi beberapa kalimat tunggal atau kalimat majemuk yang tidak panjang.

 

2. Imbuhan di-, Kata Depan di, dan Partikel (-lah, -tah, -kah, pun)

Selanjutnya adalah memeriksa penggunaan imbuhan di- dan kata depan di. Jika kata “di” diikuti kata kerja, maka ia berfungsi sebagai imbuhan. Penulisannya dirangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata berimbuhan di- selalu memiliki pasangan kata yang berimbuhan me-. Kalimat yang mengandung predikat berimbuhan di- bisa diubah susunannya menjadi kalimat aktif. Kata kerja berimbuhan di- akan berubah menjadi kata kerja berimbuhan me-.

  • Pipiku dicium ibu.
  • Ibu mencium pipiku.

Lain halnya jika kata “di” diikuti kata benda. Kata “di” berfungsi sebagai kata depan. Penulisannya terpisah dari kata yang mengikutinya.

  • Bajunya disimpan di lemari.
  • Mereka dirawat di rumah sakit.

Demikian pula penggunaan partikel penegas -lah, -tah, -kah, dan pun. Partikel -lah, -tah, -kah, berdiri sebagai klitik atau bentuk yang terikat. Dengan demikian penulisannya dirangkai dengan kata yang diikutinya.

  • Terimalah persembahanku.
  • Apatah dayaku.
  • Diakah wanita idamanmu?

Partikel pun perlu diperhatikan. Jika ia merujuk pada kata juga maka ditulis terpisah.

  • Walau sekali pun, aku tidak pernah bermain hati.
  • Ada pun, aku tidak sudi berbagi perasaan denganmu.
  • Mau pun, aku tetap tidak bisa melupakanmu.

Pun tidak dapat berdiri bebas dalam kata hubung atau konjungsi. Ia terikat dan ditulis serangkai pada kata adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun.

Seperti belajar teori bahasa lagi ya, pembaca?

 

3. Pemakaian Tanda Baca

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia versi daring tersedia. Silakan klik di https://puebi.readthedocs.io/en/latest/. Di sana, aturan penulisan tanda baca dijelaskan dengan detail.

Tampilan PUEBI Daring

Oleh karena itu, jangan sampai mengetik tanda koma terpisah (diberi spasi) dari kata yang diikutinya. Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru sebagai penanda akhir kalimat juga tidak boleh dipisah pengetikannya dari kata yang diikutinya. Demikian juga tanda petik, tidak boleh diketik pisah dengan kutipan kalimat percakapan. Penulis dalam melakukan swasunting harus cermat dalam hal ini.

 

4. Kalimat Efektif

H. Dalman dalam Kreatif Menulis (2016) seperti dikutip kompas.com berpendapat, kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki potensi untuk menyampaikan pesan, ide, gagasan, atau informasi secara utuh, jelas dan tepat sehingga pembaca dapat memahami maksud yang diungkapkan penulis.

Kalimat efketif itu hemat dalam pengunaan kata-kata. Hal ini berkaitan dengan nomor satu di atas. Maksud hati ingin menyampaikan pesan sebanyak-banyaknya namun lupa bahwa kalimat yang dibuat menjadi sangat panjang.

Kalimat efektif hanya menggunakan kata-kata yang diperlukan. Oleh karena itu, penggunaan kata-kata yang mubazir mutlak dihindari. Kalimat efektif pun harus mematuhi kaidah struktur bahasa dan mencerminkan cara berpikir yang masuk akal (logis).

 

5. Hindari kalimat yang Memuji Diri Sendiri atau Menunjukkan “Kesokpintaran”

Jeff Chapman yang dikutip pelitaku.sabda.org, mengatakan agar penulis menenggelamkan kesokpintarannya. Jika ada tulisan yang kesannya “sok pintar”, Anda harus menyingkirkannya. Kalimat misalnya:

  • Sebagai guru hebat saya harus menyiapkan segala sesuatunya sebelum pembelajaran dalam jaringan saya lakukan. 
  • Saya bertugas sebagai moderator andal sejak menggantikan Ibu X yang karena sesuatu hal berhalangan hadir. 

Kata-kata “hebat dan andal” dalam kalimat itu, harus dibuang.

6. Baca dengan Keras Tulisan yang Sudah Disunting

Membaca keras bukan berarti membaca nyaring seperti pembaca berita di televisi. Cukup Anda sendiri yang mendengarnya. Dari kalimat yang “dibunyikan” akan terasa apakah masih terdapat kejanggalan, terutama pada penggunaan kata-kata khusus pada bidang tertentu. Hal ini penting dilakukan karena pembaca pada saatnya pun akan merasakan hal yang sama jika terdapat kejanggalan. Perbaiki frasa dan kata-kata yang janggal yang ditemukan.

7. Tata Letak (Layout)

Setelah nomor 1 hingga 6 sudah dilakukan, selanjutnya adalah memerhatikan tata letak. Lihatlah jarak antarkata juga jarak antarbaris. Posisi gambar/ilustrasi juga perlu diperhatikan.

Swasunting Sebelum Naskah Dipublikasin

Para mentor kegiatan menulis, sering memberi nasihat: banyak membaca untuk memperkaya paparan, lalu menulislah, dan terus menulis sesuai kerangka yang sudah ditetapkan, setelah selesai barulah Anda menyunting. Oleh karena itu, jangan menengok ke “atas” untuk mengulang tulisan yang baru diketik. Jika itu dilakukan, alih-alih tulisan segera selesai, yang terjadi malah sebaliknya.

Oleh karena itu, lakukan proses penyuntingan naskah sebagai kegiatan akhir menulis sebelum tulisan dipublikasikan. Tulisan yang baik mencerminkan penghormatan yang baik terhadap bahasa. Oleh karena itu, jangan terburu-buru memublikasikan tulisan ke dalam blog begitu Anda selesai menulis. Demikian pula jangan terburu-buru mengirimkan tulisan kepada penerbit indi tanpa tambahan biaya penyuntingan. Penerbit indi akan menerbitkan naskah Anda seperti apa adanya. Selamat menyunting!

 

Belajar terus, terus belajar.

 

Susanto

Pendidik, Ayah 4 Orang Anak, Blogger, Penikmat Musik Keroncong.

31 thoughts on “Swasunting Sebelum Naskah Dipublikasikan

  • 22/01/2021 at 13:30
    Permalink

    Mantabb pak..tulisannya mengandung banyak ilmu..disana..jadi sambil berliterasi dan bisa juga untuk menimba ilmu..

    Reply
  • 19/01/2021 at 12:48
    Permalink

    Luar biasa terima kasih Pak D SUSANTO artikelnya sgt bermanfaat . Terima kasih

    Reply
    • 19/01/2021 at 12:53
      Permalink

      Ya, Cak Nin. Beberapa kali diminta teman ngoreksi tulisan, eh jadi tulisan.

      Reply
  • 19/01/2021 at 03:54
    Permalink

    Terima kasih ilmunya,,,sering gak sabar segera publikasikan tulisan,,setelah di baca baca lagi ternyata masih banyak salah,,salah tanda baca,kurang hurup,kalimat yang kepanjangan,,dan lain lain.

    Reply
  • 18/01/2021 at 21:58
    Permalink

    Terima kasih Pak D utk sharing ilmunya

    Reply
  • 18/01/2021 at 21:47
    Permalink

    Nah .. ini yg baru dapat pencerahannya .. salah satunya penulisan kata pun .. kapan dipisah dan kapan digabung sering AQ bingung … Terimakasih pak atas ilmunya

    Reply
  • 18/01/2021 at 18:13
    Permalink

    Terima kasih ilmunya Pak jadi tau

    Reply
  • 18/01/2021 at 17:57
    Permalink

    Sangat bermanfaat ilmunya pak D, saya biasanya nulis hanya pakai feeling ha ha makanya banyak thypo

    Reply
  • 18/01/2021 at 16:27
    Permalink

    Kalau sudah terkait tata bahasa, ampun pak..makanya lebih milih jadi blogger..bebas haha

    Reply
    • 18/01/2021 at 17:00
      Permalink

      Benar sih, cuman kalau banyak typo,pembaca jadi sebel hehehehe.

      Reply
  • 18/01/2021 at 15:00
    Permalink

    Saya kadangkala sering mengabaikan penggunaan kalimat yang benar. Karena saking asiknya menulis, dlm penulisan tidak mengikuti kaidah yg sebenarnya dan seharusnya. Hihihi…
    Terimakadih atas Ilmu yg bermanfaat ini Pak D

    Reply
    • 18/01/2021 at 16:24
      Permalink

      Mestinya nulis aja terus. hanya sebelum posting agar kesalahan minimal.

      Reply
  • 18/01/2021 at 09:53
    Permalink

    Karakter tulisan Pak D selalu enak dibaca, runtut, bernas dan informatif. Keren sekali layak jadi Master Bahasa

    Reply
    • 18/01/2021 at 10:07
      Permalink

      Wah, Mister BJ berlebihan. Pokok e belajar terus, terus belajar.

      Reply
  • 18/01/2021 at 08:32
    Permalink

    Keren… Master Susanto, perasaan ibu seperti sedang mendengarkan dosen .Lagi memaparkan materi perkuliahan Bahasa Indonesia. Luar biasa…

    Reply
    • 18/01/2021 at 08:43
      Permalink

      Untuk saya praktekkan sendir, Bu. Hehehe. Ibu ikutan, ya!

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *